Mau gelarnya mprof, ndoktor, kalo udah masuk kolam yaa gitu, Teh... Yaa gituuu lah 😀😀

Oleh: Dian Anggraeni Umar
(Praktisi dan Senior Advisor Public Relation) 

Suatu hari saat ngopi bareng dengan salah seorang teman baik saya, kami mengobrol tentang pekerjaan sampai membahas mengenai transportasi publik di Jakarta. Dia bercerita bagaimana dia bertransformasi dari mengendarai kendaraan pribadi beralih ke transportasi publik selama 2 tahun ini.

Jabatan di kantornya termasuk tinggi, berada di jajaran manajemen setara vice president. Dia bercerita bahwa transportasi publik di Jakarta sudah bagus, sangat nyaman, informasinya lengkap, pelayanannya sangat baik, kebersihannya selalu terjaga dengan baik. Dan yang lebih penting adalah cepat, terhindar dari kemacetan, dan lebih ekonomis.

Menurutnya tata kelola transportasi publik sudah sangat baik di Jakarta. “Melihat fasilitas dan atmosfirnya MRT kita sudah seperti di luar negeri” ujarnya.

Iseng saya nyeletuk, “Siapa gubernurnya Bang yang berjasa dalam mewujudkan kinerja transportasi publik di Jakarta?”

Seketika wajahnya berubah, langsung terdiam dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Saya tersenyum sumringah, yang mewujudkan itu semua adalah Pak Anies Baswedan Bang! ucap saya sambil terkekeh. Teman saya itu adalah pendukung fanatik Pakde dan Ahok. Status-status dan komentarnya di medsos selalu mencaci Pak ARB. 

Poinnya adalah sebenarnya mereka sangat sadar akan perubahan yang terjadi di Jakarta dan bahkan sangat menikmatinya. Tapi mereka tidak mau mengakui itu sebagai keberhasilan dari gubernur yang dibencinya. Aneh tapi nyata bukan? 

Polarisasi politik berdampak buruk pada pandangan, sikap dan perilaku warga Jakarta. Lebih parah lagi mereka begitu meyakini bahwa hanya Pakde dan Ahok yang terbaik, meski fakta berbicara sebaliknya. Realitas politik yang menyedihkan ya…

(fb)
Baca juga :