Gunakan Logo Majelis Ta'lim Pada Jaket "TERORIS", Polda Bali DIKECAM Warganet


[PORTAL-ISLAM.ID]  Simulasi penanganan aksi terorisme yang digelar oleh Kepolisian Daerah Bali Jumat, 17 November 2017 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mengundang kecaman dari warganet.

Pasalnya, dalam video yang beredar, teroris digambarkan menggunakan sorban dan rompi berlogo tulisan Arab bertuliskan Al Baghdadi, mirip logo Majelis Ta'lim Nurul Musthofa, Jakarta.

“Pak @PoldaBali kenapa tidak menggunakan bendera bintang kejora seperti di Papua? Atau palu arit PKI yang terlarang? Atau bendera negara teroris AS? Kenapa harus pakai atribut islam? Lagian pak polda tau arti Nurul Mustofa? Itu artinya cahaya manusia pilihan (Nabi Muhammad). Berarti ini juga penghinaan kepada baginda Nabi,” ujar akun @Gemacan70 sembari mencantumkan gambar simulasi anti teror tersebut dan juga logo majelis Nurul Musthofa sebagai pembanding.
Warganet lain pun menyerukan hal yang sama.

Majlis Nurul Musthofa sendiri didirikan pada tahun 2000 oleh Al Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Nurul Musthofa diambil dari nama Rasulullah SAW yang artinya “Cahaya Pilihan”. Bermula dari pengajian Al-Qur’an dan Zikir-zikir keliling yang dilakukan dari rumah-kerumah.

Menanggapi hal ini, Kepala Divisi Humas Polda Bali, Kombes Pol Hengky Widjaja menyatakan pihaknya sama sekali tidak mendesain pakaian tersebut khusus untuk simulasi. Pakaian tersebut merupakan pakaian duplikat dari pakaian yang pernah disita Polda Bali yang digunakan salah satu warga di Denpasar.

Hengky menjelaskan, dalam simulasi tersebut ditunjukkan bahwa teroris untuk mencapai tujuannya menggunakan dan menghalalkan segala cara. Salah satunya menggunakan atribut institusi lain atau penyamaran.

"Namun, di bawah tulisan arab majelis ta'lim tersebut ada tulisan Al Baghdadi sebagai ciri dia adalah pro dengan teroris ISIS," kata Hengky seperti dilansir oleh Republika.

Polda Bali, sebut Hengky, berharap masyarakat bisa mengerti dan memahami hal tersebut. Ia juga berharap tidak terjadi lagi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Video simulasi tersebut menggambarkan pejabat negara setingkat menteri tiba di Bali untuk melakukan pertemuan bisnis. Tiba-tiba sekelompok orang yang menyamar sebagai awak media dan petugas penjemput menyandera pejabat penting itu.

Pelaku teror digambarkan bak sekumpulan rampok, karena meminta sejumlah tuntutan di antaranya menyiapkan pesawat jet, uang tebusan Rp100 miliar dan membebaskan sejumlah tahanan terorisme yang merupakan rekan mereka di Lapas Nusakambangan.

Berikut videonya.
--------
Video yang dibuat Polda Bali tersebut tentu melalui serangkaian diskusi panjang sebelum akhirnya dirilis untuk disosialisasikan ke publik.

Jadi non sense bila video itu dibuat tanpa mempertimbangkan unsur respon masyarakat, apalagi film ini ditujukan sebagai bentuk edukasi mengenai terorisme.

Publik secara nyata melihat bahwa terorisme dan radikalisme ada dalam setiap agama. Pelakunya bahkan tak jarang pemuka agamanya sendiri. Lalu mengapa hanya umat Islam yang menjadi target untuk terus diidentikkan dengan terorisme?

Penjelasan Polda Bali yang tidak memuaskan ini semakin melukai hati umat setelah sebelumnya Kapolres Dharmasraya mengaitkan teroris dengan takbir dan thogut.