NYATA SERANG POS BRIMOB, Stafsus Jokowi: Jangan Serang Balik OPM. BARU TERDUGA Teroris Sudah DI-DOR


[PORTAL-ISLAM.ID]  Staf Khusus Jokowi, Lenis Kogoya meminta aparat tidak menyelesaikan persoalan peristiwa penembakan di Pos Brimob Polri yang berlokasi di antara mile 66 dan mile 67, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Ahad, 29 Oktober 2017, dengan cara kekerasan pula. Ia yakin hal itu tidak menyelesaikan persoalan.

"Kalau senjata dilawan dengan senjata, itu dunia sampai kiamat tidak akan selesai. Kalau kekerasan dilawan kekerasan terus, tidak akan selesai," ujar Lenis di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, seusai bertemu Presiden, Selasa, 31 Oktober 2017.

Lenis menegaskan, pelaku penembakan yang ditengarai sebagai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka adalah bagian dari kelompok adat Papua yang semata-mata menginginkan kemakmuran serta kesejahteraan.

Kondisi ini sangat bertolakbelakang dengan enam orang di Tuban, Jawa Timur yang ditembak mati oleh Densus 88. Keenam orang tersebut diduga teroris, dan sudah ditembak MATI sebelum terbukti melakukan kejahatan.


"Kebijakan pemerintah lewat penegak hukum dalam penanggulangan terorisme di Indonesia sudah menyimpang," ujar Maneger Nasution melalui pesan singkat, Ahad 9 April 2017 seperti dirilis KOMPAS.

"Densus 88 Polri cenderung menerapkan konsep strategi 'perang' dengan cara pembunuhan dan pembantaian terhadap terduga teroris, bukan preventif," lanjut dia.

Berkaca pada peristiwa tersebut, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, menurut Maneger, sudah melakukan praktik extra judicial killing (pembunuhan di luar proses peradilan).

"Penembakan enam orang terduga teroris di Tuban, Jawa Timur oleh Densus 88 diduga tidak berbasis HAM, bertentangan dengan prinsip HAM," ujar Maneger.

Menurut Maneger, peristiwa pembunuhan Polisi terhadap Siyono, beberapa waktu lalu rupanya tidak mampu merubah pola pikir Polri dalam penanggulangan terorisme.

"Komnas HAM sudah mengingatkan agar tidak ada lagi 'Siyono-Siyono' berikutnya. Tapi, nyatanya muncul lagi. Mau sampai kapan? Berapa nyawa lagi?" ujar dia.

"Apakah akan terus terjadi penembakan terhadap kelompok tertentu dengan dalil terduga teroris sesuai skenario sutradaranya? Marilah bangsa ini jujur pada diri sendiri, jujur pada dunia kemanusiaan dan jujur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa," imbuh Maneger.

MIRIS! Hukum semestinya ditegakkan tanpa pandang siapa dan darimana pelakunya. Jika dengan alasan pelaku kejahatan adalah kelompok masyarakat adat tertentu yang butuh kesejahteraan, lalu bebas melalukan penyerangan ke aparat tanpa ada tindakan hukum, jangan salahkan jika nanti akan ada banyak tindak melawan hukum yang dilakukan oleh kelompok adat lain dari seluruh penjuru Indonesia.

Siapkah Polisi?