PLUS-MINUS CITAYAM FASHION WEEK

PLUS-MINUS CITAYAM FASHION WEEK

Oleh: Naniek S Deyang (Eks Wartawan Senior)

Citayam Fashion Week atau SCBD (Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok), dua kalimat itu lagi ngehits di platform medsos.

Bermula dari anak-anak muda atau remaja dari Citayam yg suka nongkrong di Sudirman Jakarta, kini event dadakan itu menggemparkan jagad medsos dan jagad anak muda di dunia maya. 

Saya melihatnya dari dua persepsi: Dari sisi positifnya daerah Citayam yg dulu dikenal sebagai kawasan paling ujung Depok dan termasuk daerah "minus", kini terangkat dan orang yg gak ngerti dimana itu Citayam jadi nyari-nyari. Demikian juga daerah Bojonggede yg dulu suka untuk ledek-ledekan sebagai kawasan udik, kini juga terangkat dan berkibar. 

Positif yang lainnya adalah, Jakarta sudah memberikan ruang keadilan untuk anak-anak "udik" ini untuk mengekspresikan jiwa remaja mereka, karena mereka dibiarkan nongkrong di kawasan elite yg biasanya menjadi monopoli anak-anak orang kaya atau para sosialita. Dan belakangan malah mereka bisa menggelar acara-acara seperi peragaan busana ala jalanan.

Dengan memiliki ruang hidup keadilan layaknya remaja berduit, anak-anak Citayam, Bojonggedhe dll ini, secara psikologis akan bisa membuat mereka hidup punya "hak yg sama" meski terlahir tdk berpunya dari wilayah yg masuk kawasan pinggiran atau udik. Kelak mereka tidak akan minder menyebut diri sebagai anak Citayam.

Positif lainnya, dengan mereka melakukan kegiatan-kegiatan jalanan yg terpantau, karena Satpol PP DKI ikut menjaga, dan kegiatan yg terukur, ini juga bisa mengurangi kenakalan remaja.
Namun dari yg positif tadi ada sisi negatifnya, yaitu "pergaulan bebas". Jarak Jakarta-Citayam atau Bojonggede itu nggak pendek tapi jauh, sehingga tak jarang mereka harus menginap di jalan2 di kawasan Jakarta. Kemudian kalau pulang, bener pulang nggak nih? Jangan2 malah ngamar di tempat-tempat murah atau melakukan tindakan tidak senonoh di tempat remang-remang, maklum anak2 ini usianya masih belasan tahun.

Negatif lainnya lagi, mereka ini kan usia sekolah SLTA, bagaimana dengan sekolah mereka kalau tiap malam nongkrong atau begadang di jalanan Jakarta, kan sekarang sudah sekolah tatap muka?

Oleh karena itu perlu ada arahan dari Pemda DKI, misalnya di musim sekolah sudah mulai tatap muka seperti saat ini, mereka hanya boleh nongkrong di malam-malam libur sekolah. Satpol PP harus tegas membubarkan anak-anak nongkrong ini pada malam-malam bukan malam liburan.

Satpol PP juga harus melakukan operasi, dan membuat larangan tidak boleh anak-anak ini membawa minuman keras dan Narkoba!

Di sela-sela mereka nongkrong itu, mungkin bagus juga 10 menit diisi ceramah dari ustad muda dengan gaya dan bahasa yg bisa diterima mereka. Lalu dipasang beberapa layar lebar yg tdk permanen, yg memutar video2 pendek kisah anak-anak muda yg sukses utk memotivasi mereka jadi orang sukses juga.

Jadi nongkrongnya nggak hanya pamer busana yg tertuang dalam fashion week jalanan, tapi ada pengarahan dan juga pendidikan yg enteng2 tapi mengena utk mereka, sehingga nongkrong mereka adalah nongkrong yg melahirkan hal2 yg positif, selain bisa hura2.

(fb)