“Demokrasi Sembako”: Proses Transformasi Menuju Bangsa “Tiko”


“Demokrasi Sembako”: Proses Transformasi Menuju Bangsa “Tiko”

by Asyari Usman*

Bagi-bagi sembako oleh tim pemenangan Ahok, semakin masif dan terbuka di hampir semua wilayah Jakarta. Bahkan, seorang anggota DPR-RI dari PDIP didapati ikut berpartisipasi untuk menyukseskan proyek sembako ini.

Nyaris tidak ada suara dari blok politik yang mendukung Ahok, begitu juga dari parpol-parpol yang ikut dalam koalisi dengan PDIP. Para pemimpin koalisi diam membatu melihat fenomena bagi-bagi sembako itu. Sulit untuk menduga apakah berdiam dirinya mereka itu menunjukkan ketidaksetujuan terhadap penodaan proses demokrasi di pilkada DKI itu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, atau apakah diamnya para pemimpin parpol itu karena mereka pun sudah ikut kehilangan akal sehat.

Tetapi, mendiamkan perbuatan tercela yang memalukan bangsa Indonesia itu pastiah bukan pilihan yang tepat. Mereka membiarkan kenegarawanan yang tersemat di dada mereka, dicorat-coret oleh tim bagi-bagi sembako. Mereka membiarkan demokrasi yang dibangun dengan susah-payah ini, menjadi “kertas toilet” di tangan tim pemenangan Ahok.

Drama bagi-bagi sembako itu disaksikan oleh seluruh rakyat. Drama ini berpotensi memberikan inspirasi kepada generasi muda tentang bagaimana cara untuk membeli kekuasaan. Karena itu, para pemimpin politik yang berkoalisi mendukung Ahok, memikul tanggung jawab moral penuh terhadap pendidikan “demokrasi sembako” yang dipertontonkan oleh tim pemenangan calon gubernur PDIP itu.

Anda, para pemimpin politik koalisi Ahok, akan tercatat di dalam sejarah hitam demokrasi Indonesia sebagai “tim bidan” yang ikut melahirkan “gubernur sembako” pertama di Indonesia bilamana Ahok dinyatakan menang dalam pilkada besok. Kalau Anda tidak bersuara melihat “kejahatan massal” terhadap adab berdemokrasi dan prinsip Pancasila yang mendasarinya, maka itu berarti Anda merestui cara-cara kotor itu.

Berarti Anda semua mendukung proses transformasi bangsa Indonesia menjadi “bangsa tiko” sebagaimana digambarkan oleh Steven “Tiko” Sulistyo ketika dia dengan entengnya melabelkan sebutan yang sangat jorok itu kepada Gubenur NTB yang dikenal sebagai orang yang selalu bersahaja.

Berarti Anda semua memang mendukung gagasan Ahok tentang cara merebut kekuasaan melalui bentuk penghinaan terendah terhadap rakyat Indonesia yang selama ini Anda anjur-anjurkan untuk bekerja keras mencapai martabat dan peradaban yang tinggi.

Berarti Anda semua memang menjadi bagian dari proses yang sedang dikendalikan oleh sebuah kekuatan besar dan licik ,yang ingin menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tidak bisa melepaskan diri dari ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Ibu Megawati, Pak Surya Paloh, Pak Setya Novanto, Pak Wiranto (pemimpin de facto Hanura), Pak Romahurmuziy dan Pak Djan Faridz (pemimpin PPP), Pak Muhaimin Iskandar, dan para politisi senior lainnya, Anda semua bertanggung jawab atas tindak-tanduk yang dilakukan oleh Ahok dan tim pemenangannya atas segala kecurangan yang mereka lakukan dalam proses pilkada DKI.

Tidakkah terpikirkan bahwa puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu, bayi Indonesia yang lahir semasa “bagi-bagi sembako” ini, semasa penghinaan terhadap warga Jakarta ini, semasa penodaan demokrasi ini, menghirup nafas pertama mereka dan membukan mata pertama kali di lingkungan yang hiruk-pikuk dengan beli suara dengan sembako?

Inikah pendidikan awal yang kita bisikkan kepada bayi-bayi yang baru lahir itu? Dan inikah yang kita tunjukkan kepada anak-anak sekolah, penerus bangsa, yang hari ini kita didik secara formal dan informal tentang nilai-nilai Pancasila yang setiap hari kita ceramahkan di mana-mana? Nilai-nilai yang kita sebut sebagai prinsip luhur bangsa? Nilai-nilai suci yang kita tuliskan di atas prasasti, di dinding kantor, di buku AD/ART parpol Anda?

Bu Mega, Pak Surya, Pak Wiranto, Pak Novanto, Pak Muhaimin, Pak Romi, Pak Djan Faridz…, sebenarnya hari ini lebih pantas kita sebut Hari Kesakitan Pancasila, bukan hari kesaktiannya; Hari Duka Demokrasi, bukan hari pestanya; Hari Penghinaan Rakyat, bukan hari martabatnya.

Masih ada kesempatan Anda untuk memutarbalik arah sosial-politik yang telah masuk ke koridor sempit yang penuh batu karang itu. Tetapi Anda harus cepat sebelum lambung kapal kita retak, bocor, dan kemudian pecah. Anda bisa menyelamatkan kapal itu, karena Anda memegang kemudinya, karena Anda adalah juragan-juragannya.

(Penulis adalah mantan wartawan BBC. Artikel ini adalah opini pribadi penulis, tidak ada kaitannya dengan BBC).