3 Kunci Sukses Turki jadi Mediator Kesepakatan Gandum Rusia-Ukraina

Kenapa Turki Sukses jadi Mediator Kesepakatan Gandum Ukraina-Rusia?

Oleh: Pizaro | Pengajar HI Universitas Al-Azhar Indonesia

BERKAT mediasi Turki dan PBB, Ukraina dan Rusia pada 22 Juli 2022 resmi menandatangani perjanjian dimulainya kembali pengiriman gandum Ukraina dari pelabuhan Laut Hitam. Perjanjian ini telah dinanti-nantikan masyarakat internasional untuk menghindari krisis pangan akibat perang.

Ukraina, yang dikenal sebagai lumbung roti dunia, adalah pengekspor gandum terbesar kelima di dunia. Namun ekspor gandum Ukraina terhambat karena Rusia memblokade pelabuhan Laut Hitam.

Menurut PBB, dampak dari terhambatnya ekspor gandum Ukraina dapat melahirkan ancaman krisis pangan global dan kelaparan. Berdasarkan Program Pangan Dunia PBB (WFP), setidaknya 47 juta orang menghadapi “kelaparan akut” di tengah kekhawatiran krisis pangan global selama ekspor Ukraina ditutup.
 
Perang yang semakin dalam antara kedua negara ini juga melahirkan krisis ekonomi baik di dunia. Inflasi merajalela, daya beli masyarakat menurun, dan perbedaan antar kelas semakin melebar.

Rusia dan Ukraina adalah sama-sama lumpung pangan dunia. Kini, Ukraina dapat kembali melakukan ekspor ke berbagai negara dunia dengan melalui Laut Hitam dengan persetujuan Rusia dan pengawasan Turki.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menghadiri Upacara Penandatanganan Initiative on the Safe Transportation of Grain and Foodstuffs from Ukrainian Ports Document di Istana Kepresidenan Turki Dolmabahce bersama perwakilan dari Rusia dan Ukraina. Berdasarkan kesepakatan, sebuah pusat koordinasi akan didirikan untuk melakukan inspeksi bersama di pintu masuk dan keluar pelabuhan, dan memastikan keamanan rute.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan tujuan dari kesepakatan itu adalah untuk memfasilitasi navigasi yang aman untuk ekspor biji-bijian dan makanan lainnya dari pelabuhan Ukraina di Odesa, Chernomorsk dan Yuzhny.

Erdogan mengatakan dirinya bangga menjadi instrumen dalam inisiatif yang akan memainkan peran utama dalam solusi krisis pangan global. “Kami akan berkontribusi untuk mencegah bahaya kelaparan yang menunggu miliaran orang di dunia,” kata Presiden Turki itu.

Erdogan juga mengatakan kesepakatan telah dibuat pada semua proses mulai dari keberangkatan kapal hingga perjalanan yang aman serta kedatangan di pelabuhan tujuan. “Pelaksanaan dan pengawasan dari rencana yang sangat penting ini akan dilakukan oleh pusat koordinasi bersama yang akan didirikan di Istanbul,” ungkap Erdogan.

Kesuksesan diplomasi Turki

Tentu keberhasilan Turki dalam memediasi Ukraina dan Rusia adalah hasil dari jerih payah Ankara yang tampil sebagai aktor global untuk meredakan perang antara Moskow dan Kyiv.  Berkat usahanya, peran diplomasi Turki melahirkan banyak pujian oleh dunia internasional karena telah berkontribusi menghindari krisisi pangan global.

AS menyebut kesepakatan gandum Ukraina sebagai langkah positif dan berterima kasih kepada Presiden Erdogan dan Sekjen PBB Antonio Guterres atas upaya mereka. Sedangkan, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell juga menyambut baik upaya Turki dan PBB yang memediasi kesepakatan itu.

Sementara itu, Uni Afrika memuji kesepakatan penting antara Ukraina dan Rusia yang ditengahi Turki yang memungkinkan Kyiv melanjutkan ekspor gandum melalui Laut Hitam.
 
Seperti diketahui, pertanian Ukraina adalah sumber utama biji-bijian untuk pasar dunia, khususnya di Timur Tengah dan Afrika, di mana persediaan makanan sangat terbatas. Harga sereal di benua termiskin di dunia itu melonjak karena kemerosotan ekspor dan  mempertajam dampak konflik yang dapat memicu kerusuhan sosial.

Tiga faktor kesuksesan

Setidaknya ada tiga faktor di balik kesuksesan Turki dalam perjanjian gandum Ukraina-Rusia. 

Pertama, kepemimpinan yang kuat. Erdogan merupapakan pemimpin yang sangat concern membangun perdamaian global dan kawasan. Sejak perang meletus pada 24 Februari, Erdogan sangat aktif menjalin komunikasi dengan para pemimpin global.

Akhirnya pada 10 Maret 2022, pertemuan tripatrit antara Rusia, Ukraina, dan Turki berlangsung di Antalya. Pertemuan tripatrit antara menteri luar negeri masing-masing menjadi meeting tingkat tinggi pertama yang terjadi setelah perang.
 
Perlu dicatat, Erdogan mengadakan kontak dan pertemuan dengan 30 pemimpin negara atau pemerintah pada minggu pertama perang. Diplomasi marathon ini yang membuat moskow dan Kyiv sangat mempercayai Ankara sebagai juru runding Ketika perwakilan Rusia dan Ukraina berkumpul satu meja di Istanbul lalu Presiden Erdogan memasuki ruangan, mereka semua memberi tepuk tangan meriah. Proses ini sedang berlangsung dan akan terus berlanjut.

Kedua, posisi independen Turki. Meski anggota NATO, Turki termasuk negara yang tidak ingin terjebak pada polarisasi dukungan dalam perang. Sebagai negara yang gigih meredakan ketegangan, Turki sejak awal sudah menawarkan kepada Presiden Vladimir Putin dan Presiden Zelenskyy sebagai tuan rumah negosiasi.

Burhanettin Duran, sarjana politik Turki sekaligus ahli hubungan internasional lembaga think tank SETA, mengatakan koridor gandum bisa dibuka karena Turki menjalin kepercayaan dengan Ukraina dan Rusia untuk terlibat dalam negosiasi. Turki tidak mendapatkan kepercayaan Kyiv dan Moskow secara gratis dan kebetulan. Inisiatif tersebut merupakan produk dari kebijakan Turki terhadap kedua negara, sebelum dan selama perang.

Selain itu, kesepakatan tercapai berkat upaya diplomatik Erdogan dalam merespons persaingan kekuatan besar, yang memperoleh momentum di tengah transisi global ke multipolarisme.

Ketiga, Turki telah menjadi aktof resolusi konflik regional dan global. Negara ini hadir pedamaian global dari mulai Palestina, Suriah, Mesir, Azerbaijan. Bahkan Turki berkontribusi dalam perjanjian damai antara Pemerintah Filipina dan Bangsamoro.

Mereka juga menyambangi negara-negara miskin di Afrika untuk berperan serta dalam pembangunan. Turki memiliki kemitraan yang berkembang pesat dengan negara-negara Afrika karena hubungannya dengan benua itu didasarkan pada sikap saling menghormati.

Pengamat politik Turki Yusuf Kaplan menyampaikan Presiden Erdogan mengadakan pertemuan berturut-turut dengan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara bersamaan. Ini sulit dilakukan dalam keadaan seperti ini dan situasi global yang tengah kacau akibat pandemik dan perag. Namun Turki sukses bertindak sebagai mediator.

Turki, kata Kaplan, juga menjadi negara pusat yang muncul selama pertemuan NATO ketika Ankara mencegah Swedia dan Finlandia menjadi anggota NATO karena kedua negara tersebut membantu dan bersekongkol dengan organisasi teroris PKK. “Semua mata tertuju pada kami,” ucap Kaplan.

Ankara juga membangun hubungan dengan China yang memainkan peran dalam mencegah penindasan Beijing terhadap komunitas Uighur di Turkestan Timur. China sangat membutuhkan Turki, dan kebutuhan ini akan semakin meningkat pada periode mendatang.

Dengan langkah-langkah strategis yang dilakukannya, Turki saat ini adalah salah satu dari sedikit negara yang dapat naik ke posisi negara sentral dan mengubah jalannya sejarah.