Harga Tes PCR Ternyata Bisa Hanya Rp 10.000 !!

Harga Tes PCR Ternyata Bisa Hanya Rp 10.000

Oleh: Aiman Witjaksono (Host & Produser Eksekutif Program AIMAN KompasTV)

BIAYA tes PCR gaduh. Selama pandemi, baya tes PCR turun empat kali. Semula Rp 2.500.000, turun jadi Rp 900.000, turun lagi Rp 500.000, dan terakhir Rp 300.000.

Saya menelusuri, ternyata dimungkinkan harganya hanya Rp 10.000. 

Pertanyaannya tentu saja kenapa harga di awal begitu mahal? Lalu, kenapa baru turun sekarang? Kenapa juga ada perbedaan signifikan dari negara-negara lain seperti India dan negara ASEAN yang sejak beberapa bulan lalu harganya lebih murah dari Rp 500.000.

Ada pula pertanyaan, berapa sih harga tes PCR sebenarnya?

Di antara seluk-beluk pertanyaan tersebut, muncul informasi yang diungkap pertama kali oleh majalah Tempo. Konglomerat, politisi, hingga pejabat ikut berbisnis laboratorium tes PCR.

Dua nama pejabat disebut: Menteri Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Luhut disebut terkait dengan tes PCR melalui afiliasi anak perusahaan miliknya, PT Toba Bumi Energi. Sementara itu, Erick Thohir lewat perusahaan milik kakak kandungnya, Garibaldi Thohir, yaitu Yayasan Kemanusiaan Adaro.

Keduanya telah membantah soal ini. Luhut mengklarifikasi melalui akun Instagram @Luhut.Pandjaitan. Ia mengatakan,

“Saya tidak pernah sedikit pun mengambil keuntungan pribadi dari bisnis yang dijalankan PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI).

Partisipasi yang diberikan melalui Toba Bumi Energi merupakan wujud bantuan yang diinisiasi oleh rekan-rekan saya dari Grup Indika, Adaro, Northstar, dan lain-lain untuk membantu penyediaan fasilitas tes COVID-19 dengan kapasitas yang besar.

Bantuan melalui perusahaan tersebut merupakan upaya keterbukaan yang dilakukan sejak awal.

Saya juga selalu mendorong agar harga tes PCR bisa diturunkan sehingga dapat terus menjangkau masyarakat yang membutuhkan.”

Sementara itu, Erick melalui Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyampaikan,

“Di Yayasan Kemanusiaan Adaro ini, Pak Erick Thohir sejak jadi menteri tidak aktif lagi di urusan bisnis dan yayasan seperti itu. Jadi sangat jauh lah dari keterlibatan atau dikaitkan dengan Pak Erick Thohir. Apalagi dikatakan main bisnis PCR. Jauh sekali,” ujar Arya kepada wartawan, pekan lalu.

Berapa sih harga PCR yang wajar?

Lepas dari polemik orang-orang yang terlibat dalam bisnis ini, sebenarnya berapa sih harga tes PCR yang wajar?

Saya mencoba mencari tahu langsung ke Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab). Saya menemui Sekjen Gakeslab Randy Teguh.

Ada informasi mengejutkan yang saya dapat. Randy menyebutkan, biaya tes PCR tidak terkait langsung dengan peralatan untuk tes PCR, seperti baju hazmat, batang pengambil sampel, dan sejumlah lainnya.

Biaya tes PCR terkait dengan mesin dan reagen. Mesin dan reagen ini seumpama printer dan tinta. Tidak bisa digunakan tanpa salah satunya. 

Harga mesin PCR mencapai ratusan juta rupiah. Bisa digunakan dalam jangka panjang. Sementara itu, harga reagen bervariasi: belasan, puluhan, hingga ratusan ribu rupiah di awal pandemi. Di awal pandemi harga reagen tinggi karena susah didapat. 

Lalu, berapa harga tes PCR sebenarnya? 

"Rp 10.000 pun bisa," jawab Randy.

"Lho, kenapa bisa semurah itu?" tanya saya lagi.

"Jika dilakukan kerja sama operasi, alias skema bisnis tertentu," terang Randy.

Kuncinya adalah pada efektivitas penggunaan mesin PCR. Jika mesin digunakan sendiri dan waktu operasionalnya terbatas, tentu pebisnis akan menaikkan harga untuk mengejar modal kembali. 

Namun, jika mesin bisa digunakan bersama dan waktu operasi bisa maksimal maka harga tes PCR bisa ditekan.

Oleh karena itu, perlu dicari model bisnis kolaboratif yang bisa memaksimalkan mesin-mesin PCR yang ada. 

PCR ini memang bisnis luar biasa besar. ICW dan Koalisi Masyarakat Sipil menghitung keuntungan dari bisnis PCR selama sekitar setahun terakhir pandemi mencapai lebih dari Rp 10 triliun.

Meskipun tak bisa dilepaskan dari aspek bisnis, PCR punya dimensi kepentingan publik dan kepentingan nasional. Oleh karena itu, harga paling murah perlu diupayakan. 

Saya Aiman Witjaksono.
Salam!

(Sumber: Kompas)

[VIDEO]