Seorang muslim berbuat maksiat dan dosa pasti disebabkan oleh satu dari dua hal ini

Seorang muslim berbuat maksiat dan dosa pasti disebabkan oleh satu dari dua hal:

Pertama: Karena kelemahannya, dia tidak mampu melawan hawa nafsu yang selalu menggoda dan mengajaknya berbuat dosa dan maksiat, dia tahu perbuatan itu dosa dan melanggar larangan Allah.

Kedua: Peremehan, dia merasa dia itu bebas melakukan apa saja, ketika dia berbuat dosa dan maksiat dia merasa itu adalah kebebasan dan hak dia untuk melakukan apa yang dia mau meskipun itu bertentangan dengan perintah Allah.

***

Pada kasus yang pertama apabila dia bertaubat dan meminta ampun, pasti Allah akan mengampuninya. Allah berfirman dalam surat Al Zumar ayat 53: 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Apapun jenis dosa dan maksiat yang dilakukannya pasti akan diampuni apabila dia mau bertaubat, karena dia melakukannya atas dasar kelemahannya di depan nafsu.

***

Pada kasus kedua, jelas motif dan sebabnya adalah rasa sombong dan tinggi hati yang meraja dalam dirinya, sehingga dia meremehkan perintah dan larangan Allah. Seperti inilah yang mengundang murka dan azab Allah. Sebenarnya bukan maksiat itu sendiri yang mengundang murka Allah, tetapi motif dan sebab yang membuat dia berbuat dosa dan melanggar perintah Allah. 

Kalau maksiat saja, semua orang bisa saja berbuat maksiat, dan wajar, karena dia manusia. Tetapi, ketika motifnya sombong, takabbur dan bangga dengan dosanya, itulah dia yang membuat murka serta azab Allah tak terhindari.

Mari kita lihat firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 40: 

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. 

Lihat juga surat Al A’raf ayat 146, An Nisa ayat 173, dan surat Ghafir ayat 60.

***

Note:

👉Pertama: Siapapun kita, pastinya kita adalah hamba Allah. Ketika menjadi Hamba Allah kita dituntut untuk melaksanakan “ibadah” dengan raga kita dan memiliki “Ubudiyyah” dalam hati. Ibadah sudah jelas, “Ubudiyyah” itu apa? Ubudiyyah itu adalah perasaan dalam hati dan jiwa kita bahwa kita adalah hamba Allah yang harus tunduk pada semua perintah dan larangan, dengan kata lain kita sadari kita itu hamba Allah maka kita harus ikhlas menjadi hamba Allah sebagaimana Allah “ikhlas” menjadi Tuhan kita.

👉Kedua: Ketika kita harus melanggar perintah atau larangan-Nya, karena kita lemah dan tidak sanggup melawan nafsu, maka hal tersebut tidak meruntuhkan Ubudiyyah kita, karena meskipun kita berbuat dosa, tapi kita masih mengakui itu dosa. Tapi, ketika seseorang melakukan dosa, dengan bangga dia lakukan, dengan bangga dia ceritakan, dan dengan bangga dia pamerkan, sambil mengatakan bahwa itu adalah kebebasan dan haknya untuk melakukan apapun adanya sedikitpun rasa bersalah dan penyesalan, inilah takabbur yang meruntuhkan Ubudiyyahnya. Orang-orang seperti ini sangat riskan untuk “terusir” dari rahmat Allah dan ampunan-Nya, dan yang paling mengerikan apabila hati kita tidak punya rasa ubudiyyah adalah su’ul khatimah.

👉Ketiga: Kita semua tahu apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah dilakukan Allah pada kita, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita dan apa yang akan dilakukan Allah pada kita besok hari. Terkadang maksiat yang dilakukan karena lemah, bisa membuat pelakunya insaf dan lembut hatinya karena penyesalan. Sedangkan mereka yang melanggar dengan bangga dan peremehan, ditakutkan baginya akan su’ul khatimah.

Nas’alullahal ‘afwa wal ‘afiah…

(Saief Alemdar)