Mengapa Bali tetap Hindu?

Mengapa Bali tetap Hindu?

Oleh: Muh. Nursalim

Satu lagi rasa penasaran saya tentang pulau itu belum terjawab. 

“Mengapa Bali mayoritas penduduknya tetap beragama Hindu. Padahal pulau di sebalah baratnya yaitu Jawa Islam dari ujung kulon sampai ujung wetan, demikian juga provinsi di sebalah timurnya yaitu NTB juga mayoritas Islam”.

“Hindu, Islam atau Kristen itu hak asasi”.

Itu jawaban politisnya tetapi tidak ilmiah. Yang ingin saya cari itu sejarahnya gimana, kok pulau Bali seperti kelewatan. Orang yang hidup belakangan hanya menerima keadaan apa adanya.

Kontras sekali ketika masih di pulau Jawa dengan saat sudah di pulau Bali. Seperti kita ketahui ujung paling timur pulau jawa adalah Ketapang bagian dari Kabupaten Banyuwangi. Di tempat ini masih banyak kita temukan masjid, jajan di warung-warungpun rasannya nyaman, tidak khawatir ada campuran babi. Perasaan berbeda ketika sudah menyeberang.  

Untuk menjawab penasaran tersebut saya kutibkan tafsir Haqy terhadap ayat 24 surat Ghafir berikut:

إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ [غافر/24]

Nabi Musa diutus Allah kepada Fir’aun, Haman dan Qorun, tanggapan mereka kepada utusan Allah itu, mereka menuduh bahwa Musa itu tukang sihir dan pembohong besar.

Bahwa Allah memilih tiga orang tokoh Mesir untuk didakwahi utusannya. Mereka itu tokoh sentral yang mengendalikan penduduk Mesir dan alamnya, yaitu Fir’aun sebagai pemimpin utamanya kemudian Haman sebagai teknokrat yang menjaga marwah sang raja serta Qorun sebagia tokoh ekonomi yang memakmurkan negeri Mesir. Fokus dakwah kepada tiga tokoh tersebut karena ada kaidah:

والناس على دين ملوكهم

"Manusia itu pada umumnya mengikuti agama para pemimpinnya."

Dengan menyasar tokoh puncak dari piramida sosial masyarakat Mesir diharapkan seluruh penduduk Mesir menjadi beriman kepada Musa. Walaupun faktanya mereka justru menentang Musa. Dan penentangan itu diikuti oleh sebagian besar penduduk Mesir.

Fenomena Bali dapat ditelaah dengan teori ini, yaitu bahwa masyarakat itu mayoritas akan mengikuti agama rajanya. Sang raja muslim akan menjadi muslim, sebaliknya jika Hindu juga akan mengikuti Hindu. Bila dirunut sejarahnya keadaan Bali tidak jauh berbeda dengan era Fir’aun tersebut. 

Pada buku Nagarakatagama diceritakan bahwa pada 1265 tahun saka Bali ditundukkan Majapahit. Kerajaan yang berpusat di Mojokerto itu beragama Hindu sehingga mayoritas penduduk wilayah kekuasaannya juga mengikuti ajaran Hindu. 

Di Bali ada kerajaan yang menjadi satelit Majapahit, yaitu kerajaan Gelgel. Di tengah masa pancaroba runtuhnya Majapahit, lalu berdirinya kerajaan Islam Demak dan kedatangan Penjajah Belanda,  raja Gelgel memainkan peran yang sangat penting kokohnya Hindu di Bali.

Ada sebuah buku yang pas untuk menjelaskan masalah ini yaitu karya Robert Pringle (2004) A Short History of Bali: Indonesia’s Hindu Realm

Paling tidak ada empat penjelasan yang logis, mengapa Bali tetap Hindu.
Pertama, Bali tidak pernah secara nyata “anti Islam”, walaupun memiliki budaya yang berbeda. Ini sebabnya Bali tidak pernah merasa harus ditundukkan oleh Kerajaan Islam, terutama Mataram di Jawa.

Kedua, berkaitan dengan momentum, sejak runtuhnya Majapahit kemudian Pajang-Jipang-Demak sampai Mataram yang paling kuat, setidaknya ada jeda selama 100 tahun. Saat Majapahit runtuh dan Gelgel menguat, Mataram belum terlalu kuat. Walaupun Mataram dapat mengusir Gelgel dari Blambangan, Gelgel masih terlalu kuat untuk ditaklukkan.

Ketiga, ketika Mataram mulai menguat dan Gelgel mulai melemah, datang Belanda yang membuat Mataram harus membagi konsentrasi. Mataram juga dilemahkan oleh konflik-konflik internal.

Keempat, Mataram menjadi defensive saat kekuatan Belanda menguat, tak lagi memikirkan ekspansi. Mataram justru semakin kehilangan wilayah kekuasaannya seiring dengan menguatnya Belanda. Karena Mataram yang melemah, tidak ada keuntungan yang didapat dari penguasa di Bali untuk memeluk Islam. Pecahnya Gelgel tahu 1690 menjadi sembilan kerajaan kecil justru memudahkan Belanda mengontrol Bali di periode-periode akhir masa kolonial. Sembilan Kerajaan di Bali ditaklukkan Belanda hanya dalam waktu 60 tahun (1849-1908).

Memang ada tujuh tokoh da’i yang berdakwah di Bali, terkenal dengan nama wali pitu. Mereka adalah Wali Seseh Mangwi, Wali Bukti Bedugul, Wali Karangrupit, Wali Negara, Wali Kusamba, Wali Kembar Karangasem dan Pangeran Sosrodinigrat. Tidak seperti wali songo yang mengawal berdirinya kerajaan Islam di Jawa pasca Majapahit runtuh wali pitu di Bali tidak berhasil mengislamkan raja-raja di pulau dewata tersebut.

Mesir pernah menjadi Syi’ah karena dinasti Fatimiyah yang berkuasa saat itu berpaham Syi’ah, Bagdad pernah menjadi mu’tazilah karena khalifah Al Makmun bermazhab mu’tazilah, penduduk Arab Saudi umumnya bermazhab Wahabi karena kerajaan mengikuti paham tersebut, orang Jawa umumnya muslim karena kerajaan mataram Islam dalam waktu yang lama berkuasa di Jawa. Penduduk Spanyol dalam waktu 400 tahun pernah mayoritas muslim karena rajanya beragama Islam. Lalu berubah Nashrani karena penguasa Islam dikalahkan.

Begitulah, manusia itu pada umumnya mengikuti agama rajanya. Karena itu dakwah di lingkungan kekuasaan itu penting. Karena kebijakan raja itu dapat mempercepat islamnya masyarakat atau sebaliknya. Bahkan ada ulama yang mengatakan, mengamalkan Islam itu yang tepat adalah lewat kekuasaan. 

Wallahua’lam.

Baca juga :