"Andai Brigadir J, seorang Muslim. Kemungkinan Sambo akan lolos..."

"Andai Brigadir J, seorang Muslim. Kemungkinan Sambo akan lolos..." kata seorang kawan. 

Dan komentar yang sama banyak saya temukan berseliweran di Medsos.

Ungkapan ini cukup menggelitik bagi saya. Terasa pahit. Tapi memang kebenaran yang terlalu sukar untuk dikesampingkan.

"Cukup sebut aja si Korban terpapar Teroris. Terus di Kamarnya ditemukan buku-buku jihad. Atau cukup Buku Tata Cara Sholat. Selesai barang itu. Kasus ditutup. Sambo malah dapat penghargaan. Membongkar kasus Terorisme di tubuh Polri!"

Begitulah. Memyakitkan. Ini cuma pendapat yang beredar di masyarakat. Tapi ada setitik nilai kebenaran yang membuat nurani terketuk.

Begitu banyak kasus kekerasan Aparat yang berujung hening. Tidak banyak yang berani mempertanyakan. Kemungkinan segan. Kemungkinan ketakutakan. Hanya karena kasus kekerasan yang biasanya berujung kematian tersebut dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme.

Sebut saja kasus Ustadz Siyono, Dokter Sunardi dan Tragedi Pembantaian KM 50.

Saya tidak menafikan aksi terorisme yang sudah terjadi di Negara kita. Sebut saja Tragedi Bom Bali dan Bom Sarinah. 

Kita harus mengakui juga. Ada kelompok kecil manusia bejad yang tersesat. Mengaku membela Agama tapi membunuh orang yang tidak bersalah. Padahal di Al-Quran jelas-jelas dikatakan "membunuh satu manusia yang tidak bersalah sama saja dengan membunuh semua umat manusia". Sebaliknya kalau "memelihara kehidupan seorang manusia sama dengan memelihara kehidupan manusia semuanya"

Sungguh sebuah Ayat Allah yang sangat indah dan sangat sempurna.

Jadi kalau memang benar-benar teroris. Dibuktikan didepan Pengadilan, bukan cuma layak dihukum mati. Tetapi juga dimatikan dengan pelan-pelan. Misalnya dipotong anggota tubuhnya satu demi satu setiap jam. Sampai si teroris mati dalam kesakitan yang mengerikan.

Tapi kalau orangnya baru terduga. Kemudian dimatikan. Kasihan. Atau sebaliknya dimatikan. Kemudian tinggal dikaitkan dengan Terorisme. Padahal bisa saja hanya karena menjadi lawan Politik Penguasa. Gila. Mau dibawa kemana bangsa kita?

Harapan saya, saatnya bangsa kita berbenah. Membentuk Polisi yang benar-benar menjadi Petugas dan Pengayom masyarakat. Bukan jadi "tukang pukul" kekuasaan. Menggebuk Rakyat yang dianggap lawan Kekuasaan. Kalau mati cukup labeli dengan terorisme. Selesai.

(Azwar Siregar)

*fb