Ferdy Sambo Sumbu Pendek

[PORTAL-ISLAM.ID] Sosok terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Ferdy Sambo sempat disebut-sebut punya sifat yang sumbu pendek atau temparemen.

Pernyataan bahwa Ferdy Sambo punya sifat yang sumbu pendek itu diungkap oleh mantan anak buah Ferdy Sambo, yakni Aryanto dan juga Susanto Haris.

Baik Aryanto dan Susanto Haris, keduanya sempat memberikan kesaksian tentang sifat dan watak asli Ferdy Sambo yang mudah sekali marah dalias sumbu pendek.

Pada kesaksiannya saat itu, Aryanto menyebut bahwa Ferdy Sambo memang terkenal tempramen.

Saat itu, kuasa hukum terdakwa Obstruction of Justice, Irfan Widyanto berkesempatan menanyakan tentang sifat temparemen Ferdy Sambo itu pada Aryanto.

Adapun Aryanto, disebut sudah cukup lama bekerja dengan Ferdy Sambo, yakni selama enam tahun.

"Kalau ada masalah yang tidak sesuai, pasti dimarahi," kata Aryanto.

"Tempramental berarti Pak Ferdy Sambo?" tanya kuasa hukum Irfan Widyanto.

"Iya," jawab Aryanto.

Kesaksian Susanto Haris

Pemandangan dramatis sempat terlihat pada sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J beberapa waktu lalu, saat menghadirkan Susanto Haris sebagai saksi yang memberatkan terdakwa Ferdy Sambo.

Pada kesaksiannya saat di persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Susanto Haris tak bisa menahan tangisannya saat menyampaikan kekecewaan dia terhadap mantan atasannya, Ferdy Sambo.

Tak hanya menangis, Susanto Haris pun sempat terlihat emosional hingga marah pada Ferdy Sambo.

Bahkan, Susanto Haris di depan hakim sempat 'curhat' dengan menyebut meskipun dia Kombes Butut, dia adalah senior Ferdy Sambo.

"Saya meskipun Kombes Butut, saya tetap senior pak FS (Ferdy Sambo). Saya kesal, biasanya kan kalau merintah halus, 'Bang tolong bang, bantu', sedangkan waktu mengantar barang bukti dan jenazah itu nadanya keras, 'Pak Kabag segera itu antar (jenazah)', saya agak ngeleyot dikit dan melawan," kata Susanto Haris.

Kemudian hakim sempat bertanya kepada Susanto Haris tentang apakah dia merasa ada kejanggalan saat Ferdy Sambo memerintahkannya mengantar jenazah Brigadir J.

"Siap, tidak tahu yang mulia," kata Susanto Haris.

Lanjut kepada pertanyaan hakim selanjutnya, Susanto Haris ditanya soal apa hukumannya yang dia terima saat sidang kode etik.

"Saya pansus 29 hari, demosi 3 tahun yang mulia, tapi saya tidak dijadikan terdakwa dalam hal ini," kata Susanto.

Sambil geleng-geleng kepala dan menangis, Susanto Haris mengungkapkan kekecewaannya terhadap Ferdy Sambo di hadapan hakim.

"Saya kecewa, kesal, marah, Jenderal kok bohong, susah nyari Jenderal, keluarga kami malu, Jenderal kok tega mengahancurkan karier," kata Susanto Haris.

Ketakutan

Sebelum muncul kesaksian dari Aryanto dan Susanto Haris, ajudan Ferdy Sambo, Adzan Romer juga pernah sampai dibuat ketakutan oleh sosok Ferdy, kenapa?

Pada kesaksian Adzan Romer saat itu, awalnya dia yang sempat ditegur oleh jaksa penuntut umum (JPU) karena keterangannya dianggap berubah-ubah, disebut karena dia merasa takut pada Ferdy Sambo.

"Apa yang menyebabkan saudara memberikan keterangan berubah-ubah?" tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada Ferdy Sambo.

“Karena awalnya kami masih takut memberikan kejujuran,” tambah Adzan Romer.

Jaksa Penuntut Umum terus mencecar kepada siapa Adzan Romer takut untuk memberikan kejujuran.

“Iya Pak. Takut sama Bapak, Pak,” jawab Adzan Romer sembari menunduk ke bawah.

“Bapak siapa?” tanya Jaksa Penuntut Umum kemudian.

“Pak Sambo, Pak,” ujar Adzan Romer.