"Salah Rakyat" sendiri ...

"Salah Rakyat" sendiri ...

Oleh: Tara Palasara

Salah satu sebab yang menjadikan kehidupan rakyat makin terpuruk adalah 'Mentalitas Pragmatis' yang ada pada diri (sebagian besar) Rakyat Indonesia sendiri.

Kok Bisa ???

Bisa! Alur logikanya begini:

Presiden Jokowi tidak akan mungkin bisa (maaf) ugal-ugalan dengan berbagai Kebijakan Pembangunannya, andaikan DPR menggunakan sepenuhnya Hak Kedudukannya sebagai Legislatif, yang oleh sebab itu BISA MENGONTROL PENUH Pemerintah. Maksudnya, tidak asal sekedar jadi YesMan atas usulan-usulan program dari Pemerintah.

LALU....

Lalu, kenapa DPR jadi "selemah" itu??? (setidaknya) ada tiga jawaban:

(1) Efek Politik Biaya Tinggi! Anggota DPR lebih konsentrasi pada pengembalian Dana Kampanye yang sudah pernah dikeluarkan. Jadi ...

JADI alih-alih sedemikian kritis kepada Pemerintah, mending dekat dan merapat kepada Pemerintah untuk agar Pemerintah SELALU MENYETUJUI kebijakan-kebijakan yang menyejahterakan anggota DPR. Contoh yang pernah menghebohkan, Pemerintah Jokowi menyetujui permintaan Kenaikan Tunjangan Anggota DPR.

*Silakan cermati juga yang lagi rame, Jenderal Dudung nyeplos bahwa Anggota Komisi ( di DPR ) terbiasa "minta-minta"

(2) Masih berhubungan dengan nomor 2, potongan Gaji Anggota Dewan untuk Partai yang mengusungnya jadi Caleg, lumayan besar di tiap bulannya. Belum, ketika dulu hendak nyalon, ada sejumlah uang yang harus disetor untuk Kas Partai.

(3) Anggota DPR lebih takut dan segan kepada Fraksi! lebih takut kepada Partai! DARIPADA dengan Konstituen (yang milih dirinya).

Contoh: saat pengesahan UU tentang Ibu Kota yang baru, ada (bahkan banyak) anggota Dewan yang sebetulnya tidak setuju, AKAN tetapi karena Partai melalui Fraksi memberikan arahan utk menerima, maka anggota DPR tidak bisa berbuat banyak.

Belum lagi, ketentuan ttg Pergantian Antar Waktu /PAW juga rentan utk dimain-mainkan.

--- --- ---

Untuk poin  yang nomor 3, memang perlu ada perubahan pada Undang-Undang tentang Partai Politik, yang pada intinya memberikan keleluasaan penuh bagi Legislator untuk agar aman & nyaman menyuarakan aspirasi Konstituen tanpa harus direcoki oleh Kepentingan Partai.

TETAPI untuk yang poin nomor 1, HANYA BISA DITANGGULANGI jika rakyat betul-betul steril dari transaksi yang terkategori sebagai money politic di saat jelang Hari H Pemilu.

Sederhananya, andaikan rakyat bisa menghilangkan mental pragmatis, dengan tidak mudah menerima "sogokan" Kaos, Amplop dan Bingkisan TENTUNYA anggota DPR juga tidak perlu keluar banyak biaya saat mencalonkan diri. Diharapkan, nantinya DPR terpilih betul-betul Hutang Budi kepada rakyat yang milih dengan sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi Konstituen, dan tidak sibuk mikirin cari pulihan /pengembalian modal kampanye.  Bahkan ....

BAHKAN, kalo saja DPR terpilih betul-betul tidak banyak mengeluarkan dana kampanye, MAKA idealnya dia juga tidak perlu terlalu takut kepada Fraksi/Partai,  karena andai saja sewaktu-waktu dipecat (karena betul-betul memperjuangkan kepentingan masyarakat) tidak mengalami kerugian finansial yang banyak.

--- --- ---

Sampai di sini, kita perlu mawas diri.... introspeksi.... KENAPA DI NEGARA YANG MAYORITAS PENDUDUKNYA BERAGAMA ISLAM, perilaku koruptif... materialistis... dan pragmatis.... sedemikian meruyak dan mengakar di diri masyarakat ???

Saya rasa itu bukan karena "takut miskin" ... atau "takut lapar" ... TETAPI karena TIDAK TAKUT DOSA  !!! !!! !!! dan bisa jadi fenomena ini adalah salah pembuktian keprihatinan para Alim Bijaksana : "Banyak orang beragama, TETAPI seperti orang yang tidak berTuhan", karena agama masih sebatas formalitas dan ritualitas.

APALAGI....

Apalagi, saya paling gemes dengan sinyalemen "Rakyat Sengaja Dimiskinkan AGAR Mudah Dibeli Saat Pemilu"

Lha kok mau .... ??? dimiskinkan.   Lha kok dibiarkan... ??? oleh masyarakat muslim itu sendiri.  Bukankah di Islam ada Ajaran tentang Zakat, infaq dan Shodaqoh ??? Lalu bagaimana dengan pengaplikasiannya di lingkungan terkecil...  *mari kita sibuk teliti mengadili diri, karena di akhirat jauh lebih detil dan presisi pengadilannya.

JADI....

JADI, seyogyanya ... kebiasaan mengkritisi Pemerintah SEBAIKNYA DIIMBANGI dengan mawas diri dan selanjutnya mengoreksi diri.

Semoga ALLAH SWT Menolong Kita. Amin Ya Rabbal Aalaamiin.

(fb)