Letkol Deddy Corbuzier dan Promosi LGBT

Letkol “Tertular” Deddy Corbuzier

Deddy Corbuzier bilang dia bangga diberi pangkat Letkol Tituler oleh Menhan Prabowo Subianto pada Jumat (9/12/2022). Corbuzier mengatakan, ini merupakan penghormatan besar dari pemerintah kepada dirinya. Dia merasa sangat senang.

Bisa dipahami. Sebab, anugerah pangkat perwira menengah TNI itu tidak main-main. 

Menurut penjelasan tentang pemberian pangkat tituler, Corbuzier dianggap sebagai orang penting bagi TNI. Orang yang berjasa. 

Meskipun para pakar kemiliteran mempertanyakan jasa apa dari Corbuzier untuk TNI?

Kita tidak akan menggali soal jasa Corbuzier kepada TNI. Kita lebih fokus membicarakan bahwa Youtuber berpengikut belasan juta ini merasa senang. Itu dulu.

Rasa senang Corbuzier penting dibicarakan. Karena rasa senang itu turut dirasakan oleh banyak orang lain.

Kelihatannya, yang juga senang dengan pemberian pangkat Letkol Tituler itu adalah salah satu komunitas yang dipromosikan oleh Corbuzier di podcastnya. Yaitu, komunitas ElgeBT. Yang dikatakan banyak orang sebagai kelompok dengan orientasi seksual yang menyimpang. 

Sebelum pemberian pangkat tituler itu, komunitas ElgeBT sebenarnya sudah merasa senang pada Corbuzier. Senang karena sekitar awal Mei tahun ini, Corbuzier menghadirkan pasangan ElgeBT, Ragil Mahardika dan Frederik Vollert, di podcast Deddy Corbuzier. Sekarang mungkin makin senang karena simpatisan yang berpangkat perwira menengah (Pamen). Meskipun hanya tituler.

Ragil dan Frederik bagaikan mendapat panggung besar untuk mengkampanyekan ElgeBT. 

Namun, podcast berkonten hubungan sesama pria itu diprotes masyarakat yang tak menyimpang. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga ikut menyampaikan protes. 

Sampai-sampai Corbuzier akhirnya menghapus (take down) obrolan dengan pasangan sejenis itu.

Untung saja obrolan pasangan itu direkam dan disiarkan awal Mei. Andaikata disiarkan beberapa hari setelah pemberian hadiah pangkat TNI itu, mungkin saja ada yang membuat plesetan “tituler” menjadi Letkol “Tertular” Deddy Corbuzier.

Oleh Asyari Usman
(Jurnalis FNN)