Tiba di bandara Kairo modal dengkul, demi Tugas membawa titipan untuk Gaza

Oleh: Pega Aji Sitama
 
Tiba di bandara Kairo modal dengkul.

Ternyata di bandaranya tidak ada WIFI gratis sedikitpun.

Alhamdulillah ada seorang koko Chindo yang satu pesawat punya kartu internet Mesir. 

Nebeng internet sebentar sama beliau untuk koordinasi dengan tim di sini.

Belum ada balasan kontak dengan jaringan di Kairo, jemputan koko datang.

Siap-siap di bandara tanpa komunikasi dan internet, mana belum tukar mata uang lokal lagi. 

Pesan taksi percuma, malah bisa boncos kalau tidak tahu jalan dan nilai kurs.

Cuma bisa kencangkan doa dan zikir.

Eh ternyata tak sampai 30 meter ada 3 orang wajah Melayu...

Begitu melihat orang dengan wajah Melayu, Saya merasa ini seperti menemukan Oase di padang pasir.

Bukan berarti orang Mesir tidak akan membantu, tapi kendala bahasa dan perawakan mereka yang sangar bisa bikin takut kalau dianggap mengganggu. Padahal bisa jadi mereka juga bingung maksud kita.

Maka langsung saya datangi 3 orang Indonesia, yang ternyata mahasiswa lagi ambil titipan barang.

Mereka sudah pesan taksi online, masih tunggu sebentar lagi datang.

Telat 1 menit sudah pergi mereka.

Saya langsung minta tolong. Bisa ga numpang internet dan dikasih panduan.

Masya Allah, belum sempat tahu nama. Langsung dibatalin taksi online mereka. Mengutamakan membantu kami yang tak punya akses internet dan mata uang Mesir.

Sangat merepotkannya, saya minta tolong dipesankan taksi online ke tempat tujuan yang sudah saya peroleh. Kalau boleh sekalian ada yang ikut ngawal hingga di lokasi. Bahkan dia yang bayarin dulu. Karena kami tak ada uang Pound.

Langsung saja diiyakan, jarak ke tujuan 12 km. Harganya 100 Pound. Cuma sekitar Rp 35 ribu.

Alhamdulillah datang taksi online itu tak sampai 5 menitan.

Sebuah mobil sedan 90-an yang sangat berdebu.

Dimana sang sopir memiliki ciri seperti kebanyakan orang Mesir yang kami temui. Potongan rambut cepak dan bekas cukuran jenggot yang sangat mencolok.

Kami pun diantar sampai tujuan, sebuah penginapan yang sudah disewa seorang Syaikh pemimpin lembaga kemanusiaan besar dari Turki yang sama sekali tidak bisa bahasa Inggris.

Dengan berucap terima kasih dan doa sebesar-besarnya, kami berpisah dengan sang mahasiswa yang pulang ke asramanya.

Begitulah orang kita, dimanapun sangat ringan tangan membantu, bahkan hingga di taraf sangat merepotkan. 

(fb)
Baca juga :