Ust. Felix Siauw: "Pak Polisi, Apakah sudah tidak ada lagi pekerjaan yang lebih penting, ketimbang mencari-cari kesalahan ulama?"


[PORTAL-ISLAM] Da'i keturunan Tionghoa, ustadz Felix Siauw prihatin dengan kriminalisasi terhadap para ulama akhir-akhir ini. Bahkan donasi umat untuk Aksi Bela Islam pun dikasuskan dengan pasal TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Ya Allah.... sampai segitunya.

Berikut 'SURAT TERBUKA' ustadz Felix Siauw kepada Polisi, yang diposting di akun fb-nya (22/2/2017):

"Sampai Dimana Bapak Polisi?"

Logika orang awam yang selalu muncul saat-saat ini ialah, "Apakah sudah tidak ada lagi pekerjaan yang lebih penting?", ketimbang mencari-cari kesalahan, apalagi ulama?

Sungguh sudah berlalu rangkaian peristiwa yang membuat citra bapak-bapak polisi ini dipertanyakan, apakah sejauh itu berbuat untuk melindungi penista agama?

Mulai dari pelaku dan pelapor, agar pelaku yang dijadikan tersangka bisa imbang, maka pelapor pun dijadikan tersangka, duhai dimana keadilan hari-hari ini berada?

Lalu tudingan demi tudingan dilancarkan, mulai soalan politis sampai makar, tapi yang nyata-nyata ada diabaikan, soalan penistaan agama dianggap mengada-ada?

Mempersulit, menghalang-halangi, mengancam, menakut-nakuti, sampai bom asap dan peluru karet yang sampai saat ini entah siapa yang bertanggung jawab atas perintahnya?

Memperkarakan, memeriksa mereka yang terlibat dalam aksi seolah mereka adalah bahaya bagi negara, sementara yang nyata bahaya dibiarkan hanya karena aseng pengusaha?

Bila berhadapan dengan penista agama dan mereka yang berduit, anda tertawa dan bercanda, tapi dengan garangnya wajah itu dihadapkan pada ummat, hanya mereka tidak kaya?

Sekarang pencucian uang yang dituduhkan, keikhlasan ditanyakan. Duhai sampai dimana engkau akan melangkah bapak-bapak polisi? Tak bisakah mereka berderma demi agama?

Dari sudut hukum anda sudah diingatkan, dari sudut etika apalagi, sebegitukah dunia ini harus diubah salah semua, demi melindungi mereka yang sudah jelas-jelas salahnya?

Ataukah kami juga punya hak mempertanyakan kekayaan bapak-bapak polisi yang jauh berlipat daripada sumbangan ummat? Bolehkah kami menuduh itu hasil yang nista?

Bila tidak, katakan kepada kami, apakah hanya karena pangkat dan wewenang yang sementara itu, lantas harus seperti ini ulama-ulama kami diperlakukan dan kami dipaksa menerima?

Jelas-jelas yang anda pertontonkan ini adalah kedzaliman, bila hukum memang adil, seharusnya semua donasi untuk apapun diperiksa, tanpa laporan siapa-siapa.

Lalu salahkah kami punya imaji yang tak nyaman dengan bapak-bapak yang berseragam ini? Bukankah kehadiranmu adalah ketentraman, bukankah pelayanan yang utama?

Bila salah tolong berikan alasan, tolong sampaikan keadilan, mohon berikan penjelasan. Tapi bukan model yang lain di lidah lain pula di hati, sebagaimana yang sudah-sudah ada.

Bagaimana bisa, aksi yang pemimpin tertinggi polri dan pemimpin tertinggi negara ada di dalamnya dianggap cara pencucian uang, tidakkah engkau saksikan ikhlasnya airmata mereka?

Ataukah hati nurani sudah tertutup harta, dan agama sudah berada di posisi setelah jabatan, kehormatan, atau pertemanan? Apakah hisab Allah tak lagi jadi pengingat bagi kita?

Sampai dimana bapak polisi? Anda akan memberikan pendidikan buruk pada bangsa ini? Benarkah anda mencintai Indonesia? Bila iya bukankah jutaan jamaah aksi itu warganya?

Sampai dimana bapak polisi? Anda akan memperkarakan ulama-ulama kami? Dan mereka yang benar diantara kami? Sedangkan masyarakat semakin tak suka dan hilang asa?

Sampai dimana bapak polisi? Ataukah sampai usia membatasi, atau sampai Allah renggut semua kekuasaan di dunia? Atau sampai batas dimana hilang batas percaya?

Kami tak bosan mendoakan anda, bapak-bapak polisi, semoga semua ini bukan untuk memihak penista agama dan komplotannya, semoga masih banyak yang berhati mulia.

Kelak kami berharap bapak-bapak berseragam pemberani ini, akan menjadi garda terdepan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai semua yang mencintai agamanya.

__
Sumber: fb