WADAS POLITIK

WADAS POLITIK

Oleh: Made Supriatma (wartawan senior)*

Tadi sekelebatan muncul pertanyaan di pikiran saya, apa konsekuensi Wadas untuk Ganjar Pranowo? Seperti yang Sodara ketahui, selain sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar adalah seorang aspiran calon presiden. 

Desa Wadas berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Ganjar sendiri adalah peneken SK Gubernur No. 509/41/2018 yang menetapkan Desa Wadas adalah bagian dari wilayah  penambangan batuan andesit yang akan dipakai untuk membangun Bendungan Bener, Kabupaten Purworejo. 

Sebanyak 114 hektar tanah di Desa Wadas akan ditambang. Ini adalah seperempat dari wilayah desa.  

Karena SK ini, Gubernur Ganjar Pranowo digugat oleh warga Desa Wadas. Namun pada Agustus 2021, PTUN Semarang menolak gugatan warga tersebut. Akhirnya warga mengajukan kasasi. Pada 29 November 2021, Mahkamah Agung menguatkan keputusan PTUN Semarang. Gugatan warga ditolak. 

Setelah beberapa kali terjadi provokasi, terjadilah insiden 8 Februari kemarin. Ratusan polisi dikerahkan untuk "mengamankan" pengukuran tanah oleh BPN. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menentukan kompensasi (ganti untung, istilah pemerintah sekarang) yang akan diperoleh warga. 

Namun 'pengamanan' itu berlangsung berlebihan. Sebagaimana lazim terjadi, ratusan aparat keamanan itu tidak memberikan perlindungan keamanan pada petugas BPN. Alih-alih, mereka menyerang warga dan para aktivis yang menolak penambangan batu andesit itu. Beberapa video yang saya tonton memperlihatkan aparat-aparat yang melakukan kekerasan fisik. 64 orang ditahan di kantor polisi. 

Wadas segera menjadi kontroversi. Komentar muncul dari para petinggi dan dari masyarakat. Tentu, para buzzer bergerak membela yang membayar mereka. 

Para menteri pemerintahan Jokowi buka suara. Kantor Staf Presiden (KSP) turun ke lapangan. Staf-staf KSP bertemu warga dan berjanji akan melaporkan persoalan ini langsung ke Presiden. Agak aneh memang karena Bendungan Bener adalah proyek strategis nasional -- yang tanggungjawabnya ada di tangan pemerintah pusat. 

Dan, disinilah Ganjar Pranowo muncul. Dia menjadi tokoh sentral dalam insiden Wadas ini. Memang dia adalah yang meneken SK Gubernur itu. Saya ragu, apakah Ganjar juga yang membuat keputusan untuk mengerahkan pasukan?

Dilihat dari media, seolah-olah Ganjar yang paling bertanggungjawab atas kasus Wadas ini. Dia langsung melakukan "damage control" untuk mengantisipasi efek buruk yang mungkin akan berimbas pada peruntungannya menjadi calon presiden. 

Dan, pemerintah pusat lewat Kementerian PUPR dan semua agensi yang menangani proyek Waduk Bener dan penambangan batu andesit di Wadas ini? Mereka semua absen. 

Saya agak tidak mengerti mengapa Ganjar Pranowo terjun menjadi tokoh utama dari kontroversi ini. Apakah Wadas adalah insiden yang dipakai untuk menggoyang reputasinya? 

Sebagai orang yang mengamati politik Indonesia, sulit bagi saya untuk tidak menghubungkan ini dengan politik pemilihan presiden. Ganjar adalah salah satu 'front-runner' dalam pencapresan di 2024. Dia selalu berada dalam tiga besar bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. 

Jika Pilpres 2019  bisa dijadikan acuan, maka Ganjar berada dalam lapangan yang sudah sesak. Dalam pandangan saya, elektorat pada 2019 terbelah menjadia dua bagian besar yaitu kelompok Islam dan nasionalis. Ada juga yang posisinya diantara kedua kubu. Namun pada umumnya para elektorat pada 2019 berada pada 'binary opposition'.

Kubu nasionalis jelas lebih penuh sesak. Selain Ganjar, disana ada Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Puan Maharani, dan lain sebagainya. Diantara orang-orang ini, Ganjar tidak mengontrol satu partai. Dia memang anggota loyal dari PDIP namun dia sama sekali tidak memegang kontrol atas partai ini. 

Ganjar sepertinya akan meniru Jokowi -- tidak berpartai, namun sangat jago dalam hal politicking, membagi-bagi kue kekuasaan di kalangan para elit, dan membangun aliansi. Apakah Ganjar memiliki kapasitas seperti yang dimiliki Jokowi itu? Hingga saat ini saya belum melihatnya. 

Namun dia akan bersaing dengan banyak politisi lain di lapangan nasionalis. Salah satunya adalah Prabowo Subianto. Jika Prabowo maju lagi sebagai capres, kubu nasionalis adalah satu-satunya harapan dia. Sulit untuk dia kembali merengkuh elektorat 2019 -- dimana dia dianggap sebagai pemimpin koalisi nasionalis Gerindra dengan kelompok-kelompok Islam modernis. Untuk bisa menjadi calon nasionalis, Prabowo akan tergantung pada belas kasihan PDIP dan Golkar. 

Sebaliknya di kubu Islam saat ini sunyi senyap. Kelompok elektorat ini praktis hanya memiliki satu calon presiden yang menonjol: Anies Baswedan. Dia adalah politisi kontroversial. Para pendukung presiden Jokowi dan mantan gubernur DKI yang dia kalahkan, Basuki Tjahaja Purnama (BTP), sangat bergairah untuk membencinya (love to hate him).

Dia politisi yang paling banyak dikutuk, dimaki, dan ditertawai di media sosial -- khususnya dari pendukung Jokowi dan BTP.  Namun, seringkali tidak disadari bahwa seorang politisi itu seperti tai di selokan. Semakin deras arus dibawahnya, semakin ia mengapung. (Maaf atas perumpamaan yang kurang ajar ini).   

Anies adalah satu-satunya harapan dari kelompok Islam. Dan juga mungkin suatu saat menjadi alternatif untuk kelompok-kelompok yang saat ini independen dan tidak bersimpati pada rejim ini. 

Saya membayangkan, kalau capres-capres yang nanti berhadapan adalah Anies Baswedan vs. Prabowo Subianto maka sulit bagi Prabowo menandingi Anies. Ini dengan asumsi bahwa Prabowo memiliki beban yang lebih berat ketimbang Anies. 

Saya masih meragukan bahwa Ganjar Pranowo pun tidak akan mampu bertarung melawan Anies. Dalam hal partai, posisi Anies hampir sama dengan Ganjar. Dia tidak berpartai. 

Dua minggu lalu, Anies ke Yogyakarta. Dan itu cukup membuat macet kota ini. Alasan dia ke Yogya padahal kasus Covid-19 di Jakarta sedang melonjak naik? Berpidato di Musyawarah Kerja Wilayah PPP Yogyakarta! Anda tahu, PPP adalah partai gurem yang bergabung dalam koalisi mendukung pemerintahan Jokowi. 

Melihat antusiasme massa dan melihat bagaimana secara lokal massa partai Islam ini menyambut Anies, saya cukup yakin bahwa Anies sangat punya peluang di 2024. 

Sementara di kubu nasionalis cukup terpecah belah. Antusiasme elektorat biasanya akan menurun jika calon yang mereka gadang-gadang tidak naik. Ini jelas akan menguntungkan Anies. 

Lalu, siapakah yang mampu menghentikan Anies jika ini terjadi? Untuk saya, politisi satu-satunya yang bisa menghentikan laju Anies Baswedan adalah seorang politisi bernama Ir. H. Joko Widodo. 

Kembali ke Wadas, apakah ini adalah jebakan untuk Ganjar supaya tersingkir dari arena percapresan? Saya tidak tahu. Hanya saja, saya heran, mengapa Ganjar menjadi sangat reaktif terhadap sesuatu yang bukan tanggungjawabnya. Bahkan SK yang dia keluarkan pun sudah dua kali digugat dan dia menang. 

Sodara tentu bisa melihat sendiri siapa yang menjadi semakin mengkilap dalam insiden Wadas ini. 

Catatan: Tulisan ini bukan tulisan ilmiah dan sangat spekulatif. Saya lebih banyak menggunakan imajinasi saya. Jadi jangan anggap ini sebagai analisis atau sejenisnya. Ngoten nggih? ... :P

____
*sumber: fb penulis