"JASA" PAPA SETYA NOVANTO Kepada JOKOWI dan AHOK


"JASA" PAPA SETYA NOVANTO KEPADA JOKOWI DAN AHOK

by : Iramawati Oemar*

Setya Novanto orang kuat, "sakti" pula. Namanya sudah sejak dulu kerap disebut setiap kali ada kasus melibatkan uang besar. Masih ingat kasus cessie Bank Bali di tahun 1999, ketika masih masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie?

Nah, saat itu politisi yang ada di pusaran kasus cessie Bank Bali adalah Setya Novanto. Yang lainnya nama taipan WNI keturunan Tionghoa. Kalau anda lupa, coba buka catatan Mbah Google dengan kata kunci "cessie bank bali", alias pengalihan hak tagih. Yang membongkar kasus itu kalau tak salah Prajoto, pengamat keuangan.

Tapi itulah "kesaktian" SetNov. Meski nama-nama lain yang terlibat sudah sempat dijatuhi pidana penjara (walaupun pada prakteknya kemudian tidak masuk bui bahkan kabur ke luar negeri, as usual kelakuan taipan maling duit), akan tetapi khusus Setnov aman saja. Karir politiknya tak terusik sedikit pun. Oh iya, jaman itu Setnov sudah jadi bendahara partai Golkar.

Lalu, kembali namanya disebut, pada penghujung 2013 atau awal 2014, saya tak terlalu ingat pastinya, yang jelas sebelum publik tenggelam dalam hiruk pikuk pencapresan.

Kali ini yang menyebut adalah Nazaruddin. Sang mantan Bendum Demokrat yang terpidana kasus Wisma Atlit Jakabaring.

Info yang dicuatkan Nazar adalah soal pengadaan e-KTP. Menurut Nazar, Setnov "dapat banyak" dalam mega proyek e-KTP.

Meski saya pribadi tidak suka Nazaruddin dan gak percaya padanya, tapi Nazar sebagai sesama anggota DPR dengan Setnov yang sama-sama lihai bermain proyek di Senayan, instink saya mengatakan info Nazar kali ini cukup layak dipercaya. Apalagi waktu itu Nazar siap buka-bukaan, hanya saja dia butuh penasehat hukum yang handal. Saat itu Nazar minta kesediaan Pak Yusril Ihza Mahendra.

Sayang celoteh Nazar itu kemudian tenggelam dalam hiruk pikuk issu politik dan hukum lainnya.

Kini, ketika akhirnya kasus korupsi pengadaan e-KTP benar-benar ditangani KPK, sejumlah nama politisi besar mulai disebut. Concern saya sejak awal : adakah nama Setya Novanto?! Ada! Berarti Nazaruddin tidak bohong kali ini.

Namun, dibalik semua "kenakalan" Setnov, seperti saya katakan tadi, dia "sakti". Bayangkan, trimester terakhir 2015 nama Setnov nyaris hancur, tiap hari jadi cibiran dengan julukan "Papa minta saham". Rekaman pembicaraannya dengan boss PT. Freeport Indonesia beredar. Terlepas dari esensi pembicaraan, apakah benar minta saham atau disuruh minta saham, kedatangan Setnov kesana saja sudah melanggar etika.

Maka, sidang Mahkamah Kehormatan Dewan pun digelar. Hendak mengadili tindakan Setnov, masuk kategori pelanggaran etik berat atau ringan.

Saat sidang MKD tengah berlangsung, datang surat dari Setnov, isinya : MENGUNDURKAN DIRI DARI JABATAN KETUA DPR!

Jreeeng!!!

Masalah selesai dengan sendirinya! Kursi Ketua DPR berpindah ke tangan Akom, Ade Komarudin, SEMENTARA.

Jangan lupa, si papa HANYA MUNDUR DARI KURSI KETUA DPR, BUKAN DARI KURSI DPR!

Badai pun mereda, Setnov kembali unjuk kekuatan, dia bahkan jadi nakhoda Golkar. Pasca Pilpres 2014, Golkar sempat diobok-obok. Kubu Agung Laksono, Yorris Raweyai dan Priyo Budi Santoso, tidak mau tunduk pada hasil Munas kubu Ical.

Entah kenapa, setelah Setnov yang jadi Ketum baru, Golkar kompak lagi. Nah, "sakti" bukan?!
Golkar yang sudah bercerai bersatu kembali, dibawah nakhoda Setya Novanto lalu digiring ke istana. Golkar balik badan, meninggalkan KMP dan merapat ke KIH. Resmi mendukung Jokowi.

Mendapat sokongan partai kedua terbesar, Pemerintahan Jokowi makin kuat. Imbalannya Golkar kebagian kursi Menteri dan Setnov pun akhirnya mendapatkan kembali kursi ketua DPR. Tidak butuh waktu lama, tidak usah nunggu 1 periode, kursi yang dulu sengaja dilepas, kini kembali dalam genggaman.

Nah, "sakti" lagi, bukan?!

Sebuah "perniagaan politik" yang saling menguntungkan, simbiosis mutualisme. Pemerintahan Jokowi bak mendapat suntikan darah segar, sementara partai Golkar dibiarkan tenang tanpa gangguan dan Ketumnya mendapatkan kembali kursi Ketua DPR. Impas!!!

Sejak Setnov menakhodai Golkar, maka sejak itu pula Golkar selalu se-iya se-kata dengan Jokowi, PDIP dan sekutu politiknya.

Menjelang Pilgub DKI, Golkar sedari awal sudah menyatakan secara resmi dukungannya kepada Ahok. Bahkan Ahok kemudian percaya diri melenggang meninggalkan Teman Ahok yang saat itu mengklaim sudah berhasil mengumpulkan 1 JUTA KTP.

Padahal, ketika masih didukung 2 parpol kecil (Nasdem dan Hanura) Ahok belum berani menyatakan akan maju lewat parpol. Artinya, dukungan Golkar itu "sesuatu banget" bagi Ahok. Termasuk menambah amunisi menguatkan posisi tawar untuk merayu PDIP ikut mendukung.

Dukungan Golkar bahkan lebih militan dan all out dibanding PDIP. Masih ingat ketika 2 hari pasca Aksi 212 ada aksi TANDINGAN dari kubu pendukung Ahok? Ya, aksi 412 itu dimotori Nasdem dan Golkar. Bahkan beredar foto surat resmi Golkar yang memerintahkan pengerahan massa untuk ikut hadir meramaikan aksi 412. Padahal PDIP saja gak satupun pengurusnya yang hadir. Surya Paloh dan Setya Novanto lah yang mendominasi panggung 412.

Meski akhirnya Ahok kalah, itu soal lain. Faktor figur dan personality Ahok lah penyebab utamanya. Namun, kekalahan Ahok tak bisa menghapus betapa besarnya peran dan kontribusi Golkar di bawah komando Setya Novanto.

Nah. Kalau sekarang Setnov dijadikan TSK oleh KPK, kita jangan terbawa euphoria. Jangan berharap terlalu banyak. Lihat saja perlakuan KPK yang berbeda dengan cara memperlakukan TSK KPK lainnya.

Meski sudah dilakukan konpers resmi soal penetapan SN sebagai TSK, namun SN tidak ditahan. Dia tetap bebas ikut rapat partai dan bertemu dengan politisi Senayan lainnya. Bahkan Golkar pun bersepakat akan tetap mempertahankan posisi Setnov sebagai Ketum. So, jangan keburu berharap karir politik Setnov akan tamat.

Bisa saja ini hanya sekedar "jeweran" kepada Setnov karena kemarin dia dianggap tidak tegas menindak kadernya yang tidak loyal mendukung Ahok. Ini hanya sekedar "warning" agar Setnov bisa MEMASTIKAN SOLIDITAS DAN LOYALITAS seluruh anggota Fraksi Golkar untuk SATU SUARA mendukung usulan Pemerintah soal PRESIDENTIAL TRESHOLD.

Kalau besok lusa dilakukan pemungutan suara untuk pengambilan keputusan atas 5 issu krusial pada RUU pemilu dan pilpres, Golkar harus jadi anak manis yang penurut.

Atau..., bisa jadi ini juga "bargaining games" dari KPK terkait hak angket DPR kepada KPK.

Kalau TSK lain, KPK langsung memerintahkan ditahan, jemput ke rumahnya dan langsung pakaikan rompi orange, kemudian giring ke lobby gedung KPK agar semua insan pers bisa memotretnya. Itu kebiasaan KPK pada TSK lain yang tak dilakukan pada Setnov.

Dalam politik memang tak ada kawan yang abadi, yang ada kepentingan abadi.

Namun dengan perannya selama ini berhasil membawa bahtera partai Golkar merapat ke Jokowi dan mendukung Ahok, tentu tidak bisa dipandang enteng. Salah menangani bisa "menggigit" yang lain.

Pokokmya penonton jangan terlalu berharap ending kisahnya akan berakhir sesuai harapan penonton.

Justru bersiaplah untuk kecewa jika ternyata nanti alur cerita berbeda dengan harapan penonton.

Paling banter sebagai penonton hanya bisa berteriak "huuu...!!!"

___
*dari fb penulis