NABI, ABU DZAR DAN POLITIK

NABI, ABU DZAR DAN POLITIK

Nabi Saw pernah mengabarkan kepada Abu Dzar, sahabat paling jujur, pemberani dan tanpa tedeng aling-aling, tentang kemelut politik sepeninggal Nabi. Akan muncul penguasa-penguasa yang zalim. Bakal terjadi bahwa menyampaikan kebenaran bukan saja pahit tapi dimusuhi dan seperti dosa. 

Membayangkan suasana zaman begitu, Abu Dzar yang geram, bertanya pada Nabi, "Ya Rasulullah, mengapa tidak kau berikan jabatan kepadaku." Betapa ingin ia memberantas zaman gila itu.

Rasulullah menepuk bahuku, tutur Abu Dzar, dan berkata, "Wahai Abu Dzar, engkau lemah. Jabatan itu amanah. Di hari kiamat, ia akan jadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang yang mengambil dan melaksanakan dengan hak."

Bila diterjemahkan ke masa kini, apakah makna lemah, kehinaan dan penyesalan di hari kiamat dalam ucapan Nabi itu? Itulah yang dibanggakan orang zaman sekarang sebagai berpolitik dan menjadi pejabat dari hasil lobi-lobi politik yang tak ada misinya menegakkan kebenaran sama sekali selain membangun karir pribadi.

(Dr. Moeflich H. Hart)