Bohongkah Ratna Sarumpaet Bahwa Dia Berbohong?


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kemarin, ketika negeri ini masih bernestapa dengan implikasi tragis akibat gempa bumi di Donggala dan Palu, tiba-tiba muncul episentrum baru topik bahasan, yakni pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa dia telah berbohong perihal peristiwa penganiayaan yang dialaminya. Yang lebih heboh, pernyataan ini dilengkapi dengan permintaan maaf Ratna perihal perilaku bohongnya kepada Prabowo Subijanto, yang notabene merupakan calon Presiden pada Kontestasi di 2019 nanti. Peristiwa ini pun menjadi episentrum susulan bernuansa ornamentik manakala semua pihak tahu bahwa Prabowo adalah satu-satunya kandidat kontestatif buat Jokowi selaku inkumben.

Secara esensial, publik pun bertanya-tanya, dan terpolarisasi dalam dua asumsi. Pertama, benarkah Ratna Sarumpaet berbohong tentang statement awalnya bahwa dia mengalami sekuen aniaya? Atau, yang kedua, Bohongkah Ratna Sarumpaet bahwa dia mengalami gegar muka bukan karena aniaya?

Terkait hal tersebut, saya tidak hendak membahas nuansa tragis yang dialami Ratna dalam kaitannya dengan kontestasi Pilpres 2019. Saya pun  tidak menyelami kasus tersebut dalam dimensi implikatif dari statement Ratna perihal menguapnya dana Rp23 Triliun dan efek negatifnya. Secara spesifik, saya hendak mengelaborasi kasus tersebut dari dimensi karakter yang dimiliki oleh Ratna Sarumpaet.

Telaah Perilaku Berdasarkan Karakter Dasar Manusia

Secara personalitas, pada hakikatnya perilaku manusia terbagi dalam empat karakter dasar, yakni (1) Dominance/Tegas dalam berkeputusan; (2) Extroversion/Cakap berkomunikasi; (3) Patience/Sabar; (4) Conformity/Taat aturan. Selain keempat trait atau karakter tersebut, setiap manusia paling sedikit memiliki 2 karakter kombinatif di antara keempat point tersebut. Bisa jadi, seseorang memiliki karakter yang tegas dan taat aturan, persuasif dan cenderung menghindari konflik, lugas dan argumentatif, atau varian lainnya.

Secara kodrati, karakter seseorang terbentuk karena 3 hal dasar, yakni faktor genetis, lingkungan, dan dimensi kepercayaan. 85 persen karakter seseorang terbentuk ketika dia memasuki usia 11 tahun, dan 15 persen sisanya merealita seiring dengan dinamika hidup yang dialaminya.

Karakter Ratna Sarumpaet dan Decision Making Style yang Dilakukannya

Dari keempat karakter dasar manusia, dan juga kombinasi karakter di antara keempat trait tersebut, ada di manakah posisi Ratna Sarumpaet?

Saya mengajak para pembaca untuk mensaksamakan deskripsi karakter Ratna Sarumpaet (RS) berikut ini.

Secara holistik, RS adalah pribadi yang tegas, lugas, target oriented, berani ambil risiko (risk taker), tertantang untuk melakukan hal-hal yang besar, kalkulatif dalam berkeputusan, dan yakin dengan apa yang diprinsipkannya. Sekuen karakter ini mengatributkan RS sebagai pribadi yang tidak mudah lunglai, tak gampang menyerah dengan keadaan, tak gentar menghadapi konfrontasi, dan tegar hadapi pelik problema.

Kontemplasinya, ketika semua karakter itu disadari oleh RS melekat secara atributif dalam dirinya, dan publik pun mengimpresikan dirinya sebagai pribadi yang BERANI dan LUGAS BERTUTUR (satu noktah yang selevel dengan karakter JUJUR dan TAK BOHONG), mengapa pada medio usia 70 tahunan RS menggeliatkan nurani untuk BERBOHONG? Secara tematis, sulit bagi seseorang yang biasanya lugas untuk berubah menjadi pribadi yang sungkan dan enggan beragresi. Sulit juga dipahami, ketika seseorang yang awalnya tegar tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sedih penuh kelu dan rapuh. Tak bisa juga dipahami, sosok yang awalnya berani berkonflik tiba-tiba menjadi pribadi yang gemetaran dan depresif.

Ada Apa dengan Ratna (AAdR)?

Untuk meluruskan sisi belok kebingungan kita terhadap perubahan perilaku dalam diri RS, saya akan memberikan analogi sederhana bagi para pembaca.

Terminologi dalam khasanah Jawa menyatakan bahwa, "Watuk iso diobati, tapi watak ora ono obate (Batuk bisa disembuhkan tetapi karakter tidak bisa diubah). Benarkah demikian? Ternyata, dalam dimensi karakter, perilaku atau watak kita bisa diubah atau berubah. Semua itu bergantung pada keadaan dan kemauan keras dalam diri seseorang untuk berubah.

Sederhananya begini. Kalau kita terbiasa memakai jam di tangan kiri, dan kita ingin mereposisinya di tangan kanan, maka pada awalnya kita merasa canggung dan cenderung tidak nyaman. Tetapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya kita terbiasa mengenakan jam di tangan kanan. Hal itu pula yang secara analogis terjadi pada perubahan karakter seseorang.

Secara spesifik, terkait perilaku RS, apa yang menyebabkan RS berubah dari sosok yang lugas bertutur dan tak biasa berbohong, tiba-tiba mendeklarasi diri bahwa dia telah berbohong dan meminta maaf? Pemantik apa yang menyebabkan dia membutuhkan belasan hari (dari tanggal 21 Sept s.d. 3 Okt) untuk mereposisi dari sosok yang nirbohong menjadi pembohong yang meminta maaf? Berdasarkan dimensi Ilmu Kepribadian, ada satu kejadian tak terduga atau ultimate cause yang menyebabkannya.

Secara appearance, RS bukan sosok yang suka bersolek. Secara karakteristik, RS terbentuk menjadi pribadi yang memiliki critical thinking yang ultima, dan pada tahapan berikut membentuk pribadinya sebagai Aktivis yang tak lekang oleh tekanan dan goncangan.

Secara empatis, sebagai pengamat perilaku dan teman curhat buat pribadi yang berselingkuh dan barisan korban selingkuhan, saya melihat bahwa RS sedang keluar dari karakter aslinya. Dia sedang berselingkuh dan menyakiti pasangan setianya, yakni nurani dan karakter aslinya.

Kalau benar dia melakukan kebohongan, maka reputasinya sebagai seorang aktivis tulen dan penggiat sosial rontok dan runtuh secara akseleratif. Dan, kondisi ini tak berkesesuaian dengan karakteristik RS yang memiliki kalkulasi tinggi dalam berkeputusan.

Biasanya, pribadi yang mengalami dilematika seperti ini akan terus dirundung perasaan bersalah, terintimidasi dengan keputusan sendiri, cenderung mengabaikan reputasi, dan meredupkan kemilaunya rekam jejak.

Secara prediktif, berdiam dalam dilematika hidup yang tersengaja tidak akan berlama-lama durasinya. Ketika saat ini, RS mungkin sedang bermain hati dengan karakter yang bukan miliknya, akan tiba saatnya nanti dia akan berdiam hati dengan karakter aslinya.

Mungkin, seiring dengan berjalannya proses hukum yang hendak dialaminya, bukti-bukti obyektif dan kesadaran nuraniah yang dimiliki RS akan menguak apa yang sejatinya terjadi. RS mungkin akan memiliki keberanian untuk bertutur sesuai dengan karakter aslinya. Bisa jadi hal, ini terjadi pada bulan depan, awal bulan di 2019, atau beberapa pekan menjelang Kontestasi Pilpres 2019..

Upsss.. Saya telah berselingkuh tulisan dengan memasuki dimensi politik, yang sejatinya bukan domain saya. Bisa jadi, karena saya bersimpati dan berempati pada sosok RS yang sedang keluar dari domain karakter aslinya.

Perenungan Esensial

Dari case pelik bernuansa intrinsik yang dialami oleh RS, kita bisa belajar beberapa hal esensial. Pertama, sebagai pribadi yang berdiri sendiri (stand alone), seyogianya kita menghidupi prinsip jujur bertutur dan ikhlas bertindak, apa pun kondisinya. Ketika kita bisa berperilaku jujur pada diri sendiri, sekuen berikutnya baru bisa merealita, yakni jujur pada orang lain. Kedua, dalam konteks rumah tangga, seorang ibu yang jujur dalam berperilaku akan mendatangkan adorasi dan respek dari buah hati dan suami tercinta. Ketiga, sebagai seorang suami, kejujuran yang dihidupi akan mendatangkan kebanggaan dari anak-anak dan pasangan hidup. Dengan kejujurannya, sang suami telah berposisi sebagai imam yang penuh teladan. Keempat, dalam skala yang lebih luas, sebagai pemimpin perusahaan atau pemimpin negara, kejujuran menjadi niscaya utama dan acuan bagi anak buah atau lapisan komponen anak bangsa secara gradatif, sehingga kehadiran sang pemimpin dan beragam badai yang dialaminya akan tetap mendapatkan ridlo Yang Maha Kuasa yang mengalir dengan dukungan tulus dari beragam kalangan yang dipimpinnya.

Ada kalanya, kejujuran kita bisa dimanfaatkan dan justru mendatangkan ketidakjujuran respons dari orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Tetapi, point pentingnya, sikap jujur membawa kita pada jalan yang benar, dan menuju pada kebenaran yang hakiki.

Hakikatnya, kebenaran, kejujuran serta keikhlasan dalam berucap dan bertindak yang selaras dengan pikiran dan hati, kesemuanya itu akan menempatkan kita pada posisi yang ultima dalam barisan kebenaran itu sendiri.

Penulis: Alfonso de Ponco