"Pasang Sabuk Pengaman, Indonesian Airways Akan Turbulance'"


[PORTAL-ISLAM.ID]   “Mohon pasang sabuk pengaman, pesawat akan mengalami guncangan di depan.”

“Fasten your seat belt please, we will have a turbulence ahead of us.”

Seharusnya “pilot Indonesia Airways” sudah mengumumkan kepada 265 juta penumpangnya bahwa pesawat kemungkinan akan mengalami guncangan. Kenyamanan penerbangan akan terganggu. Bahkan bisa menakutkan.

Tapi, sang pilot masih belum juga memberikan aba-aba. Seolah tak ada kejadian apa-apa. Padahal, turbulensi itu telah berlangsung konstan. Sudah banyak penumpang yang mabuk. Muntah-muntah. Ada yang bahkan mulai mengigau. Banyak yang setengah pingsan.

Dikhawatirkan, “Indenesia Airways” harus melakukan pendaratan darurat. Emergency landing. Bisa saja balik ke bandara asal, atau mendarat darurat di air (laut).

Nah, untuk pendaratan darurat, para penumpang ‘kan harus dipersiapkan. Mereka perlu memahami prosedurnya. Pilot adalah orang yang paling tinggi tanggung jawabnya untuk masalah ini. Awak kabin hanya menunggu perintah.

Mari kita lihat beberapa indikator di cockpit yang seharusnya membuat pilot bertindak untuk menenangkan penumpang. Ada puluhan indikator. Indikator yang bersingkatan BPJSK sedang mengalami kekurangan suplai sebesar 7-T. Kalau di darat, BPJSK itu adalah Badan Pelaksana Jaminan Sosial Kesehatan. Di pesawat disebut Balanced Pertaining Jamming System Knot. BPJSK juga.

Kalau di darat, BPJS defisit Rp7 Triliun. Di udara, BPJSK mengalami tekanan kabin (cabin pressure) 7-Three Lions. Di darat, BPJSK hanya punya uang tunai 154-Miliar. Di udara, BPJSK hanya punya oksigen 154 Mil-liar.

Indikator berikutnya di cockpit bersingkatan PLN. Planned Low Navigation. Di darat disebut Persahaan Listrik Negara. Sama, PLN juga. Di darat, PLN rugi kwartal III sebesar Rp18 Triliun. Di pesawat Indonesia Airways, PLN mengalami tekanan udara luar (outside pressure) sebesar 18 Three Lions. Tekanan udara luar ini sudah sangat keras terhadap PLN. Bisa menyebabkan kelumpuhan electrical system di badan pesawat. Kalau di darat, itu artinya PLN terancam bangkrut.

Kemudian Indikator HLN (Hallucination Life Neconecco, yang bisa diterjemahkan menjadi Hidup Halusinasi Nekoneko). Di darat, HLN adalah Hutang Luar Negeri. Kebetulan disingkat HLN juga. Di cockpit, digital index-nya menujukkan angka 5,000 Three Lions. Ini maksudnya, ada potensi ledakan yang berkekuatan 5-ribu Three Lions ton.

Kalau di darat disebut HLN 5,000-T. Maksudnya Hidup Halusinasi Neko-neko dengan jeratan Hutang Luar Negeri (HLN) Rp5,000 triliun. Berpotensi menimbulkan guncangan keras ekonomi. Kalau di udara, berpotensi menimbulkan “sudden engine jam” (mati mesin tiba-tiba).

Lalu ada indikator yang disebut Perfect Task of Mishaps Navigation yang biasanya disingkat “Pertamina”. Terjemahannya lebih-kurang Tugas Sempurna Navigasi Kecelakaan. Pada saat ini, indikator “Pertamina” di cockpit Indonesian Airways menunjukkan tanda bahaya. Kalau di darat, boleh dikatakan kinerja Pertamina tidak bagus. Bisa masuk kategori terancam. Pertamina di darat banyak masalah, mirip dengan kondisi “Pertamina” di pesawat. Pilotnya tak berbuat apa-apa.

Indikator berikut di cockpit adalah Plane Direction on Interim Projection, disingkat PDIP. Ini bisa diterjemahkan menjadi Proyeksi Sementara Arah Pesawat. Di dalam pesawat Indonesia Airways, indikator PDIP menununjukkan kekacauan. Arah terbang yang tak menentu. Pilot tidak tahu ke arah mana pesawat mau dibawa. PDIP-nya bermasalah.

Sebetulnya para penumpang bisa merasakan kekacauan arah terbang. Beberapa penumpang mantan pilot memperingatkan tentang bahaya kalau arah pesawat tidak jelas. Tapi, pilot tetap saja memakai PDIP yang sudah rusak itu.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa Indonesia Airways bakal mengalami turbulensi keras. Guncangan keras. Yang akan dilalui selama sisa penerbangan di tangan pilot yang ada saat ini. Tentu tak bisa dibiarkan berlanjut. Mayoritas penumpang mutlak ingin pilot diganti. Cuma, harus bersabar sampai pesawat tiba di perhentian berikutnya.

Penulis: Asyari Usman