DERITA DISWAY

DERITA DISWAY

Oleh: Joko Intarto

Mengelola website itu mengasyikkan. Walau pun sebenarnya penuh penderitaan. Apalagi mengurus website Disway. Inilah artikel kedua yang saya tulis khusus untuk Disway yang sedang berulang tahun keempat.

Dua kali server Disway bermasalah pada minggu pertama membuat Pak Dahlan Iskan ngambek. Ia mengancam tidak akan menulis artikel kisah operasi aortanya di Singapura yang bersambung itu. 

Padahal ia berjanji menulis hingga 30 seri. Yang 10 artikel sudah saya edit. Tinggal menaikkan sesuai jadwal. Pembacanya juga sudah banyak. Saya lihat di dashboard website saat itu, jumlah pelanggannya lebih dari 200 ribu orang.

Menurut saya pertumbuhan jumlah pembaca Disway cukup cepat mengingat informasi tentang website itu hanya dipromosikan melalui Twitter. Tapi, jangan salah, yang dipakai adalah akun  Pak Dahlan. Sebelum lenyap oleh ulah hacker. Followernya sudah lebih dari 2 juta orang. Saat itu.

Bisa dibayangkan, betapa ributnya pembaca Disway kalau Pak Dahlan benar-benar ngambek. Dua ratus ribu orang lebih bakal menyerbu nomor kontak pengelola alias nomor telepon dan email saya. ‘’Saya ndak mau tahu. Pokoknya saya tidak mau menulis lagi kalau server bolak-balik bermasalah,’’ katanya dengan nada ketus. 

Sebagai mantan karyawan Pak Dahlan selama 20 tahun, saya tahu apa yang harus saya lakukan: 
1. Tidak membantah. 
2. Tidak ngeles dengan mencari-cari alasan. 
3. Berikan solusi yang masuk akal dan bisa dilaksanakan secepatnya.

Tumbangnya server pertama itu memang salah saya. Benar-benar salah prediksi. Saya terlalu PD: Meski penulisnya Pak Dahlan, Disway itu tidak lebih dari media online sekelas Blog. 

Penulisnya hanya satu orang. Update kontennya pun hanya satu berita per hari. Sehebat-hebatnya Blog, berapa banyak sih yang akan membaca bersamaan?

Maka tawaran paket pembelian domain dengan bonus server gratisan itu saya pilih. Nanti kalau pembaca sudah banyak, barulah pindah server dengan kapasitas lebih besar.

Saya tengah mendengkur ketika server itu down kali pertama. Saya teridur pukul 09:00 setelah memastikan konten pertama tayang di website itu. Umur tidak bisa bohong. Begadang dua hari dua malam membuat badan saya terasa remuk. 

‘’Kenapa Disway tidak bisa diakses? Banyak pembaca komplain,’’ kata Pak Dahlan dengan nada keras.

Saya belum sempat menjawab. Pak Dahlan sudah menutup teleponnya. Saya lihat jarum jam menunjukkan angka 09:30. 

Berarti website Disway hanya berhasil online 30 menit saja! Pantas saja Pak Dahlan ngamuk…..

Beberapa screen shoot dari handphone Pak Dahlan diforward ke handphone saya. Busyet…. Dari artis top, pengusaha kakap, politisi dan pejabat penting. Semua komplain.

Dengan mata setengah merem, saya kontak Mas Nawie. Rupanya ia pun sama saja. Ngorok. Telepon Mas Gepeng. Idem ditto. 

Tiba-tiba Mas Zaini menelepon. Ia menyampaikan kabar buruk: Dimarahi Pak Dahlan gara-gara server down dan Pak Dahlan mengancam tidak mau menulis lagi.

Waduh. Benar-benar serius nih.

Selepas dzuhur Mas Nawie merespon. ‘’Saya pindahkan ke server Swin sekarang juga. Sharing dengan klien lainnya,’’ katanya.

Swin adalah nama server yang dikelola perusahaan Mas Nawie: Sewiwi Indonesia.

Menjelang ashar, persoalan server beres. Tapi Pak Dahlan masih marah-marah. Karena komplain pembaca tidak kunjung reda. Malah tambah banyak saja.

Mereka mengeluh karena setiap kali mengakses, browser selalu mengarahkan ke domain di server lama. Padahal Pak Dahlan sudah menjawab kalau server telah dipindah ke server baru. ‘’Chache-nya dihapus dulu Pak,’’ jawab saya.

‘’Ndak tahu apa itu chache. Pokoknya selesaikan segera atau saya stop menulis,’’ kata Pak Dahlan.

Dengan berbagai kerepotannya, malam itu jumlah complain berkurang. 

Tetapi ketenangan itu hanya bertahan tiga hari. Memasuki hari keempat, Pak Dahlan ngamuk lagi. Kali ini karena waktu untuk mengakses Disway sangat lambat. Ukuran kenyamanan akses konten berita, menurut survei, maksimal 8 detik. Mengakses Disway butuh hingga 30 detik. 

Kondisi itu terjadi pada pukul 04:30 hingga pukul 07:00. Rupanya, para pembaca sudah menunggu sejak 30 menit sebelum jadwal upload dan terus berdatangan hingga dua jam kemudian. 

Trafik akses data itu terpola sampai hari ini. Pembaca seperti tak sabar menunggu munculnya berita terbaru Disway. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi penulis komentar pertama. Begitu bangganya mereka kalau bisa menulis: Pertamax atau Keduax dan Ketigax….

Yang komplain soal kelambatan waktu akses tidak hanya Pak Dahlan dan para pembaca Disway. Penyewa server Swin pun protes. Apalagi, ada penyewa yang memerlukan kecepatan akses untuk transaksi perdagangan online.

Sebenarnya Mas Nawie sudah punya scenario: Akan memindahkan Disway ke server khusus. Dedicated server. Tetapi unit server itu harus disetup dulu. Diinstal dulu. Proses itu normalnya memerlukan waktu tiga hingga empat hari.

Karena tidak tahan dikomplain sana-sini, Mas Nawie mempercepat pemindahan Disway ke server baru, malam itu juga. 

Selesai masalah? Tidak juga. Lagi-lagi Pak Dahlan komplain karena banyak pembaca gagal mengakses. Browsernya selalu mengarah ke server sebelumnya. ‘’Chache Pak Boss, rekaman akses sebelumnya tolong dihapus dulu,’’ jawab saya.

Disway akhirnya bermukim di server ketiga selama satu tahun. Di rumah baru ini, Pak Dahlan tidak pernah ngomel lagi. Apalagi setelah tahu jumlah pengaksesnya sudah mencapai lebih dari sejuta orang. ‘’Berarti jumlah pelanggan Disway sudah lebih besar dari pembaca seluruh koran Jawa Pos Group,’’ kata Pak Dahlan dengan berseri-seri.

‘’Masih mau mogok menulis Abah?’’ tanya saya sekedar menggoda. 

‘’Hehehe…’’ jawabnya.

Begitulah kesulitan terbesar saya dan kawan-kawan mengelola Disway pada masa awal. Wartawannya hanya satu: Pak Dahlan sendirian. Kalau sampai ngambek beneran, tamatlah Disway.(jto)