Oposisi Suriah tak Punya Pelindung Selain Turki


Penulis: Burhanettin Duran
(Kolumnis Daily Sabah, Turki)

Taruhan Terbaik Turki adalah Untuk Mengambil Keuntungan dari tensi yang Terkendali.

Serangan bersama yang dilakukan oleh AS, Perancis dan Inggris setelah rezim Suriah menggunakan senjata kimia di Douma adalah tiket bagi para pemimpin AS, Perancis dan Inggris.

Pasca serangan udara minggu lalu terhadap posisi-posisi rezim, tensi secara perlahan –dan sementara- mulai berkurang di Suriah. Para anggota pemerintahan Trump menghabiskan bagian besar dari seminggu kebelakang untuk mengurangi tensi yang dikibarkan oleh presiden A.S. Donald Trump dengan melakukan ancaman terhadap Rusia menggunakan 'smart bombs' di Twitter.

Tetap saja, bukan rahasia bahwa Washington tidak ingin serangan balasannya terhadap Bashar Assad menghasilkan konfrontasi langsung dengan Moscow. Faktanya, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengekspresikan kecemasan bahwa situasi ini bisa “meningkat tak terkendali”. Sementara itu di Russia, para pembuat kebijakan khawatir bahwa AS akan meluncurkan sebuah serangan militer yang lebih luas terhadap rezim Suriah. Patut digarisbawahi, dalam hal ini, bahwa menteri luar negeri Sergey Lavrov memperingatkan barat dari melakukan “petualangan a la Libya” di Suriah.

Setelah Jerman mengumumkan bahwa mereka tak akan mengambil bagian dalam sebuah kampanye militer melawan Assad, presiden Perancis Emmanuel Macron – lawan kuat dari rezim Suriah – menekankan pentingnya mempertahankan dialog, menekankan resiko yang diasosiasikan dengan sebuah potensi konflik panas dengan Moskow.

Meskipun tensi berkurang di Surish, AS dan sekutunya kemungkinan akan terus bekerja kearah pengepungan dan penargetan rezim Assad. Ingatlah bahwa beberapa kapal tempur AS telah dikerahkan ke Mediterania untuk menargetkan 8 posisi tambahan, tensi pun kemungkinan akan berlanjut –meski dengan level control tertentu.

Dengan kata lain, kecil kemungkinan Trump mengubah pikirannya mengenai menghukum Assad, meskipun Washington ingin memahami kecemasan-kecemasan Moscow. Selain itu, mengambil langkah mundur dihadapan ancaman Rusia akan memiliki konsekuensi yang sangat serius bagi Washington lebih dari sekedar kehilangan muka.

Kita sudah tahu bahwa para presiden AS sangat pandai menciptakan krisis dan mengurangi tensi hanya untuk kemudian kembali meningkatkannya. Tindakan-tindakannya mengenai Korea utara, Cina dan Suriah adalah kasus-kasus penting sebagai contoh. Untuk memperburuk masalah, tensi akan berkemungkinan kembali meningkat saat Trump menolak untuk menandatangani perjanjian nuklir Iran dalam waktu dekat.

Perasaan saya adalah bahwa presiden AS mengambil kebijakan yang bertujuan membuat tensi yang terkendali. Ia sepertinya berpikir bahwa mengguncang pondasi Orde Internasional dan berbagai perjanjian multilateral adalah cara terbaik untuk melindungi kepentingan Amerika. Keputusan Trump untuk menarik dari dan kembali ke Trans-Pascific-Partnership, dibarengi dengan perang dagangnya dengan Cina, pendekatan secara isu dengan Eropa dan pendekatannya pada isu Palestina, semua merefleksikan taktik ini. Lebih jelasnya, ia tidak peduli tentang biaya dari metode trial-and-error ini sepanjang pendukungnya senang.

Saya tak percaya bahwa AS, Perancis dan Inggris akan berhenti mencoba menghukum Assad terutama karena krisis saat ini adalah tiket mereka untuk kembali ke meja perundingan. Sebuah foto grup yang diambil di ibukota Turki Ankara pada awal bulan ini yang menampilkan para presiden Turki, Rusia dan Iran sebagai para pemain paling utama di Suriah, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh ibukota barat, karena ide bahwa barat tak bisa lagi memengaruhi jalannya konflik Suriah menyebar seperti api.


Faktanya, para komentator politik secara luas berargumen bahwa Barat tak bisa membatasi pengaruh Moskow di mediterania dan Timur tengah, sama seperti gagalnya mereka mengepung ekspansionisme Iran. Pada titik ini, serangan kimia di Douma, yang sepertinya diluncurkan Assad untuk memberi pelajaran pada para pemberontak di Idlib, memberikan kesempatan emas bagi AS, Inggris dan Perancis untuk memainkan peran yang lebih besar di Suriah. Jelas saja, ini akan mendukung kepentingan-kepentingan Turki jika para pemimpin barat utamanya berfokus pada nasib Assad didalam periode post-Daesh (ISIS).

Pada titik ini, oposisi Suriah tak punya pelindung selain Turki, yang dapat secara bersamaan bekerjasama dengan AS, Eropa, Rusia dan Iran.

Turki dapat mengambil keuntungan dari kebijakan tensi terkontrol Washington dalam dua cara. Pertama, Turki dapat menggelar pembicaraan yang lebih produktif dengan Amerika Serikat dan membuat kemajuan-kemajuan konkrit dalam perjuangan mereka melawan cabang organisasi teroris PKK di Suriah, yakni Partai Persatuan Demokratik (PYD), dan sayap bersenjatanya, Unit Perlindungan Rakyat (YPG). Lebih lanjut, ini dapat membangkitkan kembali proses Jenewa untuk mempromosikan transisi politik, yang akan berujung kepada pelengseran Assad dari kekuasaan. Ankara, karenanya, harus berpegang pada tindakan penyeimbangnya antara kedua sisi dari tensi di Suriah.

16-4-2018

Sumber: Daily Sabah