Pak Jokowi, Perhatikanlah Suara Muhammadiyah... Ketum Muhammadiyah: Negara Jangan Ikut Terlibat Kontestasi Pemilu 2024

Pak Jokowi, Perhatikanlah Suara Muhammadiyah...

Ketum Muhammadiyah: Negara Jangan Ikut Terlibat Kontestasi Pemilu 2024

MERUJUK kepada Seruan Pimpinan Pusat Muhammadiyah..

(1) Negara, yang saat ini dikepalai oleh Bapak Ir. H. Joko Widodo, SEHARUSNYA tidak ikut terlibat dalam Kontestasi Pilpres 2024.

(2) Yang boleh dan memang semestinya dilakukan oleh Negara adalah menyiapkan PRANATA sekaligus PERANGKAT–nya, yang menjamin bahwa penyelenggaraan Pilpres 2024 bisa berlangsung dengan Luber dan Jurdil!

AKAN TETAPI, banyak pihak menilai BAHWA Kepala Negara yang sekaligus juga Kepala Pemerintahan Bapak Ir. H. Joko Widodo TERLALU IKUT CAMPUR URUSAN Pilpres 2024.

Pak Jokowi sangat layak untut patut diduga TELAH turut mendesain “proses dan hasil” untuk Pilpres 2024!

Lihat saja pernyataan Presiden Jokowi akhir-akhir ini kepada partai politik seperti seruannya agar partai berhati-hati memilih capres.

Juga pernyataan Presiden Jokowi yang mengatakan Pilpres 2024 jatah Prabowo.

Sangat tepat apa yang disampaikan Ketum Muhammadiyah, agar Negara jangan ikut terlibat dalam kontestasi Pemilu 2024.

Negara seharusnya jadi penyelenggara pemilu, bukan pemain!

***

Ketum Muhammadiyah: Negara Jangan Ikut Terlibat Kontestasi Pemilu 2024

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta pihak negara tak ikut terlibat dalam kontestasi Pemilu 2024 mendatang.

"Cara selanjutnya adalah menghadirkan negara dengan segala kekuatan pranatanya, namun tidak ikut terlibat dalam kontestasi," kata Haedar dalam keterangannya di laman resmi PP Muhammadiyah.

Haedar menilai kewibawaan negara penting dihadirkan sebagai penengah bila terjadi polarisasi di tengah masyarakat yang menyebabkan ketidakseimbangan di tubuh bangsa. Ia khawatir kewibawaan negara ini akan hilang jika negara ikut serta dalam kontestasi.

"Ini penting agar kita tidak terlibat dalam subjektivikasi politik yang akhirnya ketika terjadi pembelahan menyebabkan negara tidak bisa menjadi kekuatan yang berwibawa," tambah dia.

Lebih lanjut, Haedar memandang Pemilu 2024 merupakan kontestasi yang krusial. Ia berharap ada suasana baru yang membedakannya dengan tahun 2019, di mana pemilu menyisakan 'pertikaian' yang seakan tak berujung.

Ia pun berharap semua pihak menghindari hal yang membuat masyarakat terbelah. Semisal menghindarkan politisasi identitas agama, suku, ras dan golongan, bahkan ideologi tertentu.

"Apa sih suasana baru itu? Pertama, kita tidak mengulangi lagi yang selama ini kita resahkan bersama, dan pembelahan politik," ucapnya.

Selain itu, Haedar juga berharap kekuatan masyarakat seperti organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah menjaga jarak dari kontestasi. Hal ini untuk mencegah kejadian pembelahan sebagaimana Pemilu 2019 lalu.

"Terkait ini, Muhammadiyah konsisten berada pada posisinya menjaga jarak," kata dia.