Apa Salah 6 PEMUDA Ini...???

Apa Salah 6 PEMUDA Ini...???

بسم الله الرحمن الرحيم

□ Tanggal 10 November 2020, IB HRS kembali ke Tanah Air, setelah 3 tahunan bermukim di Saudi.

□ Beliau pulang karena kondisi negara sangat GENTING. Beliau tidak mau hanya melihat dari kejauhan.

□ Setelah pulang, beliau bertemu jamaah dan keluarga besarnya, silaturahim dengan tokoh-tokoh Muslim. Beliau adakan syukuran dan melakukan kegiatan-kegiatan keluarga, dan seterusnya.

□ Tidak lupa beliau lakukan cek kesehatan di RS Ummi Bogor dan mengaku kondisi baik-baik saja.

□ Namanya orang Muslim ya, kalau ditanya "bagaimana kabar" pasti akan mengatakan BAIK-BAIK SAJA. Meskipun bisa jadi ada kekurangan tertentu pada dirinya. Inilah ADAB manusia bersyukur.

□ Tapi nanti, pengakuan sehat ini dipersoalkan oleh Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Malah ia dijadikan delik pelanggaran hukum.

□ Kira-kira sebulan setelah pulang ke Tanah Air (6 Desember 2020), IB HRS akan mengadakan pengajian keluarga di kawasan Karawang. Beliau dan rombongan dikawal beberapa mobil para pemuda FPI.

□ Pengawalan ini wajar karena:
a. Mereka melakukan perjalanan saat malam, hingga dini hari.
b. IB HRS bukan tokoh kaleng-kaleng, tapi sudah menjadi ikon Umat Islam di Indonesia. 
c. Bukan rahasia lagi, beliau kerap mengalami intimidasi dari kelompok-kelompok Islamophobia. Alasan beliau pergi ke Saudi pun, karena alasan keamanan diri dan keluarga.

□ Saat rombongan IB HRS masuk jalan tol Jakarta-Cikampek, tidak terduga ada sekian mobil, yang tidak diketahui IDENTITAS-nya, memepet rombongan beliau. Tentu saja secara REFLEK pihak Ib HRS dan pengawalnya segera SIAGA. Meskipun belum tahu siapa pelaku pemepetan itu, secara sekuritas wajib bereaksi. Terlebih bagi para PENGAWAL rombongan yang memang hadir untuk mengamankan dari segala bahaya dan ancaman.

□ Alhamdulillah, kendaraan liar yang melakukan pemepetan itu berhasil dihalau oleh para pengawal IB HRS. Beliau dan keluarga selamat sampai tujuan. Tetapi nasib para pengawal beliau, tidak ketahuan.

□ Setelah kejadian itu, Kapolda Metro Jaya, Fadil Imran membeberkan peristiwa di KM50 tersebut. Inti dari omongan Fadil adalah:
a. Orang-orang yang memepet rombongan IB HRS itu adalah para polisi, tetapi memakai pakaian sipil (bukan atribut polisi).
b. Beberapa pengawal IB HRS (6 orang) berhasil dilumpuhkan karena mereka melawan polisi dan terlibat tembak-menembak dengan polisi.

□ Tapi banyak yang aneh dari omongan Fadil tersebut, antara lain:

a. Mengapa aparat polisi dengan pakaian sipil memepet kendaraan rombongan IB HRS? Apa tujuan mereka melakukan hal itu? Apakah pantas saat malam-malam (dini hari) memepet kendaraan orang lain tanpa ada kesalahan yang dilakukan, juga tanpa surat perintah yang jelas?

b. Apa maksud dan tujuan dari para polisi itu terhadap pribadi IB HRS? Apakah ingin menangkap beliau, atau ingin membinasakannya? Kalau mau menangkap, apa kesalahan beliau secara hukum? Kalau mau membinasakan, apa kesalahan beliau terhadap NKRI ini sehingga harus dibinasakan? Status IB HRS saat kejadian itu baru terlapor, belum ditetapkan sebagai Tersangka.

c. Seandainya para pengawal IB HRS itu dianggap salah, mengapa tidak ditangkap lalu diadili secara hukum? Mengapa mereka dibunuh, bahkan disiksa dengan kejam?

d. Para pengawal itu dituduh menyerang aparat, bahkan dituduh tembak-menembak. Si aparatnya memakai kostum sipil sehingga TIDAK TERIDENTIFIKASI sebagai polisi. Di ormas FPI sendiri tidak dikenal ada latihan tembak-menembak. Kalau FPI secara organisasi melatih laskarnya tembak-menembak, barulah narasi begitu bisa diterima. Namanya tembak-menembak, haruslah didahului oleh suasana kejiwaan bahwa yang bersangkutan sudah biasa dengan senjata api dan menggunakannya. Kalau orang sipil tidak pernah pegang senjata api dituduh "tembak menembak", itu tuduhan sangat lucu.

□ Tapi sebagaimana kejadian yang sering terjadi di negeri ini, bila ada peristiwa-peristiwa tragis berkaitan dengan Ummat Islam, narasinya cenderung sama. Sumbernya "monolog" dari Polri, kemudian diaminkan oleh para pejabat, oleh media-media, juga oleh para buzzer. Dalam kasus Tragedi KM50, fenomena seperti itu terulang dan terulang kembali. Ummat Islam selalu diposisikan sebagai radikal, intoleran, teroris. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sedangkan yang berlaku korup, tidak bisa mengurus negara, amoral, dan membahayakan nasib NKRI justru para PENUDUH tersebut. Mereka tidak kapabel, berlaku mafia, tetapi menjadikan Ummat Islam yang kritis sebagai kambing hitam. Untuk menyembunyikan kejahatannya, mereka menyelimuti diri dengan narasi "radikal, intoleran, teroris". Semoga Allah benamkan mereka dalam KEHINAAN sampai akhir hayatnya. Amiin amiin ya Rabbal 'alamiin.

□ Atas kejadian di atas, IB HRS menyampaikan, sejatinya beliau lah target utama dari operasi orang-orang tersebut. Tapi operasi mereka berhasil digagalkan oleh para pengawal itu. Kemudian sebagai konsekuensinya, mereka dibunuh dan disiksa.

□ Wajar jika banyak pihak menyebut para PEMUDA tersebut adalah Syuhada. Amin ya Rabbal 'alamiin. Sebab mereka berjuang sampai titik darah terakhir untuk menjaga, mengamankan, menyelamatkan ULAMA, tokoh besar kaum Muslimin di negeri ini.

Demikian sekilas, semoga bermanfaat. Terima kasih. 🙏🙏🙏 

(Sam Waskito)