Saat Daniel galau menentukan keimanan...

Setau gue, dulu Daniel Mananta itu seorang kristen yang taat. Pernah nonton videonya sedang cuap-cuap diatas panggung, berusaha ikut menyebarkan ajaran trinitas kepada khalayak ramai. Sah-sah saja, namanya juga usaha. Tak ubahnya seperti artis-artis muslim yang telah berhijrah lalu ikut berdakwah secara offline atau online lewat media sosial.

Tapi namanya iman, adakalanya mengalami pasang surut. A few years ago, Daniel getol menyebarkan ajaran trinitas. Tapi sekarang, tampaknya ia sedang dalam proses mencari makna ketuhanan. Ya, Daniel Mananta sedang galau secara spiritual.

"Tau darimana kalau Daniel Mananta sedang galau? Sok tau lu!"

Simak aja video si Daniel yang akhirnya menuai kontroversi. Ia membuat video itu setelah bertemu dengan UAS. Ada 5 hal yang disampaikan Daniel Mananta. Poin 1 sampai 4 tergolong normatif. Poin kelima, Daniel berujar kalau simbol salib dihuni 'unclean spirit' (roh najis/roh yang tidak suci).

“Ini mungkin sebuah kejutan, ternyata gue juga setuju sama UAS soal ini. Bahwa, kalau gue mungkin sebutnya ada unclean spirit. Ketika patung yang dibuat manusia disembah,” kata Daniel dalam video yang diunggah diberbagai akun media sosial miliknya.

Ucapan Daniel Mananta itu tentu disambut gembira oleh sebagian muslim.
"Masya Allah tabarakallah, bang Daniel mulai menemukan hidayah"
"Semoga segera mengucap kalimat syahadat. Welcome to the club bro"

Begitulah sebagian komentar yang masuk. Yang muslim merasa Daniel telah dekat dengan ajaran Islam. Tapi orang katholik/protestan yang mendengar dan melihat video itu sudah pasti merasa jengah. Daniel dianggap telah menciderai ajaran trinitas.

Apakah Daniel begitu karena dikompori UAS? Jelas tidak. Terkait konten ceramah UAS yang menyinggung simbol salib, sudah beliau jelaskan berulang kali. Hal itu dilakukannya untuk menjawab pertanyaan salah seorang jemaah. TKP nya dimasjid, didepan hadirin yang 100% beragama Islam.

Salahkah UAS berucap demikian? Tentu tidak. Wong beberapa pendeta dan pastur juga melakukan hal yang sama, mengatakan ummat agama lain sebagai domba yang tersesat. Sah-sah saja berkata seperti itu dalam kaitannya untuk mempertebal keyakinan internal umatnya.

Perkara muncul ketika khutbah pendeta atau ustad diunggah ke media sosial. Yang semula bersifat privat, ruang lingkupnya terbatas, berubah menjadi public. Maka suara sumbang pun bermunculan, ustad atau pendeta tadi dicap intoleran, menyebar permusuhan, bermain SARA. Padahal bukan mereka yang mempublish konten ceramah itu, tapi orang lain.

Bagaimana dengan Daniel Mananta yang secara sengaja dan sadar mempublish ocehannya kalau lambang salib dihuni 'unclean spirit'? Jelas membuat ummat kristen/katholik tersinggung. Daniel mendapat pujian sekaligus cemoohan.

Apa yang dilakukan mantan VJ MTV itu menunjukkan kalau ia sedang berada dalam fase krisis keimanan. Sampai tulisan ini gue buat, Daniel masih tercatat sebagai penganut ajaran trinitas. Ia belum mengucap syahadat, namun sudah berani 'mendiskreditkan' simbol-simbol kekristenan.

"Tapi Daniel sudah benar bro. Ia menukil Yesaya 44 ayat 13-20. Orang kristen emang gak dibolehkan menyembah patung"

Haduuuhh.... gue tuh paling males membahas kitab suci agama lain. Memahami ayat dalam Al Qur'an aja belum tuntas. Ibadah belum tertib, ngaji masih belepotan. Asli, masih banyak PR gue sebagai ummat islam yang belum terselesaikan.

Sebagai muslim, gue tentu bahagia jika pada akhirnya Daniel Mananta masuk Islam. Tapi gue gak setuju dengan konten dalam videonya itu. Misalkan artis A semula beragama islam. Karena suka berinteraksi dengan pastur X, ia mulai tertarik dengan ajaran trinitas. Tetiba si artis nongol bikin konten di media sosial, mulai mendiskreditkan Ka'bah sebagai sesembahan ummat islam.

Gue tentu marah. Belum apa-apa si artis yang imannya sedang morat-marit kok sudah berani kurang ajar? Begitulah yang dirasa oleh orang-orang kristen saat mendengar ocehan Daniel Mananta tentang simbol salib.

Berdiskusi dengan UAS, silahkan saja. Mengunjungi UAS ke Pekanbaru, monggo. Semua itu baik untuk meningkatkan persaudaraan, menghilangkan rasa curiga sebagai sesama anak bangsa.

Namun, ketika seseorang sedang galau secara spiritual, mending gak usah main medsos dulu deh. Jika tertarik dengan ajaran Islam, pelajarilah Al Qur'an dalam sunyinya malam. Ketika telah yakin dengan ajaran tauhid, segera bersyahadat. Selanjutnya, mulai belajar sholat, mengaji dan lain sebagainya.

Mualaf yang benar seperti itu. Ada banyak hal yang mesti kalian pelajari dan ketahui. Seperti halnya belajar matematika, mulai dari mengenal hitungan kali bagi tambah kurang, setelah itu lanjut aljabar, integral dan lain-lain.

Masa transisi spiritual adalah periode kekosongan iman, sedang galau menentukan pilihan. Mau disebut kristen tapi gak lagi aktif ke gereja. Mau dibilang muslim, ngucap syahadat juga belum.

Di fase ini, lebih baik lu menyepi. Kalau tertarik dengan ajaran agama tertentu, menurut hemat gue tak perlu dibuat konten. Dan jika telah berpindah haluan, tak perlu menjelek-jelekkan sang mantan.

(By Ruby Kay)