CCTV Rekayasa

CCTV

Oleh: Kardono Ano Setyorakhmadi

CNN mendapatkan kompilasi rekaman CCTV bikinan Polda Metro Jaya. Setidaknya, dari sana kita bisa sedikit punya gambaran mengenai apa yang terjadi. Bagaimana Irjen FS (Ferdy Sambo) ketahuan berbohong dengan alibinya yang menyebutkan dirinya tak berada di TKP saat peristiwa penembakan itu terjadi.

Ini adalah kompilasi rekaman CCTV yang dianggap Mabes Polri telah direkayasa, dan membuat sejumlah perwira menengah di Polda Metro Jaya kini diperiksa dalam kaitan rekayasa barang bukti CCTV. Karena terbukti ada rekaman yang ternyata diambil dari hari lain.

Tidak semua rekaman CCtV itu palsu. Hanya ada beberapa bagian yang diambil dari hari lain, seperti penampakan Brigadir J pada pukul 17.00. Hasil pemeriksaan sementara Mabes menunjukkan bahwa Brigadir J terakhir terlihat hidup di rekaman CCTV hari itu pada pukul 15.49.

Tujuan dari merekayasa kompilasi rekaman CCTV tersebut adalah untuk membuat Irjen FS seolah-olah tidak ada di TKP. Saya tidak tahu CNN menerimanya juga tidak, bersama dengan rekaman tersebut, biasanya juga ada lembar analisa kronologi. Salah satu isinya adalah disebutkan bahwa pukul 17.11, PC (istri Sambo) sempat melakukan panic call tiga kali. Pertana berdurasi 15 detik, yang kedua 5 detik, dan yang ketiga missed call, karena FS sudah tiba. Ini membuat seolah-olah FS baru datang setelah kejadian, karena ternyata tiga panic call tersebut ternyata juga rekayasa.

Jadi untuk menunjukkan alibi bahwa dirinya tak ada di TKP saat penembakan itu terjadi, Irjen FS bisa meminta sejumlah polisi untuk merekayasa CCTV.

Berdasar pengakuan Bharada E yang terbaru dan kesesuaian dengan fakta di TKP, ketika itu yang masuk kali pertama adalah Ny PC. Dia langsung masuk kamar. Kemudian Kuwat (asisten rumah tangga) dan Bripda Ricky berada di ruang tamu. Sementara Bharada E berada di lantai ke dua, sebelum beberapa saat kemudian dipanggil Irjen FS untuk turun ke bawah. 

Kemudian, Irjen FS memerintahkan ajudannya untuk memanggil Brigadir J, yang saat itu berada di garasi. Begitu masuk, Brigadir J langsung dipegang dan didorong pundaknya, dan Irjen FS kabarnya sempat berseru: “ngapain kamu nyakitin ibu? Richard, tembak dia.” Richard alias Bharada E langsung menembak (yang konon dilakukannya sambil menutup mata), untuk kemudian Irjen FS juga menembak Brigadir J, sebelum kemudian menembaki tembok. 

Ya, keterangan Bharada E ini berbeda dengan keterangan pertamanya saat baru mengaku (yang kala itu, kuasa hukum barunya menyebutkan bahwa Bharada E baru turun dari lantai dua dan melihat Irjen FS berdiri memegang senjata di samping sosok Brigadir J yang sudah tergeletak. Yang mana Irjen FS kemudian memerintahkannya untuk menembak).

Peristiwa itu terjadi antara 17.10 - 17.20, yang patokannya terlihat dari rekaman CCTV yang menunjukkan pada pukul 17.20, FS dan istrinya sudah kembali ke kediamannya di Jalan Saguling. 

Kemungkinan ke depan, beberapa detail bisa saja masih berubah. Karena penyidik terus mencocokkan keterangan, dan melakukan verifikasi atas keterangan itu untuk bisa mendapat gambaran apa yang terjadi. Meski detail berubah, tapi kesimpulan bahwa Irjen FS sebagai aktor intelektual semua kehebohan ini dan tidak ada peristiwa baku tembak, masih tetap solid.

(*)