Terapkan Ilmu Nabi Yusuf, Prabowo-Sandi Cukup 3 Tahun Pulihkan Ekonomi Indonesia


[PORTAL-ISLAM.ID] SURABAYA - Calon wakil presiden (Cawapres) nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno yakin jika diberi mandat rakyat untuk memimpin Indonesia dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019 bakal bisa memulihkan kondisi ekonomi bangsa Indonesia hanya dalam waktu 3 tahun.

“Kalau Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun untuk mengatasi krisis. Insya Allah, saya bersama Pak Prabowo cukup 3 tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” ujar Sandiaga Uno di sela kegiatan Dialog Pelaku Ekonomi dan Enterpreneur Jatim di RM Agis Surabaya, Selasa (4/12/2018) malam.

Lebih jauh mantan Ketum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) itu menjelaskan bahwa untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia, pihaknya akan mengadopsi ilmu yang pernah diterapkan Nabi Yusuf. Caranya dengan berhemat atau mengencangkan ikat pinggang, lalu membatasi impor yang tidak signifikan, dan pembangunan infrastruktur yang lebih terprogram dengan mengedepankan pelibatan dunia usaha melalui public privat partnership (PPP).

“Saya optimis berdasarkan hitungan-hitungan, setelah 3 tahun berhemat, negara akan memiliki fiskal space yang bisa digunakan untuk pembangunan 3 tahun berikutnya dan dunia usaha juga memiliki investasi yang cukup. Kemudian bersinergi untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” tegas Sandi.

Selain itu, pemerintah juga melakukan reformasi pajak dengan cara menurunkan pajak, membebaskan UMKM bebas pajak selama 2 tahun pertama dan menutup kebocoran uang negara. Bahkan ketika ekonomi mulai tumbuh pajak tidak dinaikkan tapi basis wajib banyak yang dikembangkan sehingga penerimaan negara dari pajak bisa meningkat.

“Sekarang ini basis pajak tak berkembang sehingga pengusaha yang sudah baik membayar tax amnesty pajak terus dikejar-kejar untuk menaikkan target pendapatan negara. Bahkan banyak pelaku UMKM yang mengadu karena dikejar-kejar pajak,” ungkap pria yang memiliki latar belakang pengusaha ini.

Persoalan hutang baik oleh negara, BUMN maupun swasta, lanjut Sandi juga perlu mendapat perhatian yang serius. Sebab hutang Indonesia sudah pada level yang berbahaya karena jika terjadi turbulensi ekonomi, negara bisa mengalami kesulitan membayar hutang dan mudah diintervensi oleh pihak-pihak pemberi hutang.

“Makanya kita harus menghentikan hutang luar negeri dan melakukan renegosiasi pembayaran hutang dengan win-win solution yang tak memberatkan. Saya yakin dalam waktu 5 tahun kita bisa lunasi hutang Indonesia,” kata Sandi dengan penuh optimis.

Perlu Referendum Ekonomi

Ia juga mengkritik pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintahan saat ini tanpa melihat kemampuan keuangan negara. Akibatnya, untuk menutup biaya infrastruktur negara harus menumpuk hutang.

“Kalau penerimaan tetap dan pengeluaran tinggi, maka akan terjadi defisit dan untuk menutupnya pasti hutang bahkan menjual aset negara. Makanya kita harus ubah mindset dalam mengelola negara ini,” tegasnya.

Dari sisi neraca impor dan ekspor, kata Sandi, Indonesia juga mengalami defisit karena pola pikir pemerintah saat ini mengedepankan kalau bisa impor kenapa harus produksi sendiri, sehingga barang impor membanjiri dalam negeri hingga pelaku UMKM kalah bersaing di negeri sendiri dan mengancam kemandirian pangan nasional.

“Kita sedih negeri kita subur tapi impor pangan, laut kita luas tapi import ikan bahkan garis pantai terpanjang nomor 3 dunia tapi kita import garam. Kran impor dibuka lebar-lebar itu hanya menguntungkan para mafia import. Kalau diberi amanah memimpin, kami akan hadir untuk wujudkan swasembada pangan dan energi serta mengubah maidset tak butuh 9 naga penguasa,” tegasnya disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

Khusus untuk pelaku UMKM, Sandi juga akan mendorong supaya bangkit menjadi pengusaha besar dengan memberikan bimbingan (pelatihan), pendampingan dan kemudahan mengakses permodalan. Alasannya, UMKM dan Koperasi adalah perwujudan ekonomi kerakyatan yang diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945 sehingga pemerintah wajib untuk mewujudkannya.

“Pemerintah akan proaktif mendorong berkembangnya UMKM yang bergerak di sektor produksi, menfasilitasi hingga memberikan insentif pada industri berbasis ekspor, industri subtitusi impor dan industri padat karya. Inilah yang kami namankan Referendum Ekonomi sebab Prabowo-Sandi pemerintahannya akan fokus pada bidang ekonomi,” tegas mantan Wagub DKI Jakarta ini.

Sebelum mengakhiri dialog, Sandi juga sempat membagikan tips kepada pelaku UMKM supaya bisa survive yakni terus melakukan inovasi, berani mengambil resiko dan proaktif atau jemput bola ke konsumen serta  pasar. “UMKM harus bisa mengakses pasar, memiliki SDM handal dan akases permodalan, itulah kunci supaya bisa sukses jadi pengusaha,” imbuhnya.

Ia juga semakin optimis karena saat menyapa langsung  masyarakat selama 3 bulan berjalan dengan 800 titik di seluruh Indonesia mendapat sambutan yang positif bahkan luar biasa khususnya dari emak-emak. Apalagi pemilih dari generasi millenial jumlahnya cukup banyak memiliki tipikal jauh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

“Generasi millenial itu maunya pemerintah yang otentik tak suka pencitraan dan suka apa adanya bukan ada apanya. Masih ada 139 hari, silahkan berpikir. Kalau mau perubahan di Indonesia maka Prabowo-Sandi jawabannya. Saya yakin akan ada perubahan pada 14 April 2019. Takbir, Allahumma Sholli Ala Muhammad,” pungkas Sandiaga Uno. (Duta)