Diplomasi Kemanusiaan Erdogan dan Jalan Baru Usmani


Diplomasi Kemanusiaan Erdogan dan Jalan Baru Usmani

Oleh: Ahmad Dzakirin
(Analis Dunia Islam)

Dunia Islam membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu merangkul dan sekaligus memberikan tekanan politik kepada negara-negara major power.

Demiliterisasi Idlib tidak diragukan adalah kemenangan diplomasi Ankara. Dibalik itu, ada sosok Erdogan sosok politik yang super persisten memperjuangkan nasib 3 juta kaum Muslimin di Idlib dari ancaman krisis kemanusiaan. Kegagalan KTT di Teheran tidak menyurutkan langkah Erdogan untuk secara bilateral menemui Putin di Sochi dan menekan Rusia menerapkan zona demiliterisasi atas basis terakhir kelompok oposisi.

Erdogan memiliki banyak kartu politik sehingga kesepakatan itu dapat dicapai. Serangan gabungan rekomendasi Suriah, Rusia dan milisi Iran atas basis terakhir oposisi di Idlib dibatalkan.

Every body ia happy, kecuali Assad dan sekutunya Iran. Tapi apa boleh buat, Assad bukan siapa-siapa tanpa Rusia dan Rusia tidak ingin kehilangan Turki sebagai potensi partner strategis baru. Di sisi lain, Eropa tidak ingin ada problem baru kemanusiaan baru, terlebih bangkitnya gelombang jihadis baru.

Sukses itu karena jam terbang sang pemimpin, visi dan determinasi yang kuat. Sedikit sekali pemimpin di dunia Islam yang sukses menggabungkan tiga karakter kepemimpinan dalam satu sosok: Man of principle, man of vision dan man of action.

Namun di atas itu, Turki merupakan negara Muslim pertama yang memasukkan elemen kemanusiaan dan perlindungan dunia Islam dalam kepentingan nasionalnya. Sama seperti jalan yang ditempuh pendiri Usmani di awal kebangkitannya sehingga berkuasa lebih 600 tahun. Beylik Usman menampung puluhan ribu pengungsi Muslim di Asia Barat yang melarikan diri dari persekusi pasukan Tartar. Boleh jadi Erdogan sedang menempuh jalan Usmani untuk kebangkitannya sekali lagi.

Dunia Islam membutuhkan banyak Erdogan dan bukan seorang.***