DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA, Setya Novanto Jadi Sorotan Media Internasional


[PORTAL-ISLAM.ID]  Penetapan tersangka Setya Novanto atas kasus korupsi dana e-KTP tidak hanya ramai diberitakan media Indonesia. Media-media besar dunia juga tidak ketinggalan menjadikannya salah satu tajuk utama pemberitaan.


Salah satunya adalah Associated Press (AP), kantor berita yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Berita AP yang dikutip juga oleh media-media lainnya, salah satunya ABC Australia, menyebutkan Novanto "mengantungi lebih dari 170 juta dolar AS uang pemerintah".

Lebih jauh, AP dalam tulisan berjudul "Indonesia's Parliament speaker named corruption suspect" itu menyebutkan bahwa Novanto adalah penggemar Donald Trump. Novanto menyambangi Trump di New York pada September 2015 bersama Fadli Zon.

"Trump memperkenalkan Novanto sebagai salah satu orang paling kuat di Indonesia yang akan memberikan hal luar biasa bagi Amerika Serikat," tulis AP.


Indonesia's anti-graft agency has named the speaker of Parliament a suspect in a corruption scandal in which officials allegedly pocketed more than $170 million in government money.

The chief of the Corruption Eradication Commission, Agus Rahardjo, said on Monday there is sufficient evidence to name Speaker Setya Novanto a suspect in the case.

(Sumber: ABC News -http://abcnews.go.com/International/wireStory/indonesias-parliament-speaker-named-corruption-suspect-48679812 )


Sementara Reuters yang juga dikutip oleh media-media dunia, salah satunya Channel News Asia dari Singapura, mengabarkan tentang Setya Novanto dalam tulisan berjudul "Indonesia speaker named suspect in major corruption case".

Reuters memuat juga bantahan Novanto yang berdalih tidak terlibat dalam kasus tersebut. Di akhir tulisannya, Reuters menyinggung bahwa kasus ini mengejutkan, "bahkan di negara yang terbiasa dengan skandal korupsi."

"Indonesia berada di peringkat 90 dari 176 negara dalam indeks Persepsi Korupsi tahunan yang dikeluarkan Transparency International tahun lalu, sejajar dengan negara seperti Liberia dan Kolombia," tulis Reuters.


Setya Novanto, chairman of Indonesia's second-biggest political party, Golkar, made the denial to reporters after a meeting with leaders of the House of Representatives.

The speaker said he read media reports saying he was named by the independent Corruption Eradication Commission (KPK) as a suspect in the alleged state loss of at least 2.3 trillion rupiah (US$173 million) from the identity-card programme.

(Sumber: Channel News Asia -http://www.channelnewsasia.com/news/asiapacific/indonesia-speaker-named-suspect-in-major-corruption-case-9039506 )


Kantor berita China, Xinhua, mengangkat kasus Novanto sembari menyinggung kemenangannya di posisi kedua Partai Golkar dalam pemilu legislatif 2014. Menurut Xinhua, maraknya korupsi merusak iklim investasi di Indonesia.

"Indonesia berusaha memerangi korupsi yang jadi salah satu penghambat dalam menarik investasi asing dan meningkatkan pembangunan di negara kepulauan tersebut," tulis Xinhua.


Indonesian House Speaker Setya Novanto reacts during a press conference in Jakarta, Indonesia, July 18, 2017. Indonesia's corruption eradication commission (KPK) on Monday declared House Speaker Setya Novanto a suspect in a graft case, chairman of KPK Agus Rahardjo said. 



Sedangkan Nikkei di Jepang menulis juga soal tuduhan korupsi Novanto tahun 2015. Saat itu Novanto dipaksa mengundurkan diri jadi Ketua DPR karena meminta saham kepada Freeport dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo.

"Walau ada kontroversi itu, Novanto terpilih menjadi ketua umum Golkar pada Mei 2016 dan dipilih lagi jadi kedua DPT di akhir tahun itu," tulis Nikkei.

Indonesia's Corruption Eradication Commission, a state agency commonly known as KPK, named House Speaker Setya Novanto on Monday as a suspect in a procurement scandal for electronic identity cards that allegedly saw over $170 million embezzled.

Novanto is chairman of Golkar, the second largest party in President Joko Widodo's ruling coalition. The scandal could affect support for the president in his 2019 re-election bid.

(Sumber: Nikkei -http://asia.nikkei.com/Politics-Economy/Policy-Politics/Indonesian-speaker-named-in-massive-graft-case )

Setya Novanto diduga mendapatkan Rp 574 miliar dari dana proyek e-KTP.

DPR mengesahkan anggaran proyek e-KTP senilai Rp 5,9 triliun. Angka itu, setelah dipotong pajak 11,5 persen, menjadi Rp 5,2 triliun. KPK menemukan bahwa hampir setengah dana e-KTP diduga dikorupsi.

Sebanyak 51 persen dari dana itu, setara Rp 2,6 triliun, untuk belanja modal. Sisa 49 persen atau setara Rp 2,5 triliun dibagi-bagikan.

Sumber: https://kumparan.com/denny-armandhanu/setya-novanto-jadi-tersangka-ramai-diberitakan-media-dunia