Reaksi Presiden Filipina Duterte terhadap Pembantaian Rohingya Lebih Keras Dibanding Jokowi


[PORTAL-ISLAM.ID] MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyindir penguasa de facto Myanmar Aung San Suu Kyi atas kegagalannya dalam menyelesaikan pelanggaran terhadap minoritas Muslim Rohingya. Dia mempertanyakan sikap diam Suu Kyi sebagai sosok pejuang HAM sekaligus penerima Nobel Perdamaian.

"Lihatlah Burma (Myanmar). Suu Kyi adalah pemenang hadiah Nobel," sindir Duterte. "Tapi orang-orang Rohingya, mereka disiksa dan mereka tanpa kewarganegaraan," lanjut presiden Filipina itu, seperti dilansir Inquirer yang dikutip Sindonews, Minggu (10/9/2017).

Krisis Rohingya dimanfaatkan Duterte untuk mempertanyakan para pejuang HAM yang selama ini gencar mengkritiknya atas perang narkoba yang dijalankan polisi Filipina. “Mereka yang pejuang HAM, diam,” ujar Duterte.

***

SIKAP TEGAS Duterte atas kebiadaban terhadap Rohingya ini mendapat tanggapan dari warganet di Indonesia. Mereka bahkan membandingkan dengan sikap Presiden Jokowi yang dinilainya kurang tegas.

"Koq jokowi presiden indonesia, yang paling indonesia, yang paling pancasila, sedikitpun nggak pernah mengutuk kebiadaban myanmar terhadapa rohingnya ya???? Ini bukan masalah menggoreng berita pak.... Tetapi masalah kepekaan kita thdp kekerasan, UUD 1945 dan pancasila sdh jelas kita ingin menciptakan perdamaian dunia, segala bentuk penjajahan harus dihapuskan krn tdk berprikemanusiaaan dan tdk berprikeadilan, karena sdh jelas itu tercantum dlm pancasila dan pembukaan UUD 45 seharusnya anda yg merasa paling pancasila mengutuk perlakuan pemerintah myanmar tetapi kenapa anda diam saja, bahkan muslim yg ingin membantu rohingnya ataupun sekedar menyampaikan aspirasi mengecam myanmar malah dilarang dan dihalang halangi.... Itu kah yg namanya saya indonesia saya pancasila.... Atau itu hanya slogan saja," ujar Fahrul Hamid.

"Mantap Pak Duterte.. Respect dah," kata Denny Efriadi Siregar.

"Buset to the poin ngomongnya ya,..jadi seperti ketegasan dan wibawanya ada,..timang presiden indonesia mncla mencle," komen Malka Saroji.

Netizen lain, Brama Kumbara menyampaikan:

"Thanks... #presidenphilipina hanya binatang yang tdk ber empati melihat warga rohingya yang dibantai oleh pasukan myanmar hingga ratusan rb warga rohingya mengungsi dan kesusahan."

Jurnalis The New York Times, Nicholas Kristof mengatakan "pressure" atau tekanan dunia luar kepada rezim Myanmar akan bisa membuat perubahan, seperti dulu saat dunia luar mempressure militer Myanmar yang akhirnya membebaskan Suu Kyi.