Merobek Wajah Raja Jokowi


[PORTAL-ISLAM.ID]  Banteng dan timses Jokowi kerja keras. Mereka sedang menyapu bersih poster bergambar wajah RAJA JOKOWI yang menyebar di seantero Jawa Tengah. Konon jumlahnya ada 85 ribu poster. Full color dan banyak yamgg berupa stiker gede, karena bisa melekat di kaca-kaca angkot.

Jelas itu adalah sebuah strategi matang, awalnya.
Sebuah kampanye massive dan berbiaya tinggi.
Bayangkan, ongkos nyetak, biaya distribusi, dan ngamplopi orang-orang yang mau propertinya ditempeli stiker, sudah habis berapa..? Tak main main. DELAPAN PULUH LIMA RIBU poster!

Tiap hari poster berisi CLOSE UP wajah Raja Jawa itu beredar. Muka Jokowi lalu lalang jadi Raja Jalanan, Raja Terminal, Raja di tikungan-tikungan jalan, di mana-mana. Itu usaha kampanye dan pencitraan yg luaaar biasaa!

Tapi belakangan Tim Kampanye Nasional Jokowi menyadari, bahwa simbol Raja itu salah. RAJA ITU TIDAK DIPILIH. Raja itu turunan, berlawanan 180 derajat dengan Demokrasi yang selama ini diagungkan pengikut Jokowi.

Dalam negara yang menganut sistem demokrasi Pancasila, menyebar poster Raja keturunan Giriroto Boyolali itu, dianggap sama dengan mengkampanyekan kekuasaan absolut dan otoriter.

Apalagi dalam bahasa rakyat jelata, Raja sering juga disebut Gusti Ratu, yakni sosok yang sangat tinggi karena semua titahnya harus dituruti. Pendeknya, di mata rakyat tradisional, perintah Raja kadang bagai kehendak Tuhan. Jelas ini pencitraan yang salah besar.

Mendapati langkahnya blunder, dan bisa menjadi negative campaign yang menyerang kubu sendiri, maka diburulah Sang Raja. Wajah yang tadinya disayang, ditempel dengan hati-hati, kini dikeletek. Mukanya disobek-sobek. Dibuang ke tempat sampah. Kasihan sekali.

Lucunya lagi, sekarang Tim Kampanye Nasional JOMA, setidaknya tim daerah, menuduh bahwa ada pihak lain yang menyebarkan poster Raja Jokowi itu. Katanya ini adalah penyesatan oleh pihak lawan untuk membunuh karakter demokratik Jokowi.

Meski tidak menyebut nama kubu PS-Sandi secara transparan, tapi tuduhan itu sangat jelas. Siapa lagi lawan JOMA di Pilpres?

Padahal logikanya, kubu PS itu ngirim Logistik ke daerah saja belum sama sekali. Orang di Badan Pemenangan Daerah teriak-teriak minta dikirim peraga.
Relawan-relawan sampai tega ungkap ketidakbecusan Badan Pemenangan Nasional di medsos, karena mereka pikir tidak diperhatikan kebutuhan logistiknya.

Padahal kenyataannya memang belum ada logistik yg bisa dikirim. Kaos masih dicetak, belum ada yang jadi.
Kaos yang beredar itu rakyat sendiri yang bikin. Spanduk masih diorder. Satu dua spanduk yg terpasang itu, simpul-simpul relawan sendiri yang cetak.

Relawan PS-Sandi dapat duit darimana? Ongkos kegiatan Emak-Emak yang gegap gempita dukung PS-Sandi itu uang dari siapa? Dari USAHA dong!
Mereka jual baju bekas, duitnya untuk bikin poster. Mereka jualan mug/ cangkir, keuntungannya untuk bikin kaos.

Mereka bikin teh celup yang kotaknya bergambar PS-Sandi, jualan gantungan kunci, gelang karet, bandana, topi, semua lebihannya untuk kampanye PS-Sandi.
Sebagian lagi keuntungan ditukar beras dan gula untuk dibagikan ke rakyat miskin dalam baksos-baksos yang diadakan simpul-simpul relawan sendiri. MANDIRI. CARI DUIT SENDIRI.

Nah, Tim PS-Sandi untuk nyetak muka Prabowo sendiri saja nunggu dana turun, kok bisa-bisanya mereka nuduh oposisi yang nyetak muka RAJA JOKOWI. Udah mustahil itu. Ini playing victim.

Heran yaa..! Fitnah kok diulang-ulang.
Tak ada kapoknya. Padahal sama sekali tak masuk logika. Mereka, kubu Petahana itu, kampanye bisa menyamar dengan mendompleng APBN, disokong duit para cukong, menumpuk semua bandar-bandar kaya disana, kok menuduh lawan yang untuk jalan saja saja DIBIAYAI OLEH RAKYAT..? Ini sama saja dengan menuduh jahat kaum jelata, yang demi membeli logistik harus tertatih-tatih dan terbata-bata.

Buruk muka, cermin dibelah. Buruk strategi kampanye mereka, kubu Prabowo dikirim muntah. Awak tak pandai menari, lantai disalahkan. Raja Jokowi tak pandai menari, rakyat Prabowo disalahkan.

Penulis: Agi Betha