Jaksa Pinangki dan Kebodohan Harun Masiku

Kebodohan Harun Masiku

Harun, dimana pun kamu berada, semoga kamu baca tulisan ini.

Lihatlah Jaksa Pinangki ini. Dia kena pasal yg serius sekali. Bantu buronan koruptor. Penegak hukum, bukannya menegakkan hukum, eh malah bantu buronan. Dihukum 10 tahun, direvisi jadi 4 tahun, potong sana-potong sini, bebas bersyarat deh. Nggak sampai 2 tahun loh.

Maka, kamu itu bodoh Harun. 

Kasus kamu itu kan lebih 'ringan'. Hanya nyuap KPU, agar meloloskan kamu jadi anggota DPR pengganti. Ringan banget loh itu. Paling akhirnya dihukum beberapa tahun, potong diskon sana-sini, keluar deh. Lah, kamu milih kabur. Malah jadinya bertahun-tahun kamu "dipenjara", tdk bisa bebas kemana-mana.

Atau kasus kamu itu berat? Apakah kamu seorang diri yg menyuap KPU? Atau ada elit partai lain yang terlibat? Cuma nanya loh ini. Jangan baper. Karena ssst, KPK serius nyari tdk? Atau ehem, mereka selow saja. Santuy.

Entahlah, dimana Harun Masiku sekarang. Tidak ada yang peduli. Elit PDIP juga tdk peduli nasib kadernya ini. Elit PDIP lagi sibuk nangis kayaknya. Eh, nggak juga ding.

Di negeri ini, nenek-nenek tua hanya gara-gara buah sebiji bisa dihukum serius sekali. Pencopet bisa dibakar hidup-hidup, tapi orang-orang kaya, orang-orang berkuasa, mereka dihukum hanya utk lucu-lucuan saja. 

Setiap 17 Agustus, mereka dapat remisi. Sempurna sudah. Dulu pahlawan berjuang melawan penjajah. Hari ini, koruptor dapat diskon setiap 17 Agustus. 

(By Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah')

*fb