Kecam Serangan Brutal, Fadli Zon: Ini TAMPARAN untuk Pemerintah!


[PORTAL-ISLAM.ID]  1) Serentetan serangan trhdp tokoh keagamaan yg terjadi akhir-akhir ini terjadi mengusik perhatian saya.  Jika sebelumnya serangan dialami oleh sejumlah tokoh Islam, ulama n ustadz maka pd Minggu 11 Februari 2018, serangan kini menimpa Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta.

2) Saya mengecam aksi tsbt, sekaligus mendesak Polri mengusut tuntas aksi-aksi brutal ini, termasuk motif para pelaku.

3) Aksi penyerangan thdp jamaah dan pimpinan Misa di Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, jelas melukai kita. Sy mengecam tindakan tak beradab tsb. Tindakan itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun.

4) Tapi di sisi lain, kita hrs jeli menilai kejadian tsbt. Apalagi, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Jgn sampai kita gampang menuduh seolah aksi thdp kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya.

5) Sebab, saya mencium aroma adu domba antar kelompok di sini, baik antar kelompok yg berbeda agama, maupun antar kelompok dalam satu agama.

6) Kalau kita tarik lagi ke belakang, sebelum peristiwa kekerasan di Gereja Lidwina, kita mencatat setidaknya ada empat serangan serupa yg kebetulan menimpa pemuka kalangan Islam dari ormas yg berbeda-beda.

7) Pertama, kekerasan thdp K.H. Emron Umar Basyri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, seorang tokoh NU. Kedua, serangan thdp Ustad Prawoto, salah satu tokoh Persis (Persatuan Islam), yg akhirnya meninggal dunia.

8) Ketiga, serangan thdp seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut, oleh enam orang tak dikenal. Dan keempat, serangan thdp Ustad Abdul Basit, yg dikeroyok sejumlah orang di Jalan Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat.

9) Serangan-serangan tsb terlihat memiliki pola target yg sama. Sasarannya adlh tokoh atau kelompok keagamaan. Menariknya, sejumlah penyerang yg berhasil diidentifikasi jg memiliki identitas tuggal, yaitu diduga sbg orang gila.

10) Kejadian-kejadian tadi jadi ada polanya. Shgga, jgn heran jika ada sebagian dari kita yg menduga bhw saat ini sdg ada semacam upaya adu domba antarumat beragama di sini, apapun kepentingannya.

11) Isu agama adlh isu sensitif. Sehingga, aparat kepolisian hrs bekerja cepat dan transparan, agar tdk muncul spekulasi dan prasangka yg bisa memicu konflik di tengah masyarakat.

12) Terlebih di tahun-tahun politik spt skg. Upaya-upaya yg mengarah kepada adu domba, membentur-benturkan masyarakat, semakin banyak. Itu sebabnya pemerintah, dlm hal ini aparat keamanan, harus bisa mengantisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi.

13) Dari sisi keamanan, rentetan tindak kekerasan ini mrpkn tamparan bagi pemerintah. Ini menunjukkan pemerintah blm bisa memberikan jaminan rasa aman.

14) Padahal, ulama, santri, pendeta, dan jemaat gereja adlh warga negara yg berhak dpt jaminan keamanan dari pemerintah. Apalagi, pemerintah jg baru menyelenggarakan Musyawarah Besar Pemuka Agama dan Kerukukan Bangsa pekan lalu.

15) Kenapa tiba-tiba bisa muncul kejadian seperti ini? Ini mnjd teguran bagi kedisiplinan pemerintah, khususnya aparat keamanan.

16) Sementara, dari sisi ekonomi, pemerintah hrs segera ubah haluan pembangunan, dari semula berorientasi proyek dan mendatangkan investasi secara jor-joran mnjd lebih berorientasi pemerataan.

17) Masyarakat yg selama ini dikesankan ayem, tentrem, tiba-tiba bs berubah beringas? Benarkah ada masalah dgn toleransi, ataukah ada masalah lain yg bersifat struktural?

18) Dari data yg st pegang, ternyata tingkat ketimpangan ekonomi di Yogya saat ini mencapai angka 0,44, atau jauh di atas tingkat ketimpangan ekonomi nasional yg berada di angka 0,39.

19) Biaya hidup di Yogya dari tahun ke tahun terus naik, jauh di atas rata-rata kota besar yg ada di sekitarnya, sprt Solo n Semarang. Lonjakan harga tanah di Yogya trmsk yg tertinggi scr nasional, membuat banyak orang yg tinggal di Yogya kesulitan memiliki rumah.

20) Ini adlh problem struktural. Dan ketimpangan, seperti pengalaman historis kita, adalah jerami kering yg mudah sekali terbakar.

21) Jadi, mari kita jaga perdamaian bkn hanya dgn semangat toleransi saja, tapi jg semangat menyingkirkan problem ketidakadilan sosial dan ketidakadilan ekonomi yg ada di tengah-tengah masyarakat.

22) Menciptakan toleransi utamanya mrpkn tugas masyarakat, maka menciptakan keadilan sosial terutama adlh tugas pemerintah.

23) Sy mengajak dan menghimbau pd para pemuka agama di Indonesia untuk turut menjaga dan menenangkan masyarakat. Jgn mudah terpancing atau terjebak pd politik adu domba. Kekayaan kita yg paling berharga adlh bisa bersatu dalam kemajemukan. Kita harus menjaganya.


Sumber: Twiter Fadli Zon