Motif, Kejanggalan dan Dilema Polisi

Motif dan Dilema Polisi

Oleh: Kardono Ano Setyarakhmadi

BEGITU mendapat pertanyaan, Dirtipidum Bareskrim Mabes Polri Brigjen Andi Rian langsung menjawab lugas. “Itu kan keterangan tersangka (FS) di BAP,’’ katanya, lugas dalam jumpa pers Kamis (11/8/2022) tadi malam. 

Sebelumnya, seorang jurnalis bertanya dengan minta penegasan apakah “pelecehan” menjadi motif terjadinya penembakan Brigadir J yang menghebohkan tersebut.
 
Jawaban jenderal dengan bintang satu di pundak tersebut mengisyaratkan satu hal: bahwa pelecehan itu merupakan pengakuan Ferdy Sambo dan sejumlah saksi lainnya. Namun, polisi belum bisa menyimpulkannya. 

Sebagaimana diketahui, bahwa pengakuan belum kuat menjadi alat bukti. Itulah kenapa, Andi Rian sebelumnya memaparkan bahwa pihaknya masih memerlukan keterangan saksi dan alat bukti lainnya untuk bisa menyimpulkannya. Terutama pada perkara pelecehan seksual yang juga ikut dilaporkan.
 
Soal motif ini memang sungguh luar biasa. Bukan termasuk sesuatu yang harus dibuktikan dalam penyidikan, namun keingintahuan publik begitu luar biasa. Hingga menimbulkan spekulasi macam-macam, seram-seram, dan kadang jika dipikir lucu juga. Yang pertama, ada teori bahwa sebenarnya ini merupakan kecemburuan homoseksualitas. Bahwa yang bermain asmara itu justru Irjen Ferdy Sambo dan Brigadir J.
 
Kelihatan lucu dan tak masuk akal? Jangan salah. Setidaknya, ada tiga orang teman saya yang saya ketahui intelektualitasnya tinggi yang percaya pada teori ini. Kemudian, ada teori swinger (tukar pasangan). Lalu, kemudian, dari pengacara keluarga Brigadir J, Komaruddin Simanjutak, menyebut bahwa J dibunuh karena mengetahui rahasia bisnis gelap sang jenderal, mulai dari judi hingga sabu-sabu. Sesuatu yang tentu saja sangat susah dibuktikan.
 
Namun, arus paling utama adalah pelecehan dan perselingkuhan, sesuatu yang memenuhi kriteria dari pernyataan pak Mahfud MD “sangat sensitif dan hanya orang dewasa saja yang boleh tahu.”
 
Pada titik inilah, dilema Polri. Aparat berbaju cokelat itu belum menyimpulkan apa pun. Yang baru diterimanya adalah pengakuan keterangan dari Irjen FS, PC (istrinya), dan keterangan dua orang lainnya, yakni Kuwat dan Susi, dua Asisten Rumah Tangga-nya. Jika dipaksa harus menjelaskan, maka ya bisanya hanya menjawab, berdasarkan keterangan saksi dan tersangka, yakni pelecehan.
 
Di saat yang bersamaan, netizen langsung menolaknya, dan menganggap Polri kembali menguatkan narasi Sambo: yakni pelecehan. Kemudian, netizen menganggap bahwa ini Mabes Polri kembali melindungi Sambo -sesuatu yang jelas-jelas berbeda 180 derajat dengan penetapannya sebagai tersangka.
  
Pengakuan

Menurut ulasan banyak media, bahwa apa yang menjadi motif itu terjadi di Magelang. Yakni, terjadinya pelecehan tersebut. Dalam konteks kasus ini, maka keterangan hanya bisa didapatkan dari orang-orang terkait. Dari laporan sejumlah pihak dan media, dalam hal ini yang sudah memberikan keterangan adalah Irjen Ferdy Sambo, Putri Chandrawati, Susi, dan Kuat.
 
Yang pertama adalah keterangan Irjen Ferdy Sambo. Dia mengaku emosi setelah mendengar istrinya dilecehkan di Magelang. Kemudian, Putri Chandrawati dalam keterangannya menyebut keterangan serupa. Bahkan, keterangannya di BAP menyebutkan sampai sudah terjadi peristiwa intercourse. Artinya, sudah bukan pelecehan lagi, tapi sudah pemerkosaan.
 
Kemudian, keterangan Kuwat dan Susi menguatkan keterangan itu. Bahwa mereka melihat Brigadir J mengendap-endap, lalu kemudian masuk ke kamar istri sang jenderal. Lalu, kemudian mereka mendengar jeritan Putri, yang kemudian menangis.

Kejanggalan

Seperti pernyataan Brigjen Andi, tentu saja ini merupakan pengakuan tersangka dan saksi di BAP. Yang kesemuanya masih membutuhkan alat bukti lainnya dan keterangan saksi-saksi lainnya pula. Karena, memang ada beberapa hal yang harus dikritisi. 

Yang pertama, adalah kesaksian tersebut dibuat baru-baru ini. Jika memang terjadi tindak pemaksaan pelecehan, bagaimana bisa berubah cepat. Dari di rumah dinas, kok kemudian tiba-tiba TKP pindah ke Magelang?
 
Yang kedua, Brigadir J bersikap biasa-biasa saja, bahkan ketika sampai di Saguling dan rumah dinas FS yang jadi TKP di Duren Tiga. Seseorang yang baru saja memperkosa istri atasannya, yang polisi sangar, itu sama saja dengan menandatangani akte kematiannya sendiri. Yang lebih logis, adalah Brigadir J tentu saja bersikap ketakutan, atau bahkan kabur usai melakukan pemerkosaan. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Brigadir J.
 
Namun, satu hal yang jelas, bahwa motif Irjen Ferdy Sambo melakukan pembunuhan adalah karena memang benar-benar emosional. Hanya, yang menjadi pemicu adalah emosi apakah karena istrinya diperkosa atau istrinya bermain api dengan ajudannya, itu yang menjadi pertanyaan. Pihak FS dan PC tentu saja bersikeras itu kekerasan seksual, sementara masyarakat kadang punya pendapat lain berdasar fakta-fakta yang ada.

(fb)