Saat gempa terjadi, Kaesang malah mengumpat "Asem gempa", warganet ingatkan istighfar

[PORTAL-ISLAM.ID]  Gempa dengan magnitudo 6,1 terjadi di Garut, Jawa Barat, pada pukul 16.49 hari Sabtu, 3 November 2022. 

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa Garut berada di 7.51 LS dan 107.52 BT pada kedalaman 109 kilometer. 

Gempa ini juga terasa di beberapa wilayah Indonesia.

Saat terjadi gempa Kaesang anak Jokowi di akun media sosialnya malah mengumpat "Asem gempa".

Warganet pun mengingatkan hendaknya ketika terjadi musibah atau bencana membaca istighfar.

"Kok malah asem mas? Bukan nya itigfar... Gempa kan bencana yg Allah turunkan. Maaf loh bukannya mau sok mengajari cuma mengingatkankan aja," ujar akun twitter Andre.

Negeri kita ini sekarang sedang banyak mendapatkan musibah. 

Entah akan ditanggapi sebagai ujian, cobaan, teguran atau lainnya namun satu hal yang pasti bahwa hal ini hendaknya jadi pengingat untuk kita semua lebih mendekat kepada Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta. 

Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa

Ketika gempa bumi menyapa, bila tsunami menghampiri manusia, ketika para korban berjatuhan meninggal dunia, ketika bangunan hancur berkeping-keping menjadi tanah… pada saat itu semua hendaknya kita semua lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengingat akhirat, segera bertaubat, bersemangat ibadah, dan tidak tertipu dengan dunia yang fana.

Berikut ini beberapa amalan yang hendaknya dilakukan ketika terjadi bencana alam:

Taubat kepada Allah

Sesungguhnya peristiwa ini akan membuahkan bertambahnya iman seorang mukmin, memperkuat hubungannya dengan Allah. 

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah berkata, “Kadang-kadang Allah mengizinkan bumi bernapas sehingga mengakibatkan gempa dan tsunami yang dahsyat, sehingga hal itu menjadikan ketakutan kepada Allah, kesedihan, taubat dan berserah diri kepada Allah”.

Banyak berdzikir, do’a, dan istighfar kepada Allah

Imam Syafi’i mengatakan, “Obat yang paling mujarab untuk mengobati bencana adalah memperbanyak tasbih”. Imam as-Suyuthi berkomentar, “Hal itu karena dzikir dapat mengangkat bencana dan adzab, sebagaimana firman Allah:

فَلَوْلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ ﴿١٤٣﴾ لَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (QS. ash-Shoffat [37]: 143–144).

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS. al-Anfal [8]: 33).