Kekejaman RRC Terhadap Muslim Uyghur dan Kebijakan Mensekulerkan Umat Islam Indonesia


[PORTAL-ISLAM.ID]  Mari sebentar kita tujukan perhatian terhadap nasib kaum muslimin Uigur yang diperlakukan dengan sangat kejam oleh pemerintah komunis RRC. Selain perlu untuk kita ketahui, tindakan bengis Cina ini seharusnyalah membuat kita di Indonesia ini ikut prihatin dan sekaligus waspada. Waspada terhadap tujuan terselubung ekspansi ekonomi-bisnis RRC.

Mungkinkah para pejabat dan politisi di Indonesia ini tidak tahu tentang kekejaman pemerintah RRC terhadap umat Islam di negara itu? Bisa jadi tidak tahu. Tapi mungkin juga pura-pura tak tahu. Atau, tak mau tahu. Karena, barangkali, RRC banyak membawa duit ke sini. Jadi, tidak begitu penting perlakuan kejam rezim Beijing terhadap kaum muslimin yang menghuni Provinsi Xinjiang.

Ini bukan cerita hoax. Melainkan laporan resmi komisi hak asasi manusia PBB yang diterbitkan Agustus 2018. Baru saja.

Ada sekitar dua juta warga muslim Uigur dan minoritas Islam lainnya dipaksa masuk ke kamp konsentrasi politik. Semacam penjara massal. Yang dilakukan oleh penguasa adalah indoktrinasi. Begitulah penjelasan Gay McDougall yang duduk di Komite Penghapusan Diskriminasi Ras PBB (UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination).

Penduduk suku Uigur di Xinjiang ada sekitar 10 juta. Jadi, sekitar 10% dipaksa mengikuti indoktrinasi komunis.

Apa kesalahan yang dilakukan kaum muslimin Uigur? Dosa mereka hanya satu: yaitu mempraktikkan keyakinan atau iman Islam. Bagi rezim fasis Cina, agama Islam mereka kaitkan dengan gerakan subversif, separatisme, dan terorisme.

Ketika datang berkunjung ke Indonesia ini, para pejabat tinggi Cina kelihatan beraut wajah manis, tersenyum, dan tampak baik hati. Tetapi, Anda tidak tahu bagaimana bengisnya mereka terhadap kaum muslimin Uigur. Media cetak terhormat seperti New York Times, the Atlantic dan the Intercept ikut tersulut. Mereka menebitkan sejumlah artikel tentang bagaimana rezim RRC menganggap Islam.
Ternyata sangat mengerikan dan memprihatinkan. Menurut ketiga media cetak yang bereputasi itu, Cina melihat Islam senagai “mental ilness”, alias penyakit mental. Ketiga media ini menjelaskan pula tentang “merciless objective” (tujuan tanpa ampun) Beijing untuk melenyapkan agama Islam dan kaum muslimin dengan cara “ethnic cleansing” (pelenyapan etnis). Dikatakan, salah cara pelenyapan etnis itu adalah melalui penahanan massal atau kamp konsentrasi.

Cina melakukan taktik licik. Uigur adalah penduduk asli atau pribumi Xinjiang. Orang Uigur masih menyebut wilayah mereka sebagai Turkistan Timur. Berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur laut. Di sebelah kiri “wilayah otonomi” itu ada sejumlah negara yang berpenduduk mayoritas muslim.

Turkistan Timur (Xinjiang) sempat mendeklarasilan kemerdekaannya sebentar di abad ke-20. Kemudian pada 1949, dicaplok oleh Cina komunis dan terus berada di bawah kekuasaan otoriter sampai sekarang.

RRC melihat Islam sebagai ganjalan bagi atheisme yang diaponsori negara. Dan suku Uigur dinggap rintangan bagi mayoritas suku Han yang mendominasi Cina. Satu-satunya cara untuk menghilangkan hambatan itu adalah dengan melenyapkan suku Uigur secara total.

Ada berbagai kelompok di masyarakat Uigur yang bertekad untuk kembali merebut kemerdekaan. Mereka mau melepaskan diri karena persekusi dan kekejaman Cina.

Mau tahu bagaimana respon Beijing? Sangat fasis. Cina mengerahkan pemindahan massal suku Han ke wilayah itu. Kebijakan licik ini membuat populasi Uigur berubah menjadi minoritas. Sehingga, aspirasi kemerdekaan menjadi tak berkutik. Tak mungkin lagi merdeka.

RRC kemudian memanfaatkan “War on Terror” yang dilancarkan oleh Presiden George W Bush pasca serangan 11 September 2001 yang terkenal dengan 9/11 untuk memperkeras penindasan terhadap kaum muslimin Uigur. Cina “pintar”. Pasa saat negara-negara barat sibuk dengan al-Qaedah, mereka memperkejam tindakan brutal terhadap warga Uigur. Orang-orang yang tak mau mengganti agama, bahasa dan adat-istiadat mereka, langsung dilenyapkan.

 Sikap anti-Islam yang ditunjukkan banyak negara seolah menyediakan alasan kuat bagi RRC untuk menghabisi penduduk Uigur. Segala cara kotor dilakukan. Apa saja cara asalkan mereka bisa lenyap.

Mungkin karena tak bisa melakukan pembunuhan massal terhadap warga Uigur, RRC memantau ketat semua orang Islam di Xinjiang. Di tahun 2015, diberlakukan larangan berpuasa kepada para pelajar dan guru-guru Uigur. Tidak hanya di ruang publik, larangan juga berlaku di rumah. Penguasa melakukan patroli dari rumah ke rumah. Sangat kejam.

Menurut laporan Aljazeera, mengutip lembaga hak asasi Human Rights Watch, larangan berpuasa itu disertai tindakan seleksi imam dan pengusiran guru agama dari sekolah. Bahkan bahan-bahan bacaan pun disensor ketat.

Kamp atau tahanan massal bermula pada 2013. Jumlah warga Uigur yang dimasukkan ke tahanan yang disebut pusat-pusat re-edukasi, semakin banyak. Mereka yang “dididik kembali” itu antara lain dipksa memakan daging babi dan meminum alkohol. Bagi penguasa, begitulah cara mengobati “penyakit mental” yang mereka katakan itu.

Nah, panjang lagi kisah kekejaman dan kebrutalan pemerintah komunis Cina terhadap umat Islam di Xinjiang. Sangat menyeramkan dan menggeramkan.

Karena itu, ekspansi investasi dan ekonomi mereka ke Indonesia perlu diwaspadai. Apalagi ada persyaratan yang mengharuskan mereka boleh membawa tenaga kerja sendiri dalam jumlah yang tidak wajar dan tidak diperlukan.

Saya yakin kebijakan penguasa saat ini terhadap investasi RRC di sini, sangat rentan untuk disalahgunakan. Dan sangat heran sekali mengapa orang dari RRC diberi keistimewaan.

Saya pribadi tidak akan pernah percaya pada RRC. Tidak akan percaya tentang “kebaikan” mereka terhadap negara-negara yang berpenduduk muslim. Sangat curiga terhadap antusias mereka terhadap kita, Indonesia.

Saya yakin, Cina komunis akan melakukan kekejaman dan kebrutalan di mana pun juga bila suasanya memungkinkan bagi mereka.

Paling minim, mereka akan menjalankan kebijakan untuk mensekulerkan umat Islam Indonesia sebagaimana disebutkan dalam dokumen rahasia yang dibocorkan oleh Wikileaks.

Penulis: Asyari Usman