"ISLAM RAMAH" Versi Mereka Memang Palsu

"ISLAM RAMAH"

Konsep "Islam Ramah" sepertinya cukup ambigu. Islam memang mengajarkan sikap ramah dan santun, atau ihsan, kepada keluarga, tetangga, dan manusia secara umum, muslim maupun non-muslim. Islam tidak mengajarkan sikap beringas, hantam sana, hantam sini, hanya karena perbedaan yang tidak signifikan.

Islam menghargai perbedaan, karena itu muncul ungkapan yang masyhur "Ikhtilaafu ummati rahmah" (perbedaan umatku adalah rahmat), bahkan ada kitab fiqih yang berjudul "Rahmatul Ummah fi (i)Khtilafil Aimmah".

Namun, keramahan Islam ini tidak berarti menafikan konsep yang juga penting dalam Islam, yaitu NAHI MUNKAR. Islam yang ramah, tidak berarti membiarkan kemungkaran merajalela. Dalam tataran praktis, ulama hanya berbeda pendapat tentang cara menghilangkan suatu kemunkaran (melihat situasi dan kondisi), namun mereka sepakat NAHI MUNKAR adalah kewajiban.

Keramahan Islam tidak membuat Islam dan umat Islam harus menjadi keset bagi peradaban dan pemikiran di luar Islam. Islam dan umat Islam itu mulia dan tinggi. Ia harus memimpin peradaban, bukan malah menjadi pengekor peradaban lain.

Jadi, jika ada yang beranggapan Islam ramah itu adalah Islam yang ramah dan toleran terhadap kemaksiatan dan kesesatan. Islam yang tetap tersenyum manis dan ridha terhadap kemunkaran. Maka ini bukanlah ajaran Islam.

Di sisi yang lain, sayangnya sebagian pengusung "Islam Ramah" tak benar-benar ramah. Ia kadang menampilkan wajah beringas kepada sesama muslim, yang tak sesuai dengan alur pikirannya. Ia kadang tak toleran terhadap perbedaan pendapat. Bahkan, kadang seorang ulama, bahkan habib (yang sebenarnya sangat dimuliakan di kalangan tradisionalis) mereka ejek dan umpat, hanya karena berbeda dengan mereka. Inikah keramahan Islam yang mereka maksud?

Kita sudah lama tahu, "Islam ramah" versi mereka itu palsu.

(Muhammad Abduh Negara)