Cerita Joko sama Luhut bareng-bareng pergi ke Borobudur.... Ini Yang Terjadi

Hikayat Cuan

Tahun 2075, Agus, Joko sama Luhut bareng-bareng pergi ke Borobudur.

Sampai di loket depan, mereka disuruh bayar karcis dong. Rp 50.000. Baiklah, masih murah. Agus, Joko dan Luhut, punya duitnya. Bayar.

Terus masuk. Foto-foto di halaman, foto-foto di taman, dll. Akhirnya tiba di anak tangga menuju candi Borobudurnya. Ada petugas jaga di sana.

"Mau naik? Boleh. Bayar Rp 750.000"

Agus dan Luhut, karena dia punya uang, bayar dong. Bisa naik. Mereka punya toko sukses soalnya. Joko? Dia itu buruh, di provinsi yg UMP-nya cuma 2 jutaan. Tdk punya uang. Kasihan.

Selintas lalu, itu simpel hanyalah bisnis wisata murni, bukan? Normal2 saja. Masuk akal. Apalagi, saat argumennya: Borobudur sudah lapuk, nanti kalau banyak yg naik, roboh.

Tapi, ssst, itu kejam sekali.

Itu sama kayak jaman: kamu kulit putih bisa naik, kamu kulit hitam, tidak boleh. Itu diskriminatif gilak! Tapi dengan cara modern. Apa? Lewat uang.

Agus, Luhut, dia bisa foto2, tertawa lebar di atas candinya, keren banget, karena dia punya uang. Joko! Dia tidak bisa, hanya nelangsa lihat temannya di atas sana, karena dia tidak punya uang.

Kalau Borobudur itu punya pribadi. Boleh. Sah2 saja. Tapi karena Borobudur itu punya rakyat se Indonesia. Diskriminasi begini sangat kejam.

Dan kembali ke argumen tentang Borobudur lapuk. Maka, jika memang khawatir Borobudur ini bakal rusak, maka yang kamu lakukan, kamu tutup saja area tsb. Biar adil. Semua kena. Toh, kamu sendiri yg bilang nanti rusak. Tidak perlu sok peduli, sok gaya kalau tiket pelajar Rp 5000. Itu kontradiktif loh. Katanya biar lestari, kok tiket versi murah masih ada? Dibatasi, biar lestari, tapi kamu promosi wisata terus.

Kita itu tidak pernah belajar dari PCR, antigen yg dibisniskan. Saat rakyat 'dipalak' oleh negara lewat regulasi. Dipaksa semua orang. Baiklah, alasannya pandemi. Demi keselamatan, dll. Tapi di LN, saat kamu maksa begitu dgn regulasi, mereka kasih solusi buat rakyatnya: test gratis.

Tapi baiklah, silahkan lanjutkan.

Besok2, kalian bikin aturan baru deh. Untuk tiba di stupa paling atas, bukan hanya harus bayar Rp 7,5 juta, tapi yg naik haruslah ganteng2 dan cantik2. Kasihan Borobudur mau ambruk, jadi harus dibatasi. Hanya orang ganteng dan cantik sj yg bisa naik.

Kali ini, bahkan Agus dan Luhut boleh jadi tidak layak naik.

Demikianlah hikayat cuan tahun 2075.

(By Tere Liye)

*fb