Siapakah Sosok Wanita Muslimah Yang Ditampilkan Oleh Google Doodle?

[PORTAL-ISLAM.ID] Adakah yang penasaran siapakah wanita muslimah yang dipajang di Google Doodle kemarin?

Beliau adalah Roehana Koeddoes, seorang Pahlawan Nasional. Beliau adalah wartawati pertama Indonesia.

Google Doodle merupakan logo atau tampilan yang diberikan Google pada beranda halaman pencarian untuk merayakan hari libur, hari besar, atau mengenang tokoh atau sosok penting seperti Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus, muslimah yang lahir di Koto Gadang, Minangkabau 20 Desember 1884. 

Ruhana lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Roehana adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Dia juga sepupu KH Agus Salim. 

Roehana hidup pada zaman yang sama dengan RA Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Beliau mengajarkan kepada kita semuanya bahwa muslimah Nusantara adalah kekuatan besar yang sangat menentukan arah perjalanan bangsa. Ketika di masa-masa itu wanita banyak memperoleh ketidakadilan, Rohana tampil menjadi pionir jurnalis wanita pertama. 

Pandangan Rohana Pada Islam 

Di masa ketika wanita hanya dicukupkan dengan belajar shalat dan menghafal Al Qur'an, Rohana tidak mau berhenti di situ saja. Di tanah Minangkabau itulah Rohana mempelajari Tafsir, sekaligus mengajarkannya kepada murid-muridnya. Beliau murid dan guru di saat yang sama. Dalam prinsip hidup Rohana, agama adalah tiang dari segala ilmu sebelum yang lain. 

Kiprah Pertama

Awal kiprah keumatan Rohana dimulai dengan Sekolah Kerajinan Amai Setia (S-KAS) yang didirikannya pada 11 Februari 1911. Sekolah ini berperan besar terutama bagi perempuan karena kurikulumnya mengajarkan menulis, membaca, berhitung, ilmu agama, Bahasa Arab dan Bahasa Latin bagi kaum perempuan. 

Tak berhenti di situ, Rohana ingin menebar pula ide-ide perubahannya secara luas. 

Soenting Melajoe 

Itulah yang mengantarkan beliau untuk membuat surat kabar pada tahun 1912. Dengan judul "Soenting Melajoe” (Perempuan Melayu). 

Rohana Kuddus dibantu oleh Datuk Soetan Maharaja —redaksi Surat Kabar Oetoesan Melajoe— berusaha untuk mengkomunikasikan kepada publik tentang perlunya pembebasan wanita dari keterbelakangan. Lebih khusus lagi agar akses terhadap pendidikan harus dibuka bagi kaum Perempuan. 

Amar Ma'ruf Nahi Munkar 

Dalam perjalanannya, ternyata, Surat Kabar Soenting Melajoe yang berhaluan Islam pernah berselisih paham dengan Surat Kabar Soeara Perempuan yang berhaluan liberal. 

Rohana mengkritik mereka dalam tulisannya tanggal 23 April 1920 terhadap tulisan-tulisan surat kabar liberal itu yang menggambarkan kebablasan dalam mempraktikkan apa yang disebut sebagai kebebasan perempuan. Itulah amar makruf nahi mungkar dalam jurnalisme. 

Mendirikan Institusi "Rohana School"
 
Di tahun 1916, Rohana Kuddus pindah ke Bukittinggi dan mendirikan sekolah bernama "Rohana School". Beliau sendiri yang mengelola sekolahnya secara mandiri agar terhindar dari masalah yang tak diinginkan. 

Sekolah tersebut dengan cepat didatangi oleh murid-murid yang banyak karena memang popularitas Rohana Kuddus sudah tak diragukan lagi sebagai pemimpin Surat Kabar Soenting Melajoe-nya. 

Wafat

Beliau wafat pada 17 Agustus 1972. Oleh karena kiprah beliau dalam jagat jurnalistik, beliau digelari sebagai jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya.

Pahlawan Nasional

Pada tanggal 7 November 2019, Ruhana dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara.