KONTROVERSI dan SERUAN BOIKOT pada KHATIB ARAFAH Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa


KONTROVERSI KHATIB MASJID NAMIRAH - ARAFAH - MINA (8 Juli 2022)

Oleh: Laila Nahwa Harun

Seumur-umur baru kali ini penulis melihat banyak meme beredar di sosmed Arab Saudi dan negara-negara Islam lain tentang ajakan "boycot" kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Al Issa yang ditunjuk langsung oleh Raja Salman sebagai Imam dan Khotib Sholat Jumat di Masjid Namirah Arafah - Mina hari Jumat 9 Djulhijjah 1443 H.

Apa dan siapakah beliau???

Sebelum membahas siapa sang imam dan khatib tersebut, ada baiknya kita mengingat kembali tentang MASJID NAMIRAH.

Masjid Namirah adalah masjid yang terletak di padang pasir tandus perbatasan antara Al-Haram dan Arafah, tepatnya di arah barat Jabal Rahmah (Bukit Arafah). Masjid dua lantai yang memiliki luas 124.000 m2 ini mampu menampung jamaah hingga 350.000 orang, memiliki 1000 kamar mandi dan 15.000 tempat wudhu. 
Pada musim haji setiap tahunnya Mufti Arab Saudi akan memberikan Khutbah Arafah dihadapan jamaah haji di Masjid ini. 

(Dan baru tahun 2022 kali ini seorang "mufti" yang ditunjuk menimbulkan kontroversi dan dibawah ancaman boycott). 

Masjid Namirah dipandang SAKRAL oleh umat Islam, karena salah satu saksi pertama kali Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji. 

Pada 9 Dzulhijah, ketika Rasulullah melaksanakan haji dalam perjalanannya dari Mina menuju Arafah, ia sempat menghentikan unta yang dibawanya. 

Ketika itu, sekitar waktu Dhuha, Rasulullah berhenti di Wadi Uranah dan mendirikan tenda berwarna merah. Rasulullah sempat beristirahat di tenda merahnya hingga waktu Zhuhur tiba. 

Setelah itu, Rasulullah baru bergerak ke tengah Padang Arafah dekat Jabal Rahmah yang diyakini sebagai tempat dipertemukannya Adam dan Hawa setelah "pengusiran" dari surga.  

Di lokasi Wadi Uranah itulah kemudian dibangun sebuah masjid, oleh seorang Khalifah Dinasti Abbasyiah pada abad ke2 Hijriah, yang kemudian diberi nama MASJID NAMIRAH. 

Sampai saat ini, setiap 9 Dzulhijah, aktivitas Rasulullah yang melakukan shalat Zhuhur dijamak dengan Ashar, masih tetap dilakukan oleh para jamaah haji. Dan, baru selepas Maghrib, jamaah meninggalkan tempat tersebut untuk kemudian menuju Muzdalifah (mengambil batu untuk persiapan Jumrah).

Oke kita kembali ke sosok kontroversial sang Khatib yang memimpin khutbah Jumat 8 Juli 2022 didepan jutaan jamaah haji seluruh dunia (dan disiarkan LIVE).

Muhammad bin Abdul Karim Al Issa saat ini merupakan Sekjen Liga Muslim Dunia, serta Presiden Organisasi Cendekiawan Muslim. 

Dia termasuk kelompok ulama 'moderat' di Arab Saudi. Ia  juga kerap mempromosikan membangun hubungan baik antar umat beragama. Diantaranya ia berkunjung ke Roma untuk silaturahim bersama Paus, mengunjungi Israel dan bersilaturahim dengan pemuka Yahudi moderat disana. Bersilaturahim dengan pemimpin agama Budha di Kamboja dan Thailand, dsb.

Bagi kalangan akademisi sosok Muhammad bin Abdul Karim Al Issa tidaklah asing, dia dikenal mempunyai jasa penting di sektor perdamaian agama, pernah menerima Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia, pada 25 Februari 2020 lalu.
Dia memberikan quote di beranda websitenya dengan tulisan: 

"Di luar politik yang sulit, bagaimanapun, para pemimpin agama Islam berbicara lebih serempak daripada sebelumnya. Pesan yang kami sampaikan adalah Islam moderat, dan mempromosikan perdamaian, toleransi, dan cinta. Kita harus mengesampingkan perbedaan kita dan merangkul keragaman agama dan budaya kita. Seperti yang diperintahkan Piagam Mekkah, kita harus membangun ikatan budaya dan agama satu sama lain, memperdalam pemahaman antara komunitas yang berbeda, membangun kemitraan yang beradab, berdiri bergandengan tangan melawan kebencian dan menyatakan sekarang dan selamanya bahwa setiap budaya adalah cerminan dari Tuhan. Hak dan eksistensi semua golongan tidak dapat diganggu gugat".

Kelompok mana saja yang kontra dengan dia??

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Ulama di Arab Saudi terbagi menjadi dua kelompok besar sejak pemerintahan Raja Salman dan Pangeran MBS sekarang, yaitu kelompok ulama moderat (dekat dengan penguasa di masa sekarang) dan kelompok ulama konservatif (agak menjaga jarak dengan kerajaan). Sehingga mempengaruhi pula dengan umat Islam, ada yang muslim moderat ada juga muslim komservatif. Kebanyakan ulama yang diangkat sebagai mufti pada masjid-masjid besar dan penting adalah dari kelompok ulama yang bersinergi dengan kerajaan. 

Sebenarnya masyarakat di Arab Saudi bukanlah type tukang protes seperti di Indonesia, kali ini kemungkinan mereka memang tidak terlalu sreg dengan sosok Muhammad bin Abdul Karim Al Issa. Wallahua'lam hanya masyarakat Saudi yang paling mengerti siapa sebenarnya beliau. Kita mah hanya penonton jarak jauh yang bisa berkomentar subjektif..🙏.

Saya kembalikan kepada antum semua untuk menilai sosok sang Khatib tersebut. 

(Sumber: fb penulis)
Baca juga :