Sesungguhnya Allah SWT Cemburu Ketika Larangannya Dilanggar, Lantas Siapa Tuhannya Goenawan?


[PORTAL-ISLAM.ID] Goenawan Mohamad (@gm_gm) berkata, "Tuhan yang saya percayai bukan Tuhan yang pencemburu".



Setelah membaca tulisan GM itu saya jadi berpikir. Apakah ini berarti Tuhan saya beda dengan Tuhannya GM ya?

Karena di dalam Shohih Bukhari dan Shohih Muslim, pada Kitabut Tauhid, di dalamnya terdapat bab berjudul,

قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ

"Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, 'Tidak ada seorang pun yang memiliki sifat pencemburu melebihi dari kecemburuan Allah".

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari 7/45 nomor hadits (5223), Muslim 8/101 nomor hadits (2761)

Hadits di atas adalah bukti Allah memiliki sifat tersebut. Sehingga tidak boleh kita menolak apa yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk diri-Nya.

Sebagaimana yang dituturkan oleh seorang ulama Ahlussunnah Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat tahun 1421 H/2001 M) rahimahullah: “Dalam hadits ini ada penetapan sifat cemburu bagi Allah, dan metode Ahlussunnah wal jama’ah dalam memahami hadits ini dan hadits yang lainnya, demikian pula ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allah adalah mereka menetapkan sifat Allah yang layak (sesuai dengan keagungan) bagi-Nya. Ahlussunnah mengatakan: “Sungguh Allah itu cemburu, akan tetapi kecemburuan Allah tidak sama dengan kecemburuan makhluk. Alah juga gembira, namun gembira Allah tidak sama dengan gembiranya makhuk. Allah punya sifat yang sempurna sesuai dengan (keagungan)-Nya yang tidak menyerupai sifat-sifat makhluk [Syarh Riyadhush Shalihin: 1/262].

FAIDAH HADITS

- Selayaknya seorang hamba meninggalkan maksiat karena bisa menyebabkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala.
- Allah membenci kekufuran, kesyirikan, kefasikan, dan maksiat.
- Allah memiliki sifat cemburu yang sesuai dengan keagungan-Nya.
- Hadits ini mengajarkan sifat muraqabatullah atau merasa diawasi oleh Allah dan takut akan adzab dan siksaan-Nya jika perkara yang Allah azza wa jalla larang kita langgar.

***

Adapun GM mengeluarkan pernyataan nya "Tuhan yang saya percayai bukan Tuhan yang pencemburu" itu adalah dalam rangka membela tradisi syirik sedekah laut.

Dia ingin berkata, hanya orang orang yang berpemikiran kolot lah yang menganggap nanti laut jadi disembah gara-gara sedekah laut itu. Padahal sebenarnya, menurut anggapan GM, Tuhan itu sebenarnya nggak masalah dengan hal itu. Tuhan bukan pencemburu.

Jadi GM membela tradisi syirik, dengan mengatasnamakan Tuhannya yang disebutnya bukan pencemburu

Padahal Allah SWT sangat pencemburu ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang.

Apalagi terhadap Kesyirikan yang merupakan mbah nya dosa, yang merupakan dosa paling besar yang menempati peringkat paling pertama.

Lalu, siapa tuhannya GM?

Karena Tuhannya Umat Islam tidak seperti tuhannya GM.