Penentu Pemenang PILKADA, Pemberi Suara Atau Penghitung Suara?


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kisruh Pilkada serentak belum usai. Server KPU 'sengaja' dinonaktifkan secara berkala untuk mencegah serangan "hacker". Sementara setidaknya puluhan juta pasang mata memantau dengan ketat penghitungan suara. Sedikit saja ada ketidakcocokan dengan dokumen C 1 yang dipegang para saksi, habis sudah kredibilitas KPU di mata rakyat.

Hitung-hitungan di KPU menjadi perhatian banyak pihak pasalnya dari hasil hitungan final yang diproses di KPU itulah kelak diputuskan pemenang Pemilu. Maka jika KPU mengeluarkan hasil yang berbeda dengan bukti fisik dokumen C1 dan memenangkan calon tertentu yang secara secara faktual kalah berdasarkan dokumen C1 bisa diindikasikan telah terjadi kecurangan dalam Pemilu tersebut.

Apakah ini artinya KPU sebagai penghitung suara dan cara menghitungnya jauh lebih penting ketimbang rakyat yang memberikan suara? Bisa jadi.

Diktator Rusia Joseph Stalin pernah menyatakan hal ini seabad lalu. Menyitir beberapa pendapat para tokoh sebelum dirinya, Stalin menyatakan,"The people who cast the votes decide nothing, the people who count the votes decide everything" (Orang-orang yang memberikan suara tidak memutuskan apapun, orang-orang yang menghitung suara memutuskan segalanya).

Maka jika penentuan kemenangan mutlak berada di tangan KPU, sewajarnya bila rakyat kritis mempertanyakan kinerja KPU dan cara-cara penghitungan yang sangat rentan untuk dapat disalahgunakan memenangkan kelompok tertentu (baca: penguasa). [*]