Negara Maju Yang Sibuk Mengurus Bisnis (Maaf) Selangkangan, Kok Situ Malah Sibuk Bully Ustadz


Negara Maju Yang Sibuk Mengurus Bisnis (Maaf) Selangkangan

(Oleh: Raidah Athirah)

Mohon maaf atas judul tulisan saya kali ini yang agak vulgar dan kurang berkenan di hati Anda semua.

Saya hanya meminjam istilah sebagian netizen yang sering berkomentar dengan menggunakan kata 'bisnis selangkangan'.

Sebagian dari netizen sudah sangat diluar etika bahkan terkesan membully.

Saya menulis ini terkait dengan poligami yang dilakukan ustad Arifin Ilham yang mana sebagian masyarakat kita belum bisa menerima. Yang membuat saya geleng kepala adalah munculnya beragam komentar dengan bahasa yang sangat tidak pantas atau dalam kalimat yang kasar 'too stupid to think and see the reality'.

"Ustad kok ngurus selangkangan mulu, gimana umat mau maju!"

"Negara maju ngurus teknologi, disini pada sibuk poligami"

"Orang sudah sampai ke bulan, ini umat sumbu pendek sibuk debat selangkangan"

Sangat disayangkan! Di era teknologi dimana informasi seharusnya sudah Anda kantongi sebelum jari Anda yang jahil itu menghina apa yang dilakukan dan dijalani Ustad Arifin Ilham dan keluarganya.

Anda harus membuka mata dan melihat fakta bahwa negara maju hari ini berlomba-lomba mengurus 'bisnis selangkangan'.Tak tanggung-tanggung PSK pun kena pajak yang tinggi. Itu belum seberapa, permintaan boneka seks di pasar Eropa dari hari ke hari justru semakin meningkat.

Izinkan saya bertanya kepada Anda yang menghujat syariat.

"Siapa yang lebih maju, yang memproduksi boneka selangkangan atau yang membangun keluarga dengan terhormat?"

Apakah Anda tidak sadar bahwa negara-negara maju yang menjadi kiblat teknologi justru berlomba-lomba memproduksi boneka seks yang didesain seideal mungkin seperti tubuh wanita?

Amerika, Jepang dan Cina terkenal sebagai negara-negara yang sangat berantusias mengurusi 'bisnis selangkangan' ini.

Permintaan dari negara-negara Eropa yang terbilang maju memperlihatkan bahwa mereka sungguh-sungguh mengurusi bisnis selangkangan yang Anda sebut ini.

Kalau saya uraikan fakta-fakta perihal negara-negara maju yang pada sibuk ngurus bisnis (maaf) 'selangkangan' Anda berani mau komentar apa?

Rumah Bordil Boneka Seks Pertama Dibuka di Barcelona
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170303203852-277-197733/rumah-bordil-boneka-seks-pertama-dibuka-di-barcelona

Produsen Boneka Seks di Tiongkok Kebanjiran Order dari Seluruh Dunia
http://palembang.tribunnews.com/2014/11/14/produsen-boneka-seks-di-tiongkok-kebanjiran-order-dari-seluruh-dunia

Semakin Canggih, Beginilah Perkembangan BONEKA SEKS di Dunia
http://www.tarencotta.com/unik/semakin-canggih-beginilah-perkembangan-boneka-seks-di-dunia/

Astaga, Jumlah Paedofil Meningkat Gara-gara Boneka Seks
http://m.suara.com/lifestyle/2017/08/01/194000/astaga-jumlah-paedofil-meningkat-gara-gara-boneka-seks

Sex doll TALK Robot different personalities
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-4376310/Sex-doll-TALK-Robot-different-personalities.html

Sex doll speak-smile-sing robot
https://www.thesun.co.uk/news/4107689/sex-doll-speak-smile-sing-robot-head/

Itu belum semua data yang saya uraikan. Anda boleh tidak setuju atas pilihan hidup ustad Arifin tapi mengatakan umat Islam hanya mengurusi masalah selangkangan menunjukkan tingkat pemikiran Anda yang kerdil dan picik.

Kita boleh tidak sependapat, kita juga boleh tidak setuju tapi jangan sekali-kali berkomentar bak orang yang tinggal dalam gua. Buta informasi dan bodoh dalam menggunakan teknologi.

Tak ada yang salah dengan poligami. Yang mampu silahkan praktekkan dan yang tidak silahkan lebih giat belajar dan menuntut ilmu.

Dahulukan yang wajib, syukuri nikmat yang sudah diberi agar lima atau sepuluh tahun lagi peradaban manusia tidak hancur di tangan robot-robot yang menggantikan peran-peran vital peradaban.

Kalau Anda tidak setuju poligami tak mengapa. Tapi membandingkan dengan negara maju dan menghina adalah kedunguan Anda yang kentara di era informasi ini. Mari belajar menghargai pilihan orang lain membangun peradaban, setia bermonogami atau bahagia berpoligami.

Polandia, 10 Oktober 2017