Menggali Akar ARABPHOBIA di NUSANTARA

Menggali Akar ARABPHOBIA di NUSANTARA

Saya tertarik untuk menggali sedikit lebih dalam munculnya perilaku "Arabphobia" yang semakin marak sejak rezim Pak Jokowi.

Biasanya sikap atau kebencian terhadap yang berbau Arab ini walaupun dilakukan dengan terang-terangan, tapi para Pelakunya selalu tidak percaya diri. Makanya kebencian itu selalu mereka balut dengan Nasionalisme dangkal yang menggelikan. 

Misalnya mereka para Arabphobia ini menentang Pakaian Hijab yang dituduh Baju atau "budaya Arab" dan disisi lain memuja-muji Baju Kebaya sebagai identitas Nusantara.

Sudah lihat, betapa dangkalnya cara berpikir mereka?

Pertama, Orang Arab belum tentu semua berhijab. Apalagi Arab Non Muslim. Misalnya di Lebanon. Gaya berpakaian orang Arab disana malah lebih cenderung mirip orang Barat.

Apalagi kalau kita berbicara Busana orang Arab sebelum Islam datang. 

Kedua. Sikap membanding-bandingkan Hijab dengan Kebaya juga semakin salah. Karena Berkebaya dengan konsep berhijab apalagi disandingkan dengan Jilbab itu sudah umum. 

Cuma selama ini yang mereka munculkan adalah Kebaya versi tanpa Jilbab. 

Jadi kalau mau ditarik kesimpulan, sebenarnya para Islamphobia itu bukan Anti Arab. Tapi anti terhadap Islam. Khususnya Anti Syariat.

Kalau kita berbicara secara umum saja. Jangankan yang mengaku Umat Islam, non Muslim saja asal masih beridentitas sebagai Bangsa Indonesia, tidak wajar dan menurut saya termasuk kurang ajar kalau membenci Arab.

Pertama, siapa yang menjajah Negeri ini?

Spanyol, Portugis, Prancis, Inggris, Belanda, dan Jepang. 

Apakah nama-nama di atas ada terselip satu nama Negara dari Arab? Tidak ada!

Karena yang menjajah bangsa kita adalah Bangsa-bangsa Eropa dan Jepang. 

Beratus tahun kekayaan bangsa kita diangkut dan diambil oleh Orang-orang Barat. Beratus tahun bangsa kita diperkuli dan dijadikan hamba sahaya oleh Orang Barat di negeri kita sendiri.

Jadi kenapa mereka malah membenci Arab dan diam-diam memuja Barat?

Dasar keturunan Kuli Belanda!

Kedua, proses Perjuangan Kemerdekaan kita tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan orang-orang Arab yang sudah menjadi orang Indonesia.

Kalau kita misalnya memasukkan Arab sebagai kelompok Suku di Negeri ini, terus memasukkan kelompok atau etnis pendatang lain seperti etnis Tionghoa, India dan Eropa sebagai suku juga, maka dari Suku Arab paling banyak yang menjadi Pahlawan Nasional di Negara kita. Bahkan andai dimasukkan juga suku-suku Pribumi. 

Saya tetap yakin Suku Arab adalah suku terbesar ketiga sebagai Penyumbang Pahlawan Nasional setelah Suku Jawa dan Suku Minang!

Salah satu nama Pahlawan Nasional itu adalah AR Baswedan. Kakek Anies Baswedan yang berkali-kali diusir Ferdinand Hutahaean pulang ke Yaman. 

Pertanyaannya: "Fer, Kakekmu Pahlawan Nasional atau minimal ikut berjuang dan memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia juga kah?"

Ketiga, setelah Kemerdekaan. Negara-negara Arab adalah yang pertama kali mengakui sekaligus menyumbang untuk Kemerdekaan kita.

Negara-negara Arab beramai-ramai mendukung kelahiran sebuah Bangsa yang sudah ratusan bahkan berabad dijajah oleh Bangsa Eropa.

Lucunya, sekarang Eropa dipuja, Arabnya dihina. Pakai alasan Nasionalis dan merasa paling Nusantara. 

Pada Logika paling ngawur sekalipun saya tidak menemukan pembenaran kedunguan para Arabphobia yang seringkali mengaku-ngaku paling NKRI ini.

Sekali lagi, kalau mau ditarik kesimpulan, maka sebenarnya para Islamphobia itu bukan Anti Arab. Tapi anti terhadap Islam. Khususnya Anti Syariat.

Sekarang pertanyaan Pentingnya:

Mengapa banyak Umat Islam sendiri, bahkan seringkali namanya saja berbau Arab, memposisikan dirinya sebagai Arabphobia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menggali sangat dalam. Kita harus kembali ke masa-masa kemunculan sentimen Anti Arab tersebut.

Pertama adalah pada masa berakhirnya Kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Dimana sebagian besar Kerajaan-kerajaan tersebut berubah menjadi Kerajaan Islam. Proses Islamisasi Nusantara yang walaupun berlangsung secara damai, tapi tetap saja tidak bisa diterima oleh sebagian yang masih berpegang teguh kepada agama lamanya. Mereka-mereka ini menyimpan ketidak sukaan kepada Orang-orang Arab yang membawa Islam ke Nusantara.

Kedua pada masa Penjajahan Eropa. 

Dimasa tersebut, Penjajah Eropa, atau kita contohkan saja Belanda (karena paling lama menjajah Indonesia) merasa kalau Islam, khususnya Orang-orang Arab akan menjadi batu sandungan bagi mereka. Nasionalisme khususnya Persaudaraan dan Persatuan Sesama Orang Islam sangat menakutkan bagi Penjajah. Karena  Belanda mampu menjajah Indonesia dengan cara memecah-belah antara suku di Nusantara.

Di dalam Islam, semua manusia sama derajatnya. Sedangkan Belanda sebagai Penjajah sedang mendoktrin bangsa jajahan mereka sebagai budak.

Jadi tidak salah kalau para Kelompok Arabphobia ini adalah keturunan para Pendoktrin atau malah Budak Belanda yang sudah terdoktrin tujuh turunan.

Ketiga, pada masa Pemberontakan PKI.

Kalau berkaca pada sejarah, proses pembusukan dan kebencian kepada Arab secara terang-terangan, khususnya dari yang beragama Islam sendiri (minimal secara pengakuan) adalah pada masa kejayaan PKI. Dimulai dari pecahnya Syarikat Islam atau SI. Ada SI Putih (benar-benar menjalankan Islam) dan SI Merah (Islam KTP yang sudah disusupi Komunis).

Para Pentolan SI Merah ini lah yang kelak akan menjadi Gembong dan Tokoh dibalik terjadinya berkali-kali Pemberontakan PKI di Negeri ini.

Para Pentolan PKI seringkali mengaku-ngaku Muslim. Namanya juga nama-nama Arab. Tapi mereka sangat membenci semua yang berbau Arab. Karena menurut mereka, Arab (baca Islam) akan menjadi batu sandungan untuk tujuan mereka menjadikan Indonesia sebagai Negara Komunis.

Jadi kalau ditarik kesimpulannya. Ada tiga Kelompok yang sangat membenci Arab (Islam). 

Pertama adalah Kelompok yang merasa kejayaan mereka diakhir oleh munculnya bangsa Arab (Islam).

Kedua Kelompok Keturunan Penjajah Eropa. Keturunan ini bisa saja secara biologis, tapi bisa juga keturunan secara ideologis, atau sebut saja seagama dengan Penjajah.

Ketiga Kelompok keturunan PKI, baik secara biologis maupun ideologis. Dan menurut saya Kelompok ini paling berbahaya dan paling nyaring bersuara. Karena mereka seringkali juga mengaku-ngaku sebagai Muslim (di KTP-nya memang Islam). Bahkan namanya berbau Arab. 

Bisa saja namanya Aqil, Romli, Abdurrachman, dan lain-lain. 

Kelompok ketiga ini juga paling mudah menyusup kedalam Ormas Islam. Membusukkan Islam dari dalam. Misalnya mengaku Islam tapi Anti Syariat Islam. Mempertentangkan Islam dengan NKRI. Padahal NKRI diperjuangkan oleh Umat Islam. Diakui pertama kali oleh Negara-negara Islam (Arab).

Artinya, para Arabphobia ini adalah Kelompok-kelompok Pemecah-belah anak bangsa yang buta sejarah.

Kasih mereka ludah yang banyak....cuih...cuih...cuih...

(By Azwar Siregar)