Anwar Ibrahim: Erdogan Satu-satunya Suara Keberanian Menentang Kekejaman di Penjuru Dunia


[PORTAL-ISLAM.ID] ISTANBUL - Pemimpin koalisi Pakatan Harapan yang sekarang berkuasa di Malaysia, Datuk Sri Anwar Ibrahim berkunjung ke Turki bertemu Erdogan, Rabu (20/6/2018) lalu.

Anwar Ibrahim diterima Erdogan di kediamannya di Istanbul.

Selain bertemu Erdogan, Anwar juga menjadi pembicara di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) di Istanbul. Dalam kesempatan itu, Anwar Ibrahim memuji Erdoğan sebagai seorang pemimpin yang memiliki keberanian menentang kekejaman di dunia.

"Di Tunisia, Pakistan, India setiap kali saya berbicara, saya menyebutkan [Recep] Tayyip Erdoğan, [saya katakan kepada mereka] ‘lihat dia sebagai satu-satunya suara keberanian di dunia Islam'," kata Anwar.

Anwar menambahkan “Anda dapat setuju atau tidak setuju [dengan Erdoğan] secara politik; ini adalah masalah yang berbeda. Tetapi dia merupakan satu-satunya orang yang memiliki keberanian untuk berbicara menentang kekejaman yang dihadapi rakyat Palestina, bahkan Rohingya [Muslim].”

Dia mengatakan setiap negara harus mampu membuat masa depan mereka sendiri.

“Saya tidak ingin negara saya atau saya sendiri didikte oleh agenda barat atau agenda timur, bukan oleh Cina, bukan oleh Amerika, bukan oleh Inggris.”

Anwar mengatakan seharusnya orang-orang Turki yang “memutuskan masa depan Turki, bukan barat atau agenda liberal.”

Dia juga mengatakan: “Dengan segala artian, kritik presiden [Recep] Tayyip Erdoğan, dengan segala cara, mengkritik kebijakan Partai AK, semua pemerintah, semua oposisi, namun tetap konsisten.”

“Mengapa Anda bersikap lunak terhadap apa yang dilakukan Trump dengan para imigran? Mengapa Anda bersikap lunak terhadap kekejaman di negara lain?” Dia bertanya.

Anwar menceritakan saat terjadinya percobaan kudeta Turki pada tahun 2016 yang menyebabkan 251 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka, ia berada dalam penjara.

Anwar mengikuti penanganan kudeta dari seorang petugas penjara.

“Saya tidak punya TV, tidak ada radio, tidak ada surat kabar. Saya hanya shalat, membaca Al-Quran dan berdoa, berdoa dan berdoa untuk keselamatan bagi saudara-saudari dan keselamatan untuk negeri (Turki) yang hebat ini.”

Dia menambahkan: “Jika ada upaya… untuk menyabot demokrasi dan proses demokrasi, saya tidak akan berkompromi. Saya hanya bisa memimpin jika saya seorang pemimpin yang efektif. Saya hanya bisa memimpin jika kita tidak melindungi pelaku kekerasan dan pengkudeta.”

Sumber: Turkinesia