Istana Terancam 'Tsunami'

Oleh: Sutoyo Abadi (Koordinator Kajian Politik Merah Putih)

Raja yang bersemayam di istana merasa : Apa yang diinginkan dan dikatakan harus terjadi. Perpaduan I am the law: Saya adalah tiran dan l’etat, c’est moi: negara adalah saya. Telah bermetamorfosa menjadi otoritarian dan berwajah Tirani.

Demokrasi saat ini hanya ada di atas kertas, karena sudah dimanipulasi oleh Istana dan partai politik, yang sudah di luar batas. Istana dan partai politik sudah menjelma menjadi hukum dan konstitusi.

Sikap angkuh dan jumawa Istana bukan karena murni dari kapasitas dan eksistensi dirinya yang memiliki, kesaktian, kekuatan dan kedigdayaan tetapi persis boneka karena di belakangnya ada kekuatan oligarki yang dapat mengatur dan menguasai semuanya

Bahwa Negara Pancasila saat ini tidak ada atau tidak hadir, karena presiden saat ini hanya boneka kapitalis. Negara ini penuh sesak dengan oligarkis, kleptokratis, kartelis, fundamentalis, fasis dan predatoris.

Kondisi hukum, ekonomi dan politik negeri ini sudah rusak parah, menjadi lahan jarahan para bandar, bandit, badut begundal dan penghianat negara.

Kerusakan sudah begitu akut, maka harus dilakukan perubahan yang radikal, ektraordinary bukan perubahan yang biasa baik inkremental maupun cut dan glue.

Momentum dan sangat mungkin ini kehendak alam dari kekuatan yang Maha Kuasa sudah tiba saatnya munculnya tokoh restorasi kepemimpinan nasional yang kembali kepada the truth dan justice : muncullah tokoh Anies Baswedan (AB).

Rakyat dengan kekuatan believenya menyatu dengan tokoh satu ini terasa dalam satu tujuan tekad dan niat selamatkan Indonesia. *Bukan larut dengan slogan spiritual minimalis yang malas berpikir dengan tipuan Satrio piningit. Hanya di tokohkan sebagai harapan kekuatan munculnya kejujuran dan keadilan.

Fenomena ini tiba tiba Istana gagap, bingung dan menjadi pandir. Para jagoan dari Senayan ( DPR – MPR dan DPD RI ), mondar mandir gentayangan sontak merasa eksistensinya terancam. Pimpinan partai politik sebagian menjadi lingkung dan kesurupan lapak jualan mereka berantakan.

Oligarki dan tuan besarnya dari Utara raja besar Xi – Jinping pemilik OBOR terguncang terancam padam.

Mereka beramai ramai kalau perlu kerjasama dengan para iblis dan syetan dari alam ghaib satu kata Anies Baswedan harus dihambat, cegat dan musnahkan. Mereka merasa ini tsunami yang membahayakan mereka.

Al insanu bitadbir wallahu bitakdir : manusia hanyalah merencanakan dan Allah yang memutuskan hasilnya. Apakah mereka para begundal dan penghianat negara akan berhasil bisa jadi usaha mereka akan sia-sia.

Bisa terjadi andingnya alam akan berpihak kepada kebenaran ketika datang kebenaran atas kuasa Yang Maha Kuasa – tsunami Anies Baswedan akan menggulung mereka semua.

Pilihannya tinggal secepatnya lari mencari suaka atau harus menjadi penghuni pulau nyamuk di Nusakambangan dengan kerja paksa tanam singkong sebagai pertahanan hidupnya dan ahirnya harus mati berkalang tanah dengan hina dan nista.