Al-Aqsha, Kualitas Kekhalifahan dan Kita


[PORTAL-ISLAM.ID] Satu di antara tiga masjid yang menjadi syiar Allah di muka bumi adalah Masjid Al Aqsho yang berada di Jerusalem. Itu yang disampaikan khatib jumat kami, sebuah tema yang saya kira menjadi tema di lebih dari separuh Jumatan di dunia kemarin.

Sebelum menjalankan perintah Tuhan untuk berjalan (safar) ke seluruh penjuru bumi, seorang Muslim diperintahkan untuk mengunjungi Haramain (Makkah dan Madinah) dan Yerusalem terlebih dulu. Shalat di Masjidil Aqsha Yerusalem sendiri memiliki keutamaan 500 kali sholat di tempat lain.

Keutamaan dan fungsi syiar inilah yang membuat para sahabat, tabiin, hingga ulama berbondong-bondong mengunjungi tempat yang terlebih dahulu dikunjungi kanjeng Nabi Muhammad SAW tersebut. Tercatat sejak sahabat Yazid ibn Abu Sufyan menjadi gubernur pertama Palestina, ulama-ulama seperti Sufyan Ats Tsauri, Imam Syafii hingga Imam Al Ghazali pernah menebar ilmunya di sana.

Pembebasan kota tersebut berlangsung dengan sangat sederhana. Usai sahabat Abu Ubaidah ibn Al Jarrah memimpin pengepungan Yerusalem setelah mengambil alih Damaskus, Patriark kota Yerusalem saat itu, Sophronius dengan tegas mengatakan, ia hanya ingin bernegosiasi dengan Khalifah Umar. Tidak ada yang boleh masuk Yerusalem siapa pun sebelum ia bertemu Khalifah Umar.

Mengetahui hal ini, Khalifah Umar pun pergi ke Yerusalem ditemani oleh seorang asisten. Menempuh perjalanan ke Yerusalem, Umar mengendarai satu unta. Secara bergantian, ia dan asistennya naik unta tersebut.

Saat hendak mencapai Yerusalem, Umar berjalan kaki karena saat itu giliran sang asisten naik unta. Sang pelayan khalifah ini pun memaksa Umar saja yang naik unta. Dengan tegas Umar menolak.

Kontan saja Sophronius tercengang melihat kesederhanaan pemimpin umat Muslim saat itu. Iapun kemudian menyatakan jika seperti itu kualitas khalifahnya, akan butuh waktu lama untuk merebut kembali Yerusalem.

Belum ada 100 tahun sejak Zionis mendirikan Negaranya (14 Mei 1948) dengan cara yang keji. Belum seabad pula sejarah mencatat Mufti Pertama Palestina menjadi motor penggerak dukungan negara-negara-negara Arab demi sebuah negara multikultural baru bernama Indonesia. Selama itu pula dunia menyaksikan penindasan yang amat jauh dari standar kualitas Umar dan bahkan Sholahudin Al Ayyubi (yang mendapat pengakuan Barat seperti dalam film Kingdom of Heaven).

Kali ini, perbuatan biadab serupa kelakuan Zionis kembali dipertontonkan oleh Presiden paling temperamental dari sebuah negara adidaya, apapun motivasinya. Dengan kualitas kepemimpinan seperti itu, bukan tidak mungkin apa yang disebut para ulama sebagai Malhamah Alkubro (Perang Terbesar Akhir Zaman) akan dimulai. Dalam masa ini, dituntut adanya persatuan umat sebagai syarat pembebasan Palestina, sebagai izzah dari syiar Islam.

Innamal mukminuna ikhwah.. semua muslim bersaudara. Karena itu, hendaklah tidak tinggal diam dalam situasi ini. Khatib Jumat kemarin menyatakan berbuatlah semaksimal mungkin yang kita bisa. Bantulah mereka yang sedang berjuang di Palestina, selalu kirimkan doa, update status sebanyak-banyaknya. Jiwa anak Medan saya sih malah menyuruh saya sekalian aja perang dunia langsung, supaya syukur-syukur bisa bantu-bantu disana terus syahid.

Intinya, untuk teman-teman muslim mari kuatkan ukhuwah kita, dan berbuatlah sesuatu walaupun minimal. Untuk teman-teman yang lain, you dont need to be a Muslim, its as simple as humanity.

Ustadz menutup khutbah dengan menekankan sesedikit apapun usaha kita, 1%, 5%,10%; sisanya yang 90% akan dicukupkan oleh Allah SWT. InsyaaAllah, Free Palestine!

(Ae Yogyantoro)