Akademisi: Kualitas Kepemimpinan Anies Baswedan Luar Biasa, Sangat Layak Jadi Presiden

[PORTAL-ISLAM.ID]  Akademisi Universitas Islam 45′ Bekasi atau Unisma Bekasi, Hidayat Tri Sutardjoe menilai kualitas kepemimpinan Anies Baswedan sangat luar biasa. 

Sosok Anies, kata dia, tidak pernah marah yang membabi-buta atau berlebihan pada siapapun.

“Bukan dalam marah yang membabi buta. Orang biasanya kalau marah kan ke luar binatang semua. Pak Anies enggak. Marahnya itu marah adem, mendidik,” katanya.

Sifat tersebut, lanjut dia, terlihat hingga Anies menjadi orang nomor satu di Ibu Kota. 

Ia juga membandingkan dengan pemimpin sebelumnya di Jakarta. Anies, menurutnya, lebih beradab dan santun. 

“Itulah alasan mengapa Anies sangat dicintai oleh masyarakat di Jakarta,” jelasnya.

Menurutnya, sifat kepemimpinan mantan Rektor Universitas Paramadina itu sangat cocok dengan budaya di Indonesia, yang masyarakat yang selalu mengedepankan adab dan sopan santun dalam hal apapun, termasuk dalam kepemimpinan.

“Ya di Indonesia sangat relevan. Orang suka kesantunan dia, karena gaya-gaya komunikasi dia yang tidak membuat orang marah,” ujarnya.

Hidayat Tri Sutardjo juga melihat, suami Fery Farhati tersebut memiliki kualitas kepemimpinan yang sangat luar biasa. 

Jadi, sangat disayangkan jika hanya jadi gubernur saja.

“Sebenarnya menurut saya, sayang kalau hanya jadi gubernur. Jadi presiden pun InsyaAllah akan lebih bagus,” katanya.

Pria asal Malang, Jawa Timur itu menyampaikan, kepemimpinan Anies sudah teruji di Ibu Kota. 

Menurut dia, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu sudah mampu melunasi janji-janjinya kepada masyarakat.

“Karena sudah teruji, sudah teruji karena beliau menerapkan semua ilmunya (di Jakarta),” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyinggung soal mental kepemimpinan Anies. 

Meskipun hujan hinaan dan hujatan, Anies tetap fokus bekerja dan berkarya. 

Anies adalah sosok yang tangguh dan tak membalas perbuatan negatif yang ditujukan kepada dirinya.

“Dengan kepribadian dia dan ilmunya dia itu sehingga dia bisa mewujudkan (janji-janjinya) itu. Bekerja dalam kesunyian. Istilahnya begitu kan. Biarlah orang lain berkoar-koar, tapi dia punya dasar (ilmu),” ujarnya. [WB]