Jokowi Sampai Kiamat

Jokowi Sampai Kiamat

Namanya Bu Sri, seorang ibu rumah tangga. Suaminya kerja buruh serabutan, yang tidak tentu penghasilannya.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, Bu Sri bekerja paruh waktu menjadi tenaga kebersihan sebuah homestay. Meski penghasilannya jauh dari standar UMK, namun setidaknya sedikit mengurangi beban keluarga.

Meski tergolong keluarga miskin, Bu Sri memegang sebuah nasehat yang pernah ia dapatkan dari seorang dosen. Agar anaknya, bisa kuliah. Dimanapun dan bagaimanapun cara memenuhinya.

Demikianlah, anak putrinya telah menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Jogja. Bahkan kini anak gadisnya itu telah selesai KKN. Satu semester ke depan Bu Sri berharap sudah punya anak sarjana. Selanjutnya tentu berharap kesejahteraan keluarganya perlahan akan bisa meningkat lebih baik.

Sebuah cita-cita yang sejak semula tidak pernah ia bayangkan dapat tercapai. Bagaimana mungkin dia dan suaminya bisa membiayai pendidikan anaknya hingga sarjana, lha wong untuk makan sehari-hari saja sering tidak ada.

Namun, rejeki memang tidak akan salah alamat. Anak putrinya mendapatkan beasiswa bidik misi dari pemerintah. Bu Sri tahunya itu semua dari Pak Jokowi.

Karenanya, ia berharap Pak Jokowi bisa jadi presiden seterusnya. Tidak hanya tiga periode.

Menurutnya, pemilu hanya bikin rakyat terpecah belah. Dia sendiri ikut merasakan, hubungan keluarga menjadi renggang gara-gara berbeda pilihan presiden.

Bagi Bu Sri, langkah Prabowo untuk menjadi menteri adalah sebuah bentuk keikhlasan dan keteladanan. Selanjutnya ia berharap, siapapun yang punya ambisi bertarung, cukuplah diakomodasi menjadi menteri.

Buat apa rebutan kekuasaan. Toh, sebentar lagi juga kiamat. Biarlah Pak Jokowi yang menjadi presiden, yang lain cukup menjadi menteri.

Jokowi presiden sampai kiamat! Demikian sebuah opini dari Bu Sri yang sempat dibagi kepada kami. 

(By Setiya Jogja)

_______________________
*NB: Beasiswa Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan yang diselenggarakan sejak tahun 2010 atau era Presiden SBY.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 meluncurkan program bantuan biaya pendidikan Bidikmisi berupa bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan bantuan biaya hidup kepada 20.000 mahasiswa yang memiliki potensi akademik baik dan tidak mampu secara ekonomi yang diselenggarakan di 104 perguruan tinggi negeri. Program ini merupakan salah satu program 100 Hari Kerja Menteri Pendidikan Nasional pada tahun 2009 (era Presiden SBY).