Siapa Gubernur Jakarta Setelah Anies?

Siapa Gubernur Jakarta Setelah Anies?

Oleh: Tony Rosyid

Jabatan Anies sebagai gubernur Jakarta berakhir tanggal 16 Oktober 2022. Sekitar setahun lagi. Karena Pilgub baru akan ada tahun 2024, maka Jakarta dipegang oleh Pejabat pemerintahan. Bisa eselon 1, TNI atau Polri. 

Tidak hanya Jakarta, tapi ada 101 kepala daerah yang akan berakhir di tahun 2022 yang akan diisi oleh pejabat tersebut. Tahun berikutnya, yaitu 2023, ada 170 kepala daerah yang selesai periodenya dan akan diisi oleh pejabat pemerintahan. Total ada 271 kepala daerah yang kosong.

Pejabat yang akan duduk sebagai PJ kepala daerah akan ditunjuk oleh Mendagri. Tentu setelah koordinasi dan mendapat arahan dari presiden Jokowi. Apakah dengan 271 pejabat kepala daerah itu artinya presiden Jokowi masih punya kekuatan yang menentukan di pilpres 2024? Bisa iya, bisa tidak.

Lazimnya, presiden akan ditinggalkan oleh parpol jelang akhir jabatannya. Presiden akan segera dianggap masa lalu, dan parpol sibuk mencari kandidat yang akan menentukan nasibnya 5-10 tahun kedepan.

Tidak hanya parpol, institusi dan lembaga pemerintah yang suka main mata dan ikut-ikutan terlibat di politik praktis juga akan meninggalkan presiden dan lebih melirik calon potensial untuk menjadi presiden 2024-2029/2034.

Jika Anies nyapres 2024, maka DKI Jakarta akan menjadi ajang kompetitif yang menggairahkan. Layaknya ibu kota dengan anggaran 87 triliun dan pusat uang beredar, maka Jakarta memiliki magnet luar biasa. Belum lagi jika bicara capres. 

Siapa nama yang potensial nyagub? Ada Reza Patria. Wagub DKI ini punya peluang jika Gerindra mencalonkannya. Hanya saja, elektabilitas Reza Patria belum begitu terlihat. Mungkin karena belum ada sinyal dari Prabowo, Ketum partainya. 

Selain Reza Patria, ada Sandiaga Uno, Erick Tohir dan Risma. Nama-nama ini masuk dalam pantauan sejumlah survei yang tidak dipublish.

Jelang 2024, kemungkinan akan ada nama-nama baru yang muncul. Diantaranya dari PKS yang trend elektabilitas partainya terus naik.

PKS mesti belajar dari kekalahan Pilgub DKI 2007 dan 2012. Bahwa pertarungan di Pilgub itu bukan pertarungan partai, tapi pertarungan tokoh. Pertarungan para jagoan. PKS mesti membiasakan diri untuk memunculkan kader-kadernya agar jauh-jauh hari sudah dikenal dan diterima publik. Setidaknya, memberi kebebasan, bahkan mendorong para kader untuk muncul dan melakukan branding. Dari situ PKS bisa menghitung siapa diantara kader-kader itu yang diterima rakyat dan punya potensi menang.

Selain tokoh-tokoh di atas, nama Gibran, putra presiden Jokowi yang sekarang menjadi walikota Solo bisa saja muncul. Ini akan bergantung kepada pertama, kekuatan presiden Jokowi di 2024. Kedua, negosiasinya dengan PDIP. Singkatnya: apa yang ditawarkan presiden Jokowi kepada PDIP untuk mengambil tiket dari partai besutan Megawati ini? Dalam politik, tak ada yang gratis. 

Faktor lainnya adalah posisi Anies Baswedan. Jika Anies balik ke Jakarta, ini akan berat bagi semua calon kompetitor. Sebab, Anies dalam posisinya sebagai incumben sudah mengakar di DKI dengan semua prestasi dan para pendukungnya.

Bagi mereka yang ingin maju di Pilgub DKI, mereka gak ada pilihan kecuali mendorong Anies maju di Pilpres 2024. Termasuk Erick Tohir dan presiden Jokowi.

Jakarta, 2 Nopember 2021

*Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa